Tag Archive: fantasi


Graceling (The Seven Kingdoms Trilogy, #1)Graceling by Kristin Cashore
My rating: 3 of 5 stars

Firstly.. this book isn’t meant for young adults. =___=

The idea about sex before married is totally disturbing. I don’t know why in USA, Graceling won many awards in Young Adults Book Category.

Okay, here’s the story.. (Change to Indonesian Language..PeeP..PeeP..)

Katsa, gadis Graceling delapan belas tahun yang memiliki Bakat/Grace Membunuh (Killing Grace). FYI, Graceling adalah sebutan bagi orang-orang yang memiliki kemampuan unik yang disebut Grace. Ciri-ciri Graceling adalah kedua mata mereka memiliki warna yang berbeda. Katsa, dalam hal ini, memiliki warna biru dan cokelat.

Nah, sebagai keponakan Raja Randa of Middluns, Katsa dimanfaatkan habis-habisan oleh sang raja untuk menakut-nakuti musuh-musuhnya. Sampai suatu ketika, Katsa bertemu dengan Pangeran Po dari Kerajaan Lienid yang juga seorang Graceling petarung. Po yang menyadarkan Katsa akan nilai dirinya yang sebenarnya.

Singkatnya Katsa menemukan keberaniannya menentang Randa dan memilih melakukan perjalanan bersama Po. Mereka berangkat untuk mencari motif kejadian penculikan kakek Po. Singkat cerita, petunjuk mereka mengarah pada kerajaan yang paling tidak menarik perhatian. Di sana mereka menyelamatkan Bitterblue, putri kerajaan tersebut yang juga sepupu Po dari kejaran ayahnya.

Dari segi ide dan alur cerita cukup bagus. Intriknya, runutnya bener2 amazing. Benar-benar tidak terpikirkan oleh saya. Hanya saja banyak sekali detail yang diangkat Cashore yang sebenarnya tidak perlu diangkat. Hal ini yang membuat saya sebenarnya agak bosan membacanya. Endingnya bahkan pun bertele-tele.

Lalu..tokoh jahatnya cepat sekali matinya. Sepertinya tidak worthed banget cerita panjang lebar petualangan Katsa jika tokoh jahatnya mati secepat itu. Dan lebih daripada itu, tidak diceritakan apa yang dipikirkan si tokoh jahat. Intinya dia jahat. TITIK. zzzz.. (mungkin karena bakal dibahas di buku prekuelnya kali ya? +__=)

Karakterisasi cukup kuat. Masing-masing karakter seakan tidak dianaktirikan penulisnya. Walaupun saya agak berpikir The Young Bitterblue agak sedikit terlalu dewasa dari yang seharusnya. Yah, itu bukan masalah besar. Jadi termaafkan 😀

Kemudian.. hmm… masalah pemikiran seks bebas. Saya tidak ngerti kenapa bisa si Katsa sampai ngotot banget tidak mau nikah. Hanya karena tidak ingin punya bayi? Oh Please… Lalu sebagai solusi karena ia dan Po sudah saling jatuh cinta, jadilah mereka melakukan seks bebas dan memakai obat supaya Katsa tidak hamil. Haizz! Itu alasan paling tidak masuk akal buatku. Apalagi ini cerita untuk anak remaja!

Kalau lah dia seperti Katniss dalam “Hunger Games Series”, tidak mau menikah dan punya anak karena tidak mau anak-anaknya jadi korban Hunger Games. Itu baru alasan!

Ditambah lagi, Po menawarkan dirinya “dipakai” Katsa sepuasnya….. OMG… ~.~

Mungkin bingung juga melihat kenapa aku memberi bintang 3, tetapi buku ini kumasukkan dalam bookshelves “keren”. Ini pun baru pertama kalinya aku memasukkan buku berbintang 3 ke dalam bookshelves keren.

Karena sebenarnya buku ini memang KEREN. Narasi dan alurnya benar-benar memikatku. Seperti membaca fantasy mistery. TAPIIII….. Ada 2 hal. Pertama karena bertele-tele. Kedua, balik lagi soal masalah pemikiran ala feminist itu. Jika buku ini dikategorikan sebagai buku untuk dewasa. Hmm.. okelah, saya mungkin masih setuju memberi bintang 4, tapi ini.. err… untuk remaja. PLEASE deh. Menampilkan adegan dewasa dan pemikiran seperti itu pada remaja. Aku sangat tidak setuju.

Aku akan membaca buku keduanya, FIRE. Mudah2an lebih baik dari Graceling 🙂

Best regards to Madam Cashore 🙂

View all my reviews

Advertisements

Clockwork Angel (The Infernal Devices, #1)Clockwork Angel by Cassandra Clare
My rating: 4 of 5 stars

Buku yang dibeli secara mendadak tanpa perencanaan, saat sedang jalan2 di Gramedia Grand Indonesia. Membelinya karena buku ini terlihat bersinar (dont mind the dark colour covering please) ditambah lagi karena harganya yang terbilang cukup murah sebagai sebuah buku impor baru.
………
Saya gak merasa lebay saat mengatakan bersinar. (okay, maybe just a little bit) karena covernya cukup mengundang. foto cowo pucat misterius berpakaian ala Victorian gentleman, dengan pemandangan kota london kuno. (always love the Old London Setting ^^) Ditambah lagi ukuran panjang dan lebar yang lebih lebar dari seri buku Clare sebelumnya (serial City).

Lalu begitu memasuki ceritanya, gak merasa rugi juga membeli buku ini. Kisah mengenai gadis 16 tahun, Tessa, pergi ke London mencari kakaknya berbekal sepucuk surat dari sang kakak. Sialnya doi malah diculik sepasang Warlock (salah satu ras penghuni dunia bawah) sadis. Namun demikian, ada juga sisi baiknya (atau mungkin buruk) karena Tessa akhirnya mengetahui dirinya seorang Shape shifter a.k.a orang yang bisa mengubah dirinya menjadi orang lain, hanya bermodal menyentuh barang milik orang lain tersebut.
Cerita berlanjut kemudian, begitu ternyata Tessa diselamatkan 3 laki-laki misterius yang ternyata adalah Nephilim (manusia berdarah malaikat).

Sepanjang cerita, agak jarang menemukan adegan2 seru perkelahian seperti halnya dalam sekuel atau serial sebelumnya, serial City. Mungkin dikarenakan tokoh antagonis utama yang tak jelas, sehingga sepanjang cerita penuh dengan penyelidikan-penyelidikan. Namun bisa jadi ini menjadi daya tarik tersendiri bagi buku ini.

Ditambah lagi, tokoh-tokohnya pun lebih kompleks. Pada awalnya memang terasa mirip dengan tipikal tokoh2 serial city. Tessa mirip dengan Clary versi jati diri gak jelas. William mirip Jace versi liar. Jem mirip Alec versi sakit. Jess mirip Isabella versi manja. Charlotte mirip Luke versi cewek. de Quincey mirip Valentine versi vampire. Agak boring sih…

Namun seiring bergulir cerita, walaupun tipikal, kompleksitas yang lebih mendalam membuat tidak terlalu boring juga. Tessa yang tidak jelas jati dirinya, William yang misterius, Jem yang sakit-sakitan, dan tokoh-tokoh lain yang nampak minor, tetapi ternyata memegang peranan cukup besar dalam bergulirnya cerita. Hingga akhir pun masih ada misteri besar yang tidak diungkap Clare dalam seri pertama ini. (terpaksa menunggu buku kedua, tahun depan T_T).

Satu sisi, ending cerita ini pun cukup memuaskan walaupun biasa aja. Agak kurang klimaks. Namun di sisi lain, bisa dibilang tidak jelas. Tak seperti City of Bones, sesuai dengan apa yang sudah saya bilang tadi, misteri yang dikandungnya jauh lebih banyak dan nampaknya berkesan lebih rumit daripada serial city. psstt.. (saya sudah bisa nebak arah cerita serial city.)

Butuh waktu seminggu untuk menghabiskan novel ini, selain karena daily routine, alur yang agak boring, juga karena ketidakrelaan saya menyelesaikan novel sebagus ini. 😛 bukan bermaksud berlebihan, tetapi itulah yang saya rasakan. Setting-an kota London kuno yang cukup detail. Deskripsi suasana yang OK. Bagi saya, itu salah satu kelebihan buku ini.

Sayangnya saat ini belum ada terjemahannya, tetapi rencananya penerbit Ufuk akan menerbitkan terjemahan Indonesia-nya tahun depan. Saya rasa patut ditunggu juga, bagi pembaca yang lebih memilih bahasa persatuan dalam membaca.

Overall, this is an amazing book, but…
Nilai sebenarnya saya beri 5, karena alur gak bisa ditebak dan deskripsi yang apik, tetapi kurang satu, karena ending yang nggantungnya agak keterlaluan dan karakterisasi yang agak2 copas dari serial city. ^^v

View all my reviews

TWO

Gawat! Gawat! Ini benar-benar gawat!

Secepat mungkin Lon mengayuhkan kedua kakinya untuk berlari. Ia harus sesegera mungkin sampai di rumah memberitahu Julia apa yang terjadi. Sialan! Hal yang paling ditakutinya selama ini benar-benar terjadi. Lokia adalah pulau terpencil pilihan Guru Kyros, seharusnya menjadi tempat yang baik untuk membesarkan sang pewaris pusat bintang! Guru Kyros memang mengatakan akan tiba waktu dimana mereka harus pergi dari sini, tetapi ini terlalu dini!

Lon tidak bisa menghilangkan bayangan wajah bengis komandan pasukan Faran yang memasuki desa Wasugi dan menitahkan maut terhadap para penduduk desa. Amarah Lon bangkit bila mengingatnya, sekaligus sebersit rasa takut atas apa yang mampu diperbuat pria itu.

Erich van Kiessel!

“Julia! Kita harus segera pergi dari sini!” seru Lon begitu sampai di rumah mereka.

Hening. Tidak ada yang menjawab.

“Julia!” seru Lon lagi. Mungkin wanita itu sedang ada di dapur dan mata Lon terpanjat melihat sosok yang terbaring lemas di lantai dapur. “Rowena!”

Julia perlahan membuka matanya di dalam pelukan Lon. “Hush! Jangan panggil aku Rowena nanti Fay dengar,” bisik Julia memaksakan senyum.

“Gejala itu datang lagi?”

Julia menganguk lemah.

Sial! Tiga kali sial! Mengapa harus terjadi di saat seperti ini?

“Mereka datang. Kita harus secepatnya pergi dari sini.”

“Apa?” Mata Julia membelalak terkejut. “Fay?”

“Nampaknya belum pulang. Kita berberes dulu, aku yakin Fay tiba tak lama lagi,” sahut Lon. “Kau berbaring saja di dalam kereta. Aku yang akan membereskan semuanya. Kita ke tempat Cole.”

—ooo—

Fay berjalan pulang sambil mengamat-ngamati sebuah pedang pendek di tangannya. Ada lambang bunga rumput seperti yang terdapat pada pin perak yang tersemat di jubah hijau milik pemuda itu. Menurut Rafe, itu adalah lambang keluarganya di Zenithia, negerinya.

“Ini lambang persahabatanku,” begitu kata Rafe sewaktu memberikan pedang pendek itu.

“Pedang? Aku tidak butuh,” tolak Fay lugas. “Aku punya pedang pendek dari Lon.” Ia menunjukkan senjata miliknya.

“Simpan saja,” desak pemuda itu sambil menatap Fay dengan pandangan yang membuat gadis itu merasakan sensasi aneh. “Bagiku tidak ada gunanya, tetapi tidak demikian terhadapmu. Lagipula kau adalah harta karun yang kutemukan di pulau kecil ini. Aku tidak ingin terjadi apapun terhadap dirimu.”

Fay mengerutkan dahinya bingung. Kata-kata pemuda itu memang aneh. Apa maksudnya harta karun? Lalu kenapa Rafe bicara seakan-akan akan datang bahaya terhadap dirinya? Sewaktu Fay menanyakannya, Rafe hanya menjawab.

“Sebaiknya kau segera pulang sekarang, Fay. Dan jangan mendekati desa. Kita akan berjumpa lagi karena kau adalah pemegang pedangku.”

Aneh! Aneh! Aneh! Dipikir sampai dahinya berkerut maksimal pun ia tetap saja tidak dapat memahami kata-kata itu. Terbesit di pikirannya untuk menanyakannya kepada Lon. Ya, Lon pasti bisa menjelaskan semuanya.

Bau asap yang samar tercium begitu Fay mendekati rumah mereka. Ia sempat panik mengira asap itu berasal dari rumahnya, tetapi ternyata bukan. Api itu berasal dari desa! Fay ingin melihat desa, tetapi ia teringat kata-kata Rafe supaya ia tidak mendekati Wasugi. Akhirnya diputuskannya untuk pulang ke rumahnya. Mungkin saja Lon sudah kembali dan tahu apa yang terjadi di desa. Gadis itu pun mempercepat langkahnya.

Ia kembali terkejut melihat keadaan rumahnya. Bau minyak tanah menebar di mana-mana. Kereta kuda Raku sudah siap dan barang-barang mereka sudah ada di atasnya. Firasat tidak enaknya semakin terasa.

“Ibu?” Ibunya kini terbaring lemah di atas kereta.

Julia membuka matanya dan tersenyum begitu melihat Fay. “Fay, kau sudah pulang?”

Fay menganguk. “Apa yang terjadi, Bu? Ibu sakit lagi?”

Julia tak langsung menjawab, hanya tersenyum. “Semua akan baik-baik saja. Lon yang akan menjelaskan semuanya.”

Fay menoleh ke arah Raku, si kuda. “Raku, apa yang terjadi?”

“Majikan laki pulang lalu bilang ada bahaya. ‘Mereka datang!’ begitu kata Majikan,” ringkik Raku.

Mereka? Siapa mereka? Fay tidak banyak basa-basi, langsung berlari ke dalam rumah mereka yang sudah beraroma tajam minyak tanah, mencari Lon.

“Lon!”

Lon muncul dari halaman belakang rumah setengah berlari. “Fay, ayo naik! Kita berangkat sekarang!” Fay pun ditarik olehnya menuju kereta kuda.

“Apa?! Kemana?!”

“Ke rumah gua Cole.” Lon menjalankan kereta. “Hiah!”

Fay melongo. Ia ingin sekali bertanya apa yang sebenarnya sedang terjadi. Begitu banyak yang terjadi di sehari setelah ulang tahunnya. Tetapi bagaimana pun juga ia harus sabar menunggu. Ibunya bilang, Lon akan menjelaskannya. Sepertinya sesuatu yang besar telah terjadi. Suatu penjelasan panjang lebar nampaknya sangat diperlukan. Ia menggenggam tangan ibunya yang sedang tertidur dengan erat. Wajah wanita yang telah melahirkannya tampak muda namun pucat dan rapuh, membuat hatinya miris.

Tiba-tiba Raku meringkik menghentikan jalan kereta. Di telinga Fay, kuda itu berteriak histeris penuh kengerian. Lon pun nampak membeku di balik kemudi kereta dan Fay pun tahu penyebabnya. Sekumpulan tentara berzirah merah menghadang jalan mereka. Mereka berlima sampai enam orang.

Siapa mereka! Jerit Fay dalam hati. Bulu kuduknya terasa berdiri, merinding karena tiba-tiba merasakan betapa dekatnya maut dengan mereka saat ini. Semua prajurit itu menghunuskan pedang mereka dan tanpa ba bi bu, langsung menyerang mereka. Raku si kuda dihabisi dua orang dari mereka tanpa ampun. Fay terpaku dalam kengerian menyaksikan teriakan terakhir kuda tua itu.

Sementara itu keempat prajurit lainnya menghampiri kereta kuda. Sigap, Lon mencabut pedangnya dan turun ke arena pertarungan. Detingan pedang langsung terdengar. “Mereka prajurit merah! Fay, lindungi ibumu!”

Teriakan Lon menyadarkan Fay dari keterpanaannya. Dicabutnya pedang pendek yang didapatnya dari Rafe. Lon memang sudah mengajarinya ilmu pertarungan tetapi ini pertama kalinya Fay berada dalam pertarungan yang sesungguhnya sehingga gadis itu merasakan ketegangan dari di seluruh tubuhnya. Ia menggenggam erat-erat pedang berlambang bunga rumput itu. Terasa ringan dan terasah tajam, membuatnya sedikit tenang.

Lon tidak membiarkan satu pun prajurit zirah merah itu melewatinya dan kemampuan pedangnya cukup mendukungnya untuk itu. Dua prajurit sudah habis dijatuhkannya, tetapi semakin lama Lon semakin dipukul mundur. Begitu pria itu lengah, dua prajurit berhasil melewatinya dan langsung menyerang Fay dan ibunya.

“Lon!” Fay mengacungkan pedangnya menangkis salah satunya tetapi prajurit yang lain siap menghujamkan pedangnya pada tubuh tidak sadarkan diri ibunya. “Jangan!”

Dalam kerjapan mata, kedua prajurit itu langsung terjatuh tertikam pisau kecil di leher masing-masing. Fay menghela nafas lega sesaat tetapi matanya membelalak terkejut melihat pamannya tersenyum sambil menahan sakit. Pedang berlumuran darah menembus dada sang paman. Rupanya untuk menyelamatkannya, Lon rela membuka celah bagi musuhnya untuk menyerangnya. Begitu Lon jatuh, Fay merasa nyawanya ikut terbang bersama Lon. Ia bahkan tidak melihat tambahan prajurit zirah merah yang kini sudah mengepung sekitar kereta kuda mereka.

“TIDAA..KK!!”

Jeritan gadis itu membahana di seluruh hutan. Tepat pada saat itu, sinar bulan penuh bersinar tepat di atasnya. Sinar terang menyilaukan bersinar dari tubuh gadis itu dan dalam sekejab mata terjadi perubahan seperti sehari sebelumnya. Sosok tubuh langsing semampai, berkulit gelap, telinga panjang milik elf dan rambut seputih gading, menggantikan gadis kecil berusia tiga belas tahun itu.

Tetapi yang berbeda dengan kemarin, bola mata Fay tidak hijau zambrut seperti biasanya, tetapi merah. Semerah darah. Kemurkaan dan hawa nafsu pembunuh terpancar luar biasa dari tubuhnya yang telanjang hingga menyuratkan sinar merah di sekitarnya. Mata merahnya menatap dingin para prajurit itu. Tidak ada lagi kemanjaan dan kepolosan gadis kecil yang baru beranjak remaja. Para prajurit itu pun bergidik ngeri.

“SERBU!”

Tetapi dark elf itu nampak luar biasa tenang. Sebelah tangan kanannya berubah menjadi beku dan sebilah mata pedang berwarna biru es mencuat di sana. Pedang yang begitu dingin hingga asap mengepul darinya.

Tak perlu lama waktu yang dibutuhkan untuk pepohonan dan para binatang malam menyaksikan pemandangan mengerikan. Jeritan yang memilukan dan lautan darah para prajurit berzirah merah, lalu disusul dengan keheningan malam, ketika pasukan itu habis terbantai.

Perlahan gadis dark elf itu menghampiri Lon yang tergeletak dengan luka menganga di jantungnya. Ia berlutut memeluk Lon. Air matanya meleleh. “Lon…”

Dan keajaiban terjadi. Di sekitar mereka menyala sinar terang menyejukan, berbeda dengan beberapa detik sebelumnya. Pada saat yang sama, Julia tersadar dan menyaksikan semua itu. Betapa terkejutnya, ketika ia menyaksikan putrinya dalam wujud dark elf memeluk Lon yang bersimbah darah dalam sinar terang, sementara di sekeliling mereka bergelimpangan mayat dan bau anyir darah segar.

“FAY! LON!” serunya. Kepanikan meliputi pikirannya.

Dengan susah payah ia turun dari kereta kuda untuk menghampiri mereka. Tubuhnya masih terasa lemah. Tepat ketika Julia menyentuh Fay, gadis itu terjatuh dalam pelukan Julia dan berangsur-angsur berubah kembali menjadi gadis manusia berusia tiga belas tahun. “Fay!” Air mata menggenang di pelupuk matanya mencoba meyakinkan dirinya sendiri, tidak akan terjadi suatu hal apapun terhadap putri tunggal tersayangnya. “Lon!” Julia masih tidak menyerah memanggil pria yang berbaring di hadapannya dengan lumuran darah di sekujur tubuhnya.

Dan perlahan-lahan mata Lon membuka. “R…Rowena?”

“Lon! Syukurlah kau sadar! A..apa yang terjadi! Fay! Fay!”

“Tenang dulu, Rowena.” Melihat keadaan sekeliling mereka yang mirip neraka, Lon langsung teringat dengan tusukan pedang yang menembus dadanya. Ia pun segera meraba dadanya. Tidak ada luka apapun. Bersih dan mulus. Seakan tidak pernah terjadi apapun. “Kukira tadi aku…mati, tapi…”

Julia menunggunya mengatakan sesuatu. Tetapi Lon tahu, mereka tidak boleh berlama-lama di tempat ini.

“Bukan waktunya berpikir sekarang! Kita harus cepat pergi dari sini!” Lon berlari ke arah kereta mengambil barang-barang mereka yang tidak banyak, lalu menggendong Fay dengan sebelah tangannya dan tangannya yang lain memapah Julia yang masih lemah.

“Tapi..”

“Nanti akan kujelaskan! Sekarang kita harus segera pergi dari sini!”

—ooo—

Fay tahu seharusnya ia pulang ke rumah sekarang. Hari ini adalah hari ulang tahunnya dan ibunya sudah mewanti-wanti supaya ia pulang sesegera mungkin. Alasan lain yang tidak memungkinkannya untuk ikut ajakan Wen -si kelinci hutan- dan Felix -si serigala mungil- untuk berenang di danau Swan, adalah malam ini pun hari bulan penuh. Namun –Fay melirik ke arah air danau yang berkilauan seakan berkata ‘tunggu apa lagi? Ayo cepat kemari!’- godaan itu terlalu berat untuk ditampik gadis berusia tiga belas tahun itu.

“Fay, ngapain bengong di situ!”panggil Wen.

Fay mendesah. Tentu saja sebenarnya Wen hanya mencicit, tetapi Fay memang memiliki bakat untuk berkomunikasi dengan makhluk tanpa kata sedari lahir. “Ibuku nanti marah. Beliau sudah menunggu kayu-kayu bakar ini”, katanya pada Wen sambil menunjukkan kayu-kayu bakar yang bergelantungan di punggungnya.

\           “Bermain kan  bukan dosa, Fay!” seru Felix. “Mumpung masih siang!”

“Kata ibuku, manusia itu seharusnya lebih serius bermain, supaya mereka tidak terus-terusan berperang!” tambah Wen sok tahu.

Angin berdesir dan membuat dedaunan pohon beringin yang berdiri di dekat gadis itu bergoyang. Fay mendelik ke arah pohon itu. “Kau juga ingin aku berendam, Pak Beringin?”

Daun-daun pohon kembali melambai-lambai seakan mengiyakan.

“Ayo, Fay! Ayo! Pak Beringin saja setuju!” Wen si provokator itu malah langsung menceburkan diri. Cipratan airnya langsung membasahi sedikit tubuh Fay.

“Hei!” protes gadis itu tetapi cipratan air yang lebih banyak malah membuat tubuhnya lebih basah karena Felix ikut-ikutan menceburkan diri. “Hei! Awas kalian! Kulaporkan pada ibu kalian baru tahu rasa!” seru Fay geram lalu segera melepaskan seluruh bajunya –toh sudah kepalang basah- dan segera menyusul teman-teman binatangnya yang kini sedang mencicit dan mengeram tertawa melihat kegusarannya.

“Hei! Awas, Felix! Fay si pengadu mau memakan kita!”

Begitulah. Akhirnya danau dan hutan Swanna menjadi saksi keceriaan ketiga makhluk berlainan jenis itu bermain hingga lupa waktu. Dan begitu matahari mulai tenggelam dan para binatang malam mulai keluar menyambut hari mereka, barulah Fay sadar bahwa ia sudah membuat masalah.

“Celaka!” serunya frustasi. Tetapi terlambat. Malam bulan penuh adalah malam dimana bulan bersemangat untuk menunjukkan dirinya, walaupun hari baru menjelang malam, sang bulan sudah siap untuk menyinarkan dirinya.

Fay mengeluh. Rasa panas yang familiar mulai terasa dimulai dari dada menyebar ke seluruh tubuhnya. Perlahan-lahan tubuhnya berubah. Dari seorang gadis kecil menjadi seorang wanita dewasa. Warna kulitnya menggelap. Telinganya perlahan memanjang, begitu pun dengan rambutnya. Selain memanjang rambutnya pun memutih sewarna gading.

“Kalian sih! Mengajak main-main terlalu lama!” gerutu Fay pada kedua teman binatangnya.

Wen dan Felix hanya memandangnya dengan rasa tidak enak. “Aduh. Maaf, Fay. Tak sangka malah jadi begini.”

“Ya sudahlah.” Mau diapakan lagi. Menyesal pun percuma karena sudah terjadi. Sekarang tinggal mencari sesuatu untuk menutupi tubuhnya lalu pulang dan menghadapi kemarahan ibunya. Fay meringis dalam hati. Ibu sangat menyeramkan bila sedang marah.

“Pakai ini, Fay.” Seekor beruang menghampirinya lalu menghempaskan sebuah jubah wol berwarna hijau tua.

Fay berseru senang. “Terima kasih, Rhata! Kau memang beruang paling ganteng seantero hutan Swanna!” Beruang itu pun mengeram senang.

Jubah itu segera dipakainya. Cukup besar dan hmm… hangat. Malam semakin cepat menyelimuti dunia hijau itu dan Fay harus sesegera mungkin sampai di rumah. Semakin malam ia sampai, maka akan semakin tinggi kadar kemarahan ibunya.

—ooo—

“Dari mana saja kau, Fay Leen?!”

Fay menunduk di bawah tatapan tajam berbahaya mata coklat Julia, ibunya. Bila nama panjangnya sudah disebutkan seperti itu berarti ibunya sudah cukup gusar terhadapnya.

“Dan apa-apaan dengan penampilanmu itu!” tambah Julia masih dengan nada tinggi. “Sudah tahu malam ini, malam bulan penuh! Lalu kau ingat tadi Ibu suruh apa?!”

Fay baru menyadari. Ia meninggalkan kayu-kayu bakarnya di pinggir danau tadi karena terlalu panik. “Maaf, Bu.” Ia semakin menunduk penuh rasa bersalah.

“Sudahlah, Julia.” Terdengar suara bas khas laki-laki dewasa. Paman Fay, Lon, muncul di belakang ibunya. “Toh aku sudah mendapatkan cukup banyak kayu bakar untuk hari ini.” Pria berambut coklat acak-acakan itu menyunggingkan senyuman lebar mempesona yang biasanya sulit ditolak oleh gadis-gadis Wasugi, desa yang terletak di dekat hutan Swanna ini. Fay langsung berseru girang dalam hatinya melihat pamannya campur tangan.

Tapi nampaknya senyuman itu tidak mempan bagi Julia. Telinga elf Julia bergerak-gerak gusar. Ibu Fay yang berdarah setengah elf itu mendelik tajam terhadap Lon. “Kau terlalu memanjakannya, Lon.”

“Lagi pula hari ini hari ulang tahunnya,” tambah Lon lagi. Fay diam-diam melirik ibunya penuh harap. Semoga pesona Lon kali ini mempan untuk ibunya.

Julia pun menghela nafas setelah beberapa saat diam. “Baiklah, Nona. Kali ini aku memaafkanmu. Tapi lain kali jangan coba-coba lagi membuatku khawatir seperti ini, kalau kau ingin menikmati makan malammu,” ujar Julia masih dengan tatapan galak. “Cepat ganti bajumu sebelum kau kedinginan.” Suaranya sedikit melembut.

Fay langsung menganguk dengan cepat dan segera berlari ke kamarnya sebelum ibunya berubah pikiran.

“Kalau sudah dewasa, dia pasti akan menjadi cantik seperti itu.” Fay sempat mendengar Lon berkata begitu sesaat sebelum ia masuk ke dalam kamarnya. “Mungkin sinar bulan penuh yang menampakkan wujud aslinya.”

“Mungkin saja.” Ibunya menjawab. “Tapi fenomena yang dialami Fay cukup aneh bahkan bagi keturunan elf murni.”

Fay menutup pintunya lalu segera berdiri di depan cermin dan menatap gadis yang berdiri di dalam cermin itu.

Mungkin inilah diriku beberapa tahun lagi.

Menurut Lon ia cantik, tapi… bukannya Fay tidak suka dibilang cantik, tetapi ia tidak nyaman dengan wujud ini. Walaupun kaki-kakinya lebih panjang sehingga bisa melangkah lebih jauh, tapi ia tidak seleluasa bergerak seperti dengan tubuh usia tiga belasnya. Jika beberapa tahun lagi ia akan menjadi seperti ini –Fay mendesah lesu- lebih baik ia tidak usah menjadi dewasa sekalian. Seperti ibunya. Ya, ibunya adalah seorang half elf. Di usia beliau yang sudah pertengahan kepala tiga, ibunya masih tampak seperti manusia di usia awal dua puluhan. Ia dan ibunya bila disandingkan, lebih mirip kakak beradik, dibandingkan ibu dan anak. Tubuhnya pun mungil tidak seperti para elf umumnya –Fay belum pernah bertemu dengan elf, tapi kata Lon elf adalah bangsa yang memiliki tubuh paling tinggi dibandingkan bangsa lain.

Fay mendesah. Mungkin bila ayahnya pun seorang elf, ia pasti bisa awet muda seperti ibunya. Ia memang tidak mengenal ayahnya, karena ibunya tidak pernah mau menceritakannya. Tapi menurut Lon, ayahnya manusia.

Eh tapi dia juga tidak mau kalau jadi anak-anak terus. Sebal rasanya setiap kali Lon memanggilnya anak kecil.

“Fay! Kalau kau mau lama-lama di sana, makananmu keburu habis oleh Lon nih!”

Seruan ibunya membuat Fay gelagapan karena terhenyak oleh lamunannya. Ia segera mencari pakaiannya di lemari, bersamaan dengan itu dihempasnya jubah hijau tua itu ke lantai. Bunyi logam bertemu lantai membuatnya terhenyak. Suara itu berasal dari jubah hijaunya. Penasaran, diambilnya jubah itu dan ia menemukan logam penyebab suara itu.

Fay menyipitkan matanya melihat pin perak berukiran bunga rumput yang aneh disematkan dipinggir jubah itu. Rupanya ia tidak melihat pin itu tadi karena hari sudah gelap.

“FAY!”

“Iya, Bu!” seru Fay. Ia tahu ibunya pasti akan menyusulnya bila ia tidak segera menyelesaikan acara berpakaiannya. Pin aneh itu bisa menyusul nanti.

“Lama sekali kau!” omel Julia begitu melihat putrinya turun.

Fay cuma menyengir lebar menanggapi ocehan itu lalu menghampiri ibunya itu untuk masuk dalam pelukannya.

“Aku jadi merasa beruntung bisa melihat wujud dewasamu sekarang,” ujar Julia tersenyum dan mengecup sayang kening Fay.

“Kalian lebih mirip kakak beradik daripada ibu dan anak,” celetuk Lon tertawa lalu ikut nimbrung mengecup kening Fay. “Kita bersulang, Fay.” Lon memberikan segelas kecil jus anggur padanya.

“Jus anggur lagi,” protes Fay. “Aku kan sudah dewasa!”

“Badan dewasa, otak balita,” ledek Lon sambil menyentil jahil dahi gadis itu. Tanpa peduli dengan protes Fay, pria itu menyerahkan segelas anggur merah pada Julia, lalu mengangkat gelasnya sendiri. Fay dan Julia pun mengikutinya.

“Semoga Tuan Putri selalu sehat dan panjang usia!”

Bersama-sama ketiganya meminumnya.

“Tradisi yang aneh,” ujar Fay ketika mereka bertiga sudah duduk di meja makan dan menyantap makanan mereka. Ia mengacu pada tradisi bersulang barusan. “Apakah karena kita berasal dari Faran? Tidak ada anak-anak di pulau Lokia ini yang melakukannya. Apa jangan-jangan aku ini tuan putri di Faran?” Fay pun mentertawakan leluconnya sendiri.

Lon dan Julia saling berpandangan sejenak.

“Yah, karena di Faran semua anak perempuan dianggap tuan putri,” sahut Lon sambil menggigit paha ayam hutannya.

“Apakah kita harus selalu melakukannya setiap kali aku berulang tahun?” tanya Fay menatap ibu dan pamannya serius. “Menurut orang-orang desa, Faran adalah negeri barbar. Mereka suka membunuh dan menjajah dimana-mana. Aku tidak percaya aku ini berdarah Faran kalau bukan kau yang mengatakannya, Lon.”

Lon menyengir. “Aku juga tidak suka kenyataan bahwa aku pun berdarah Faran. Tapi yah –Lon mengangkat bahu- apa boleh buat.”

“Aku ingin jadi ksatria yang hebat supaya bisa memperbaiki negeri bobrok itu.” Mata Fay berbinar penuh semangat. “Besok kau akan mengajariku jurus baru kan, Lon?”

Julia mengelelengkan kepala. “Besok kau akan belajar tata krama, putriku.”

Fay langsung mengeluh protes. “Yah, Ibu… Ini memperlambat cita-citaku menjadi seorang ksatria!”

Lon tertawa. “Untuk menjadi ksatria, diperlukan lebih dari sekedar tubuh kuat dan jurus yang hebat, tapi tekad.”

“Tekad?”

Pria itu pun menunjukkan salah satu pergelangan tangannya yang terdapat bekas sayatan pisau. Fay mengenali luka itu. Dulu ia pernah menanyakannya, tetapi Lon menolak menjawabnya.

“Tanda sumpah darah.”

“Sumpah darah?” Fay tertarik dengan kata-kata itu.

PLAK!

Suara mengaduh Lon menyusul suara keras itu. “Aduh! Julia, kau kan tidak perlu memukulku dengan centong nasi itu!”

“Ini karena kau bicara yang tidak-tidak dengan anakku!” Mata coklat Julia mendelik tajam. “Fay, jangan dengar kata-kata manusia ngawur ini! Akan tiba saatnya kau mengerti semuanya dan kuharap bukan dalam waktu dekat.”

Lon langsung menunduk diam. Siapa sih yang bisa melawan Julia dan centong nasinya? Fay pun tidak bertanya lagi, tetapi kata-kata Lon dan ibunya yang tidak dimengertinya itu melekat di kepalanya hingga pada saatnya ia tidur.

—ooo—

“Seharusnya kau tidak berkelahi, Felix,” omel Fay sambil mengobati serigala kecil berbulu putih itu.

Felix mengeram kesakitan sewaktu Fay membersihkan luka di kakinya dengan air hangat. “Sakit, Fay!” teriak serigala kecil itu.

“Makanya jangan berkelahi!”

“Tapi Tuck dan kawanan serigalanya itu mengejek Wen!” protes Felix. “Katanya aku berteman dengan makanan. Yang benar saja! Wen bukan makanan, dia temanku!”

Fay mendesah. Felix memang sering sekali bertengkar dengan Tuck dan teman-temannya. Ibu Felix pernah berkata pada Fay bahwa Felix adalah serigala berbulu putih pertama yang lahir di dalam kawanan serigala mereka yang menandakan dirinya istimewa. Kemungkinan Tuck dan kawan-kawannya itu iri pada Felix.

Wen mendekati Felix lalu menjilati wajah serigala itu. “Hihihi.. tapi aku senang kau membelaku. Terima kasih, Felix.”

Felix mendekur menanggapi cicitan Wen.

Fay selesai mengobati luka-luka Felix lalu membungkus serigala kecil itu dengan jubah hijau tua yang ditemukan Rhata kemarin. “Hangat, Fay. Terima kasih ya.” Felix mengeram penuh terima kasih. Wen pun ikut meringkuk di dalam jubah itu.

“Kau sudah seperti ibu mereka, Fay,” komentar Rhata yang berbaring di sebelah mereka bertiga. Fay pun tertawa. “Lalu bagaimana ulang tahunmu kemarin? Ibumu tidak marah kan?”

“Sempat marah sih tapi seperti biasa Lon menolongku.” Fay terkikik geli mengingat kejadian kemari. Kemudian ia teringat pada pin perak di jubah hijau itu dan berniat menanyakannya pada Rhata. Tetapi tepat pada saat ia hendak membuka mulut, ia mendengar Rhata mengeram waspada. Bulu-bulu hitam coklatnya serasa menegang. Felix dan Wen pun gemetar ketakutan di dalam pelukan Fay. Fay langsung mengerti apa yang sedang terjadi.

Ada pemburu di dekat mereka.

Pedang pendek yang selalu dibawa di pinggangnya pun kini siap di tangannya. Perlahan ia berdiri sambil tetap menggendong Felix. Sementara itu Wen melompat ke belakang punggung Fay. Rhata kini mengeram ke salah satu semak-semak.

“Tunggu! Aku tidak bermaksud menyakitimu!”

Seruan itu berasal dari semak yang ditatap Rhata. Fay menepuk lembut pundak beruang itu. “Siapa kau? Tunjukkan dirimu!”

