Tag Archive: cinta


ISBN: 978-602-8224-80-2
Penerbit: Ufuk Press
Penerjemah Indonesia: Melody Violin
Terbit: 15 Maret 2010
Ukuran: 14 x 20.5 cm
Halaman: 664 halaman
Harga: Rp. 89900

Pernahkah kau melihat sesuatu yang tidak tampak di mata orang lain?

Itulah yang dialami Clary Fray, ketika mengunjungi sebuah diskotik bersama sahabatnya, Simon. Sejak itu dunia Clary berubah drastis. Dimulai dari hilangnya Jocelyn, ibu Clary dan serangan iblis di rumahnya sendiri yang membuat nyawanya nyaris melayang, Clary memasuki dunia baru yang penuh petualangan, namun gelap dan berbahaya. Disana pula, Clary mempelajari kenyataan bahwa dunia ini cukup luas untuk dihuni berbagai macam makhluk selain manusia. Salah satunya adalah Nephilim, manusia berdarah malaikat yang diciptakan Piala Mortal untuk menjadi Pemburu Bayangan, dimana Jace adalah salah satunya.

Bersama dengan pemuda berambut keemasan itu, Clary menghadapi petualangan berbahayanya yang seakan tiada henti, demi menyibak tabir misteri yang menyelubungi segala hal yang terjadi. Mengapa gadis biasa seperti Clary  tiba-tiba mendapatkan “pengelihatan” baru? Mengapa Jocelyn menghilang? Siapakah Valentine yang disebut-sebut sebagai penculik ibunya? Apa hubungannya dengan Piala Mortal? Ketika satu per satu tabir itu disibak, sanggupkah Clary menanggung segala kenyataan yang datang bertubi-tubi? Bagaimana bila kenyataan yang selama ini dipercayainya ternyata adalah kebohongan belaka?

Buku ini adalah buku pertama dari trilogi The Mortal Instrument karangan Cassandra Clare. Bisa dibilang merupakan pembuka dari sebuah kisah fantasi yang panjang. Pada awal membaca, mungkin pembaca akan sedikit bosan dengan banyaknya informasi mengenai dunia yang dibangun Clare ini dan jalan cerita yang nampaknya sederhana dan sudah umum. Namun bila diikuti terus, maka pembaca tidak akan kecewa dengan alur yang disuguhkan Clare. Apalagi deskripsi dunia ini dituliskan cukup detail namun ringkas mampu merangsang pikiran pembaca untuk berimajinasi. Ungkapan “Makin dilihat makin menarik” sangat tepat untuk kisah ini.

Hampir setiap tokoh dalam kisah ini dibahas cukup mendalam mengenai perasaan dan masa lalunya masing-masing, serta memiliki peran yang cukup penting untuk jalan cerita alias tidak akan lewat begitu saja dengan sia-sia, sehingga pembaca akan merasakan penokohan yang cukup kuat untuk masing-masing karakter. Hubungan cinta yang rumit dan menghanyutkan di antara para tokohnya, berhasil diselipkan Clare di sela-sela jalan cerita sebagai penyegar. Selain itu, tema fanatisme yang merupakan salah satu tema utama dalam kisah ini dan mampu membuat pembacanya merenung bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk tidak bersatu. Perbedaan justru membuat hidup ini menjadi lebih berwarna.

Akhir kata, Cassandra Clare benar-benar piawai membuat jalan cerita dengan sedemikian rupa sehingga memukau pembacanya dengan kejutan-kejutan yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya. Ending yang manis dan jalan cerita yang unik inilah yang membuat cukup alasan bagi saya untuk menantikan buku selanjutnya. Bila anda menyukai kisah-kisah fantasi berlatar ghotic seperti Twilight (Stephenie Meyer), Underworld, Blade, Vampire Diaries, maka hampir pasti anda akan menyukai kisah yang satu ini.

Cahaya Hati II-1

Farrel menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah bercat putih. Rumah itu tidak sebesar rumahnya dan tidak buruk untuk dijadikan tempat tinggal, tapi ia tidak akan mau tinggal di tempat sumpek seperti ini. Sebuah mobil diparkir di halamannya yang kecil menandakan sang tuan rumah ada di tempat. Seorang gadis remaja berpakaian lusuh keluar membukakan pagar begitu ia menunggu sejenak setelah menekan bel. “Selamat malam, Mas Farrel.”, ucapnya takut-takut.

“Karel ada?”

“Ada, Mas. Bapak dan Ibu juga ada.” Gadis itu membimbingnya masuk dan duduk di sebuah ruangan seukuran kamar mandinya dengan kursi sofa yang lumayan empuk. Terdapat foto keluarga di dinding dimana ibunya berfoto di sana, sambil menggendong seorang bayi mungil, bersama Karel dan seorang pria.

“Farrel.”

Farrel menoleh ke arah suara itu. Ibunya tersenyum menyambutnya dengan seorang bayi sedang tertidur dalam gendongannya. Ya, setelah bercerai dengan ayahnya, ibunya menikah lagi dan setelah 5 tahun pernikahan itu, barulah ibu dan suami barunya memiliki anak. Ayah tirinya bukanlah orang kaya seperti ayahnya, karena itu Farrel tidak pernah habis pikir, mengapa ibunya meninggalkan keluarga mereka demi kemiskinan seperti ini? Kendati hubungannya dengan ibunya sudah membaik, tetapi ia masih belum sepenuhnya memaafkan ibunya. Setidaknya ia sudi datang ke rumah ini walaupun semata-mata karena Karel.

“Karel kenapa, Ma?”, tanya Farrel tanpa basa-basi.

“Badannya panas sejak kemarin dan tadi ia mengigau memanggil namamu.”

“Dimana dia?” “Di kamarnya bersama Oom Darwin.” Darwin adalah ayah tirinya.

Tanpa banyak bicara, Farrel melangkah menuju kamar Karel. Sembari berjalan, ia melirik ke bayi perempuan dalam gendongan ibunya. Tania memang bayi yang cantik tetapi Farrel tidak sedikit pun merasa bayi itu adiknya.

Karel nampak sedang tidur di ranjangnya yang berseprai Spiderman. Kompres es berteger di dahinya untuk melawan panas tubuhnya. Darwin nampak duduk di sisi ranjangnya. Ekspresinya antara cemas dan lega begitu melihat Farrel datang. “Farrel sudah datang rupanya.” Pria itu tersenyum tidak mempedulikan tatapan dingin Farrel.

Suami ibunya ini memang memiliki sifat pendiam dan batas kesabaran yang luar biasa, sehingga sulit untuk membencinya sebenarnya. Tetapi bagaimana pun juga, bagi Farrel, Darwin lah penghancur keluarganya. Ia tidak bisa tidak membenci pria itu.

“Karel.” Farrel menggenggam jari-jari mungilnya. “Aku di sini.”

Adiknya membuka matanya, begitu melihat kakaknya, Karel pun tersenyum. “Kak Farrel.” Farrel menghela nafas lega. Dirasakannya ibunya dan Darwin meninggalkan ruangan itu supaya kakak beradik itu bisa berbicara lebih leluasa.

“Apa yang terjadi? Kok bisa sakit begini?”

Karel terdiam sejenak lalu menjawab. “Mungkin karena kemarin aku hujan-hujanan, Kak. Karena minjamin payung sama teman.”

“Kamu jangan buat Kakak khawatir dong.”, desah Farrel. “Kamu harus bisa jaga diri. Kan sudah kelas dua.”

Karel meringis. “Iya, Kak. Mama juga marahin aku, tapi Daddy sama sekali ga marah. Katanya jadi anak laki-laki harus gagah, harus bisa lindungin anak perempuan.” Ia terlihat tersipu-sipu. Karel memang memanggil ‘daddy’ pada Darwin, untuk membedakannya dengan panggilan ‘papa’ pada ayah kandung mereka.

“Oh, jadi teman yang dipinjamin payung itu cewek.” Farrel tertawa. Ia mengusap sayang kepala adiknya.

Karel menatap Farrel tak berkedip. Terlihat sekali ia menimbang-nimbang ingin mengatakan sesuatu. “Kak.” Akhirnya ia memutuskan untuk mengatakannya. “Kenapa Kakak tidak mau tinggal bersamaku di sini? Aku selalu kangen sama Kakak.”

Mana mungkin Farrel sudi tinggal bersama dua orang yang telah melukai hatinya begitu parah di masa lalu itu. Ayahnya mungkin orang sibuk yang jarang di rumah dan tidak mempedulikannya, tetapi bukan ayahnya yang berselingkuh, bukan ayahnya yang meninggalkannya, bukan beliau pula yang menghancurkan keluarga mereka. Tapi ia tidak mungkin mengatakan hal ini pada Karel. “Karel, ini sudah malam. Kakak pulang dulu ya.”, ujarnya menghindari pertanyaan Karel.

Adiknya menganguk kemudian memejamkan matanya. Ia pun beranjak keluar dari kamar itu. Di ruang tamu, ibunya dan ayah tirinya sedang duduk menunggunya.

“Terima kasih ya, Farrel.” Darwin tersenyum padanya. Matanya terlihat tulus, namun membuatnya semakin jijik pada pria itu.

“Datanglah sering-sering untuk menemui Karel.”, ujar ibunya. “Ia sering merindukanmu.”

Farrel tidak menanggapi keduanya.

“Farrel.”

Apa lagi sih!

“Mama mohon, jangan minum-minum lagi.”

Hmm…mencoba jadi ibu yang baik rupanya. Ditatapnya wajah ibunya dingin. Lagi-lagi ia tidak mengatakan apapun. Hanya mengangkat bahu lalu berlalu. Ia masuk ke dalam mobilnya dan melihat jam digital sudah menunjukkan pukul 11 malam. Dinyalakannya mesin mobil itu. Sekilas dilihatnya ibunya berdiri di pagar menatapnya menjauh. Persetan! Farrel tidak peduli. Ia memacu mobilnya ke pub tempat teman-temannya sudah menunggunya, tempat dimana semua masalahnya dapat dikirimnya ke dunia mimpi.

–000–

Perasaan Manusia

Suatu ketika hiduplah di sebuah pulau terpencil berbagai perasaan manusia, KEBAHAGIAAN, KESEDIHAN dan perasaan-perasaan lain, termasuk CINTA.

Pada suatu hari terdengar pengumuman bahwa pulau tempat mereka tinggal itu akan tenggelam. Karena itu sebaiknya mereka cepat-cepat menyediakan perahu untuk segera meninggalkan pulau.

Ketika perasaan-perasaan lain sibuk menyelamatkan diri, CINTA memilih berdiam di pulau itu. Ia terlanjur sayang pada pulau tersebut. CINTA bertekad untuk mempertahankan hidupnya di pulau itu, sampai pulau itu tenggelam. Sanggupkah CINTA bertahan? Ketika pulau itu hampir tenggelam seluruhnya, CINTA memutuskan untuk keluar mencari dan meminta bantuan.

Tiba-tiba KEKAYAAN melintas di hadapan CINTA, menumpang sebuah kapal besar. Melihat itu CINTA berteriak,”Hei, KEKAYAAN, maukah engkau menolong saya dan membiarkan saya menumpang di kapalmu?”

Mendengar seruan itu, KEKAYAAN menjawab, “Sori, tidak ada tempat bagimu. Kapalku sudah penuh dengan emas dan perak!”

Tidak lama kemudian lewat KESOMBONGAN pun lewat. CINTA juga meminta tolong kepada KESOMBONGAN, katanya, ”KESOMBONGAN, tolong bantu aku.”

KESOMBONGAN menjawