Tag Archive: farrel


Cahaya Hati I-3

Farrel sudah menguap mendengar cerita Erick tentang kisahnya bersama pacar terakhirnya. Erick langsung mendelik padanya. “Tega banget lu. Cerita seru begini malah nguap!”

“Ah, si bos mah sudah ada Mira yang seksi.”, tukas Denis sambil menelan ludah dengan mata menerawang nakal. Entah apa yang sedang dibayangkan si idiot satu ini. “Ya kan, Bos? Aduh!” Denis langsung menatap protes pada pemukul kepalanya, Lukman.

“Berisik banget sih lu berdua.”, tukas Lukman. “Sudah sana, belikan nasi Bu Gembrot. Gue nasi kuning. Lu apa, Rel?” Farrel menyebutkan pesanannya, diikuti Erick.

Denis pun menggerutu sambil menjentikkan jari memanggil anak kelas satu yang kelihatan polos dan melimpahkan tugas membeli makanan pada anak itu. Anak itu terbengong-bengong ketika Denis menyuruhnya begitu saja.

“Apa lagi?!”, decak Denis kesal.

“Umm.. U..uangnya, Bos Denis?”

“Urusan kecil digede-gedein! Pake aja duit lu! Udah, cepat pergi sana! Gak pake lama! Atau lu mau ngerasain ini?!”, bentak Denis sambil menunjukkan kepalan tinjunya. Anak itu langsung ketakutan dan langsung melesat pergi dan Denis pun tersenyum puas.

“Gara-gara semalam dugem ya?”, tanya Lukman pada Farrel. Farrel mengiyakan sambil menguap lagi.

“Sama siapa? Kok ga ngajak-ngajak?”, protes Erick sambil melirik Denis yang nampak cengar-cengir bangga. “Tega lu bertiga!”

“Lah, lu kan lagi asyik masyuk sama cewek baru lu.”

“Oh iya.”

“Kemarin gue juga sebenarnya malas.”, ujar Farrel sambil merebahkan kepalanya di meja.

“Tapi si gendut itu butuh pelajaran. Ada yang mergokin dia sering mangkal di kafe sebelah pub.”, sambung Denis berapi-api.

Erick langsung mengerti, Farrel memang bermasalah dengan seorang anak kelas tiga. Denis pun langsung nyerocos tentang betapa kuatnya Farrel sewaktu menghajar anak itu. “Habis itu kita langsung main ke sebelahnya sampai pagi.”

Farrel menguap lebar begitu makanan mereka datang. Anak kelas satu itu segera menyingkir setelah Denis mengusirnya.

“Makanya minum kopi, Rel.”, tukas Lukman tertawa. “Lu kelihatan mirip zombie, tahu gak?”

“Lu kan tahu, perut gue gak tahan sama kopi.”

“Tapi sama Martini tahan.”, gelak Erick.

Farrel tertawa sambil membuka kaleng minumannya dan di saat itu lah ia melihat Tasya datang bersama dengan anak baru itu. Perhatian langsung ke arah gadis itu. Semakin lama memperhatikannya, semakin Farrel yakin bahwa ia pernah melihat gadis itu sebelumnya tetapi ia memang tidak ingat dimana dan kapan. Ia pun memakan makanannya cepat-cepat hingga membuat teman-temannya heran.

“Lapar apa doyan, Rel?”

Tidak ditanggapinya omongan Erick, ia bangkit berdiri sambil mengisyaratkan teman-temannya ikut berdiri. Begitu melihat gadis baru itu, mereka pun menurut tanpa berkata apa-apa.

Seperti biasanya, berlaku istilah konyol Denis, ‘bila Farrel mendekat, maka korban memucat’. Farrel sebenarnya tidak begitu suka istilah itu, tetapi sering terbukti benar, khususnya di saat ini. Tiga orang teman sekelasnya yang bersama anak baru itu nampak sepucat tikus yang dipojokkan kucing, tetapi anak baru itu -dibandingkan pucat- lebih tepat bila memakai istilah bingung.

“Hei!” Farrel tanpa basa-basi. “Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”

“Hah?” Hanya itu yang terucap dari bibir gadis itu, selanjutnya bengong menatap Farrel sehingga membuatnya sebal.

“Ditanya malah bengong!”, bentak Farrel. “Punya otak gak sih…?”

“Saya tidak pernah bertemu denganmu sebelumnya.” Daripada menjawab, lebih tepat dibilang menyela. Gadis itu kini menatap Farrel dengan tegas. Yah, memang inilah yang sering dilakukan oleh orang yang tidak tahu reputasi dirinya sebagai penguasa sekolah. Tetapi dengan sedikit gertakan, ia biasanya bisa langsung mengendalikan situasi.

Denis langsung menjitak kepala gadis dengan kasar. “Heh! Nyolot banget sih lu! Gak bisa jawabnya baik-baik?”

Gadis itu kelihatan tidak suka dan hendak menepis tangan Denis, tetapi di saat itu lah Tasya langsung berdiri dan berkata dengan suara agak gugup. “Ah! A..aku baru ingat! Lita, kita kan belum keliling sekolah! Farrel, Denis, semuanya, maaf ya. Kami harus segera pergi. Tahu kan, salah satu tugas ketua kelas itu harus memperkenalkan sekolah ini kepada anak baru.” Tasya langsung menarik tangan anak baru itu dan berlalu dari situ. Begitu pula dengan Hestin dan Heri.

“Heh! Tunggu..!”

“Tidak usah. Biarkan saja mereka.” Farrel menahan Denis. Kemudian mereka menyadari seisi kantin sedang menonton kejadian kecil itu.

“Apa lihat-lihat!”, teriak Denis. “Mau ngerasain ini!” Ia mengacung-acungkan kepalan tinjunya lagi. Kontan serentak seisi kantin langsung menghentikan tatapan mereka dan melanjutkan apapun aktivitas mereka sebelumnya.

Lukman menatap Farrel sambil mendengus tertawa. “Dengar ga cara ngomongnya?”

“Formal tapi manis.” Erick masih menatap punggung Tasya dan anak baru itu yang sudah jauh. Entah apa yang dimaksud manis oleh Erick, cara bicaranya atau hal lain. “Jangan-jangan asalnya dari pelosok Sukabumi.”

“Kampungan! Belagu!”, desis Denis. “Bos, perlu dikasih pelajaran gak?”

Farrel tersenyum jahat. “Makanya gue bilang, gue lagi bosan.”

–ooo–

Lita menghempaskan dirinya di tempat tidurnya. Masih terngiang di telinganya apa yang dikatakan Tasya ketika mereka kabur dari kantin. Mereka memang tidak berkeliling sekolah karena waktu istirahat akan segera berakhir, tetapi Tasya menggunakan alasan itu untuk menghindari masalah dengan Farrel.

“Farrel itu bisa dibilang penguasa sekolah ini. Guru-guru saja takut sama dia.”

Pertanyaan Lita langsung terjawab seketika itu juga. Alasan mengapa Bu Sisca tidak menegur Farrel yang tidak memberi salam. “Mengapa bisa begitu?”

“Ayahnya Farrel itu yang punya yayasan sekolah ini. Makanya seberapa banyak pun ia buat masalah, ia tidak bakal dikeluarkan dan tidak bakal dihukum guru.” Tasya menoleh ke kanan dan ke kiri, kelihatan cemas. “Selain itu, geng mereka itu suka sekali menyiksa orang untuk bersenang-senang, membuat satu sekolah memusuhimu dan lebih parahnya lagi, mereka melakukannya dengan diam-diam sehingga tidak terdeteksi guru. Ya, tepatnya sih, guru-guru itu bukannya tidak tahu, tetapi mereka menutup mata karena mereka pandai menyembunyikan bukti.”

“Lalu mengapa kamu kelihatan seperti orang yang ketakutan, Tasya?”

Tasya menatap anak baru yang polos itu lurus-lurus. “Karena mata-mata mereka banyak, Lita. Dia bukan orang yang kau inginkan menjadi musuh.”

Lita terdiam sejenak. Rupanya hari pertamanya bukanlah awal yang baik. Ia memang tadi terbawa emosi karena perlakuan tidak sopan salah seorang anak buah si mata dingin itu dan kelihatannya si mata dingin tidak akan membiarkan masalah ini begitu saja.

Tasya juga bercerita bahwa pernah ada guru yang melawan Farrel, tetapi entah bagaimana caranya, guru itu akhirnya mengundurkan diri dan masih ada beberapa cerita lainnya. Terus terang semua cerita itu membuat Lita takut tetapi ia teringat akan ayahnya dan Pak Har yang baik hati. Bagaimana pun juga Lita harus menghadapinya tanpa menyusahkan mereka.

“Lita!”

Suara panggilan itu menyadarkannya dari lamunan. Gadis itu segera beranjak menuju dapur, asal suara itu. Seorang wanita tua bertubuh gemuk berdaster merah berdiri di sana. Rambutnya yang memutih dan dikonde basah oleh peluh karena habis memasak. Pak Har memang menawari Lita dan ayahnya tinggal di tempat yang sudah disediakan oleh beliau tetapi untunglah Lita ingat bahwa Oma, ibu dari ayahnya, memang tinggal di Bandung. Walaupun rumah Oma agak jauh dari HB, tetapi Lita lebih senang tinggal di rumah Oma daripada lebih banyak menerima kebaikan Pak Har.

Nampaknya Oma tidak melihat Lita datang, maka gadis itu menghampirinya sambil melihat-lihat masakannya. “Masak apa, Oma?”

“Oh, ini… cuma sayur asam kesukaan papamu.”, sahut Oma sambil mengangkat wajan dan menuangkan isinya ke sebuah mangkuk. “Coba kau tengok papamu sana.”

Lita menganguk dengan riang dan langsung menuju kamar tempat ayahnya berbaring. Terdengar suara berita di televisi dan ayahnya nampak sedang memejamkan matanya. Jantung Lita langsung berdegup panik, tubuhnya menegang, namun begitu dilihatnya dada ayahnya bergerak naik turun, ia langsung merasa lega. Rupanya beliau sedang tidur.

Ia pun duduk di kursi sebelah ranjang itu. Disentuhnya dengan lembut tangan ayahnya. “Pa, makanan sudah siap.” Mata itu perlahan-lahan membuka dan menatapnya. Sudut bibir itu juga tertarik sedikit. Lita pun tahu, ayahnya sedang tersenyum melihatnya. “Nanti Lita suapin ya, Pa. Sambil cerita tentang hari pertama Lita.”

Tak lama Oma masuk membawakan semangkuk sayur asam dan Lita mulai menyuapi ayahnya ditemani Oma.

“Oma tidak makan?”, tanya Lita. Wanita tua itu nampak sedang memperhatikan mereka.

“Oma juga kepingin mendengar cerita Lita di sekolah.”

Lita tertawa. “Oma menguping ya?”

Oma pun ikut tertawa. “Kamu sudah punya teman, Lita?”

Lita menganguk. “Ya, namanya Tasya. Dia ketua kelas Lita. Orangnya berkacamata dan kelihatan pintar.”

“Kapan-kapan ajak main ke rumah.”, ujar Oma. “Papamu juga senang kalau rumah jadi ramai.” Mata ayahnya mengerling tanda setuju.

Gadis itu pun tersenyum. “Ya, kapan-kapan akan Lita ajak.”

“Jangan lupa juga, sesekali mampir ke tempat Pak Har, bawakan oleh-oleh. Jangan sampai kita dikira mau bertamu kalau hanya ada maunya.” Gadis itu juga mengiyakan.

Oma meminta Lita bercerita seperti apa sekolahnya dan Lita pun menceritakannya dengan ceria, tentu saja tanpa menyebut-nyebut soal Farrel dan gengnya. Itu bukan masalah Oma, bukan masalah Papa dan bukan pula masalah Pak Har. Itu masalahnya dan harus dirinya lah yang menyelesaikannya.

–ooo–
Advertisements

Begitu bel istirahat berbunyi dan Bu Sisca keluar setelah sebelumnya memberikan mereka pekerjaan rumah, bagaikan kawanan sapi menemukan rumput, anak-anak kelas II-1 langsung berhamburan keluar kelas. Lita pun merasakan keheranan kedua, di sekolahnya yang dulu, bila ada anak baru, anak-anak sekelas pasti akan segera mengerubunginya seperti semut dan mulai memperkenalkan diri serta bertanya macam-macam. Apalagi kalau yang datang cantik atau ganteng, kaum lawan jenis lah yang lebih agresif bertanya. Lita tidak pernah merasa dirinya cantik tetapi ia tahu bahwa ia tidak jelek, setidaknya dulu ayahnya sering bilang bahwa dirinya cantik mirip dengan almahrumah ibunya. Eh, tapi itu tidak ada hubungannya kan?

Seakan mengerti kebingungan Lita, Tasya mengajaknya pergi ke kantin. “Kita ke kantin yuk. Sekalian habis makan, kalau masih ada waktu, aku antar kau keliling sekolah.”

Lita menganguk. “Terima kasih, Tasya.”

Tasya tertawa. “Jangan formal begitu ah, Lit. Aku jadi ikut-ikutan tegang nih.”

Setidaknya masih ada yang mau berbincang dengannya. Lita langsung merasa bersyukur dan yakin bisa berteman dengan gadis berkacamata ini.

Kantin sekolah terletak di bangunan kecil di belakang gedung kelas. Aneka makanannya bermacam-macam, sampai-sampai Lita merasa ia berada di supermarket, bukan di sekolahan. Anak-anak HB sudah ramai mengantri dan memesan makanan, bahkan meja kantin pun sudah terisi penuh.

“Mau makan apa, Lita?”, tanya Tasya. Matanya berkeliling mencari makanan yang tepat.

“hmm.. tidak tahu, Tas.” Boro-boro berpikir ingin makan, pusing rasanya berada di keramaian seperti ini.

“Sebenarnya aku ingin makan nasi Bu Dewi tapi kayanya udah keramean deh.” Tasya berucap lebih kepada dirinya sendiri sambil menatapi salah satu kios makanan yang ramai dikerubungi anak-anak kelaparan. Mata juga berkeliaran mencari meja kosong. “Tidak ada meja kosong juga!”, keluhnya.

“Tasya!”

Mereka berdua pun menoleh ke salah satu meja arah suara itu. Nampak seorang anak laki-laki dan anak perempuan berambut panjang duduk di sana. Yang perempuan melambaikan tangan ke arah mereka. Tasya pun mengajak Lita menghampiri mereka.

“Lita, ini Hestin dan Heri, pasangan bodoh di kelas kita.”

Hestin langsung mencubit lengan Tasya sambil menjabat tangan Lita. “Jangan dengerin ketua badut ini, Lit.”

“Bener, kita ini kan pasangan paling mesra di HB, ya kan, cay?”, sambung Heri mengedip genit ke arah pacarnya dan dibalas dengan kedipan lagi oleh gadis itu.

Tasya langsung berlagak pusing sambil memegang pundak Lita. “Aduh, mual aku, ngeliatin pasangan norak ini.”

“Mau kursi gak? Udah dicariin malah menghina.”, ancam Hestin. “Mendingan buat selonjoran kaki kita ya, cay.”

Buru-buru Tasya mengubah suara penuh rayuan. “Eh eh! Ampun, ampun, Nona Besar Hestin yang paling cantik. Makasih banyak udah nyariin kita kursi. Sebagai balasan, sini aku cubit-cubit pipinya yang montok.”

Lita dan Heri pun tertawa melihat Hestin teriak-teriak sambil melindungi kedua pipinya dari tangan ganas Tasya.

“Sudah ah bercandanya. Sudah dapat makan belum?”, tanya Heri.

“Mungkin makan pempek saja deh.”, ujar Tasya. “Kamu, Lit?”

Lita memandangi kios-kios makanan yang bertebaran dan nampak kebingungan. Bukan karena pilihan makanan yang terlalu banyak, Lita juga tidak tahu harga makanan di sini. Pak Har memang sudah memberinya uang saku tetapi ia tidak tahu cukup atau tidak untuk salah satu porsi makanan. Tentu harganya lebih mahal dibandingkan makanan di kantin sekolahnya yang dulu, kan?

“Hmm.. saya makan roti saja.”, ujar Lita akhirnya. “Tidak begitu lapar.” Cepat-cepat ia menambahkan karena ketiga teman barunya itu memandangnya heran.

“Oke.”, kata Tasya langsung berdiri. “Tunggu di sini saja ya. Aku yang akan belikan.” Gadis itu pun langsung melesat dan hilang dalam keramaian.

Sepeninggal Tasya, bertiga dengan Hestin dan Heri, Lita pun langsung larut dalam obrolan. Kebanyakan Hestin yang berbicara, tepatnya bertanya tentang dirinya.

“Oh, jadi mantan majikan ayahmu yang menyekolahkanmu di sini!” Hestin terkejut dan langsung memandang Heri.

“Ssstt, cay! Suaranya kekencengan!”, tegur anak lelaki itu.

“Ups, sori.”

Lita membenarkan dan tiba-tiba merasa minder berada di tengah-tengah kumpulan orang kaya. “Begitulah.”

“Mau gak, kita bilangin?” Heri berkata-kata serius.

Tubuh Lita langsung terasa menegang, karena Hestin pun nampak menatapnya lekat-lekat serius. Ia pun menganguk.

“Jangan bilang kau masuk sini karena dibiayai majikan ayahmu pada anak-anak lain. Bilang saja ayahmu kerja di luar kota jadi direktur atau apa kek!”

“Eh? Mengapa begitu?”

“Karena…” Hestin menjawab hampir berbisik sambil melirik ke kiri dan ke kanan. “…anak-anak di sini kebanyakan melihat ‘ini’” Gadis itu menggesekkan jari telunjuk dan jempolnya. Lita mengenalinya sebagai isyarat ‘uang’. Hatinya langsung mencelos.

“Hei, kalian bicara apa?” Ketiganya melonjak kaget dan langsung lega begitu melihat ternyata Tasya yang datang. “Gak ngomongin aku kan?”

Gadis itu langsung duduk menaruh nampan berisi semangkuk pempek, dua bungkus roti dan dua botol air mineral. “Nih, cepetan dimakan.”, ujarnya sambil menaruh bungkusan roti dan air mineral di hadapan Lita. “Supaya nanti sempat keliling sekolah.” Tak beberapa lama, gadis itu sudah melahap pempeknya sambil sesekali mencubit Hestin yang gencar menggodanya.

Sayangnya nafsu makan Lita sudah hilang semuanya. Hanya karena tidak enak pada Tasya yang sudah susah payah mengantri, ia berusaha menghabiskan kedua rotinya. Di sela tawa teman-teman barunya, ia melamun. Sesekali ia memang ikut tersenyum ketika ada yang melontarkan lelucon walaupun tidak terlalu mendengar. Pertanyaan berkutat di kepalanya. Demi mendapatkan teman, haruskah ia berbohong?

Tiba-tiba pandangan Lita yang menerawang terhalang oleh seseorang dan begitu sadar ia dan teman-temannya sudah dikerubungi oleh empat orang anak laki-laki. Tasya, Hestin dan Heri nampak panik dan gugup sehingga gadis itu langsung tahu bahwa ini bukan pertanda baik.

“Hei!” Suara bernada memerintah terdengar dari salah satu anak. Lita menoleh dan mengenalinya sebagai si mata dingin yang duduk di pojok kiri kelas. Kelihatannya ia adalah si pemimpin geng. “Apa kita pernah ketemu sebelumnya?”

“Hah?” Lita tertegun mendengar pertanyaan aneh itu. Apakah pernah bertemu sebelumnya? Diamatinya wajah si mata dingin. Tampan, tapi sayang…kelihatannya galak. Memorinya tidak mengenali wajah itu selain sebagai orang yang baru saja dilihatnya beberapa jam lalu di kelas.
–ooo–