Semak-semak itu pun bergoyang-goyang dan tak lama kemudian muncul seorang pemuda berambut emas berpakaian pemburu dari sana. Tubuhnya penuh dengan ranting dan dedaunan. Pemuda itu menyengir lebar menatap Fay sambil melirik cemas pada  Rhata. Kedua tangannya terangkat ke atas.

“Kau pemburu kan?!” tuduh Fay sambil mengacungkan pedang pendeknya ke arah pemuda itu.

Rhata menambah ancaman dengan mengeram galak. “Pergi!”

“Eh sabar sabar! Ya, aku memang pemburu tapi saat ini aku tidak sedang berburu. Lihat!” Pemuda itu mengangkat tangannya lebih tinggi. “Aku tidak membawa panah kan? Hanya pedang di pinggangku.”

Fay menatap pemuda itu masih dengan pandangan curiga. Jelas ia tidak semudah itu percaya pada ucapan orang asing ini. Ia masih menimbang-nimbang pendapatnya mengenai pemuda itu.

“Kelihatannya dia jujur, Fay.” Rhata berkata padanya setelah beberapa lama. “Dan kelihatannya manusia ini tertarik padamu.”

Fay mengerutkan dahi dan menatap beruang itu tidak mengerti. Tertarik? Apa maksudnya?

“Namaku Rafe,” ujar pemuda itu. “Aku mencari jubahku yang hilang kemarin, tapi hmm.. nampaknya si kecil itu lebih membutuhkannya dariku.” Ia menatap Felix yang berada di dalam gendongan Fay.

Jadi jubah ini milik pemuda asing ini? Omongannya terasa masuk akal.

“Apa perlu kuusir dia?” eram Rhata galak membuat pemuda bernama Rafe itu melonjak kaget walaupun senyuman masih terhias di wajahnya.

“Hmm… apa kau bisa..hmm.. tolong katakan pada temanmu ini bahwa aku tidak berbahaya?” pinta Rafe ragu-ragu.

Sejenak Fay masih menatap pemuda itu dengan tatapan menilai, lalu akhirnya ia meminta Rhata membiarkan pemuda itu mendekati dan duduk bersama mereka, walaupun jarak yang diizinkan Fay cukup jauh dari mereka.

“Kau bisa berbicara dengan binatang?” Pemuda itu menatap Fay dengan tatapan kagum.

Fay terdiam sejenak lagi-lagi menimbang apakah ia akan menjawab pertanyaan itu atau tidak. Akhirnya ia memutuskan untuk menjawabnya, “Pada makhluk tanpa kata.”

“Makhluk tanpa kata?”

“Binatang, tumbuhan, bebatuan, sungai, semua makhluk tanpa kata.”

“Wow!” Mata Rafe tambah bersinar penuh kekaguman. “Siapa namamu, Nak?”

Fay mendelik sebal. ‘Nak’! Rafe memanggilnya ‘Nak’! “Aku sudah tiga belas tahun sejak kemarin,” sahutnya dingin. Jelas dia bukan anak-anak lagi!

“Benarkah? Kau baru berulang tahun?” Senyuman Rafe bertambah lebar tanpa peduli nada dingin gadis itu. “Selamat ulang tahun, hmm… boleh tahu namamu?”

Lagi-lagi Fay menimbang dan sekali lagi pula memutuskan untuk menjawabnya. Senyuman Rafe membuatnya merasa nyaman. Perasaannya mengatakan bahwa ia bisa mempercayai pemuda ini. “Fay.”

“Fay,” gumam Rafe seakan sedang merekam baik-baik nama Fay di dalam hatinya. “Hati yang bijak. Namamu indah, seperti pemiliknya.”

Kalimat itu secara misterius membuat Fay merasa rasa senang menghinggapi dirinya. Sepertinya Rafe bisa menjadi teman yang asyik.

“Dia sedang merayumu, Fay.”

Fay menoleh pada Wen yang mencicit di sampingnya. “Apa?”

“Apa katanya?” tanya Rafe penasaran.

“Katanya kau sedang merayuku. Apa artinya?”

Tawa Rafe meledak tiba-tiba.

“Mengapa kau tertawa?” Fay tersinggung.

“Aku tidak merayumu kok.” Mata Rafe berubah tajam dan bersinar aneh menatapnya. “Kalau aku merayumu, aku akan melakukan ini.” Pemuda itu bergerak mendekatinya dengan cepat, bahkan Rhata pun tak sempat mengeram protektif. Tiba-tiba saja wajah Rafe berada begitu dekat di depan wajah Fay. Jarak mereka kurang dari sejengkal tangan dan selanjutnya bibir pemuda itu menempel sekilas di bibir Fay.

Rhata mengaum gusar hendak menerjang Rafe membuyarkan keterpanaan Fay akan apa yang baru saja terjadi.

“Rhata!” Seruan Fay langsung menahan beruang itu dan memberi cukup waktu bagi Rafe untuk segera menjauh.

“Manusia lancang! Akan kucincang kau!”

Rafe pun bengong dengan apa yang barusan dilakukannya, lalu menyengir maaf. “Padahal aku tidak bermaksud sampai menciummu, tapi kau terlalu manis sih.” Lalu ia menatap Fay mengamati reaksi gadis itu dan heran dengan hasilnya. Ia mengharapkan setidaknya ada reaksi yang luar biasa, seperti marah, malu dengan wajah merah, atau apa saja, tetapi Rafe sama sekali tidak menemukannya dari diri gadis itu.

Fay menatap Rafe bingung lalu bertanya. “Aku jadi tidak mengerti? Apa merayu itu sama dengan tawaran persahabatan?”

Pertanyaan polos Fay itu membuat alam dan seisinya seakan terpana, tak terkecuali Rafe dan ketiga binatang teman-teman Fay. Tak lama kemudian keheningan di antara mereka pun terpecah dengan dengusan tawa Rafe diikuti dengan kerutan dahi Fay.

Bukankah apa yang dilakukan Rafe itu sama seperti ketika ibunya dan Lon lakukan terhadapnya, bedanya mereka melakukannya di dahi atau pipinya. Itu ungkapan kasih sayang. Ungkapan persahabatan. Apa yang lucu?

—ooo—

Fiona menghela nafas panjang setelah menutup pintu kamarnya dan bersandar di sana. Banyak hal yang terjadi dalam beberapa minggu ini cukup mengguncang-guncang jiwanya. Melakukan laporan pada Jenderal Zephar lah yang paling mengganggunya.

Lama tidak melihatnya, sang jenderal masih tampak gagah di usianya yang sudah kepala lima. Rambut putihnya semakin bertambah tetapi kharismanya masih tetap ada, bahkan mungkin bertambah berkat rambut putihnya. Hanya saja, Fiona merasa, sorot matanya tidak lagi sama seperti dulu. Mata yang hangat dan bersinar setiap kali Fiona memanggilnya ‘Ayah’. Sudah berapa lama kah sejak itu? Dua tahun? Tiga tahun? Empat tahun? Bahkan Fiona sudah berhenti bertanya-tanya alasan perubahan sifat ayahnya itu.

Cukuplah soal itu. Fiona tidak ingin memikirkannya lagi. Ia beranjak dari sana dan masuk ke kamar mandi. Dengan cepat dilepasnya seragam perwiranya dan masuk ke dalam pancuran air hangat dengan sedikit harapan, air pancuran yang membasahi tubuhnya bisa membawa pergi semua kegundahan hatinya.

Selesai mandi, hanya berbalutkan jubah mandi, ia duduk di depan cermin menyisir rambutnya. Gadis di dalam cermin itu nampak kusam dan muram, rambut panjangnya nampak kusut, membuat Fiona bertanya-tanya, sudah berapa lama berlalu sejak ia merawat dirinya? Sebagai seorang perwira menengah, waktunya banyak tersita untuk pekerjaannya. Yang ada di sekelilingnya kalau bukan orang-orang tua petinggi militer ya medan perang atau mayat bergelimpangan.

Fiona menghela nafas. “Aku jadi lemah.”, gumamnya. Mungkin pertemuan dengan ayahnya tadi siang membuatnya sedikit melankolis. Tiba-tiba tanpa sengaja, matanya tertuju pada liontin berbatu putih yang terpantul di cerminnya. Ia pun beranjak dan meraih batu putih yang tergeletak di meja kecil sebelah tempat tidurnya.

“Dari mana kau mendapatkan batu itu?!”

Sosok tampan bermata hijau dingin yang mengatakan kalimat itu langsung menghampiri ingatannya. Fiona hanya bertemu dengan Cyant dua kali dan dua kali pula, ia berhutang nyawa pada pemuda itu.

Cyant selalu menatapnya dingin penuh permusuhan, karena Fiona adalah sang penjajah dan Cyant adalah si terjajah. Tetapi anehnya, Fiona tidak keberatan. Ada rasa nyaman dan aman ketika Fiona berada di dekat dengan pemuda itu, seakan mereka sudah lama saling mengenal. Ingin rasanya membawa jiwa dan raganya berjumpa lagi dengan pemuda itu.

Seketika batu putih itu bersinar terang mengejutkannya. Begitu terang hingga ia mengira matanya telah buta. Sinar itu perlahan-lahan memudar setelah beberapa detik sehingga Fiona bisa membuka matanya perlahan-lahan dan ia membeku melihat sosok yang terbaring di tempat tidurnya.

Apakah ia bermimpi?

Sosok itu nampak terluka dengan perban membelit dada dan kepalanya, dan sama terkejutnya dengan Fiona. Mata hijaunya membelalak kaget. Beberapa saat kemudian, kata-katanya memecah keheningan, “Kau… apa yang kau lakukan di sini?”

“Cyant..? Kau terluka?” Sejenak Fiona tidak peduli dengan apa yang terjadi. Ia hanya peduli dengan apa yang dilihatnya. Cyant terbaring lemah di sana. Bercak-bercak darah di perban-perban itu membuatnya cemas.

Cyant mendengus pelan. “Bukan urusanmu, Skier.” Ia melengos. “Lebih baik kau menjelaskan mengapa kau ada di kapal Ed dan dengan hanya memakai baju minim begitu.”

Wajah Fiona langsung merona merah dan spontan menggunakan tangannya menutupi tubuhnya. “Maaf.”, ucapnya spontan. Tunggu dulu. Mengapa ia harus minta maaf? Ini kan kamarnya dan Cyant lah si penyusup. Fiona juga merasakan ada yang aneh dengan kata-kata Cyant.

“Cyant, ini bukan kapal Ed. Ini markas militer Sky Imperium.”

Pemuda itu kembali melotot kaget. “Apa! Tidak mungkin! Ini klinik Skidbladnir.”

“Batu itu..”, cetus Fiona.

“Apa?”

Diperlihatkannya liontin batu putihnya pada Cyant. “Batu ini bersinar sebelum tiba-tiba kan berbaring di tempat tidurku.”

Cyant terdiam. Tatapannya terpaku pada Fiona membuat dada gadis itu berdesir aneh. Kemudian pemuda itu membuka salah satu genggamannya dan memperlihatkan isinya. Batu yang sama dengan milik Fiona, hanya saja berwarna merah. “Hal yang sama terjadi pada batu ini.”, gumamnya lebih pada dirinya sendiri. “Apa yang terjadi?”

Selagi Cyant tenggelam dalam pikirannya, Fiona menatap pemuda itu dan merasakan desiran di dadanya semakin kuat. Ia sedang memikirkan pemuda itu saat memegang batu putih itu dan berharap bisa berjumpa dengannya. Mungkinkah batu ajaib itu merespon apa yang ada di dalam hatinya.

“Apa yang kau pikirkan sewaktu menggenggam batu itu?” Pertanyaan blak-blakan itu langsung membuat wajah Fiona terasa semakin memanas.

“A..apa?”

“Kau dengar aku.”, sahut Cyant dengan suara dinginnya yang biasa.

Fiona terdiam. Menimbang-nimbang apakah ia akan memberitahu Cyant yang sebenarnya atau tidak.

“Aku sedikit teringat padamu.”, ujar Cyant sebelum Fiona selesai berpikir. Suaranya terdengar sedikit melembut. Atau memang cuma perasaan Fiona saja?

Kenyataan Cyant ternyata sedang memikirkannya -walaupun hanya sedikit- membuat Fiona merasakan sukacita yang amat sangat dan sangat sulit menyembunyikannya. “A..aku juga sedikit teringat padamu.” Suaranya pasti kedengaran aneh di telinga Cyant.

Jika Cyant pada saat yang sama sedang memikirkannya, apakah kedua batu itu merespon keinginannya dan Cyant karena kebetulan mereka memiliki pikiran yang sama? Fiona menatap Cyant dan menemukan pemuda itu sedang menatapnya. Nampaknya pemuda itu pun berpikiran sama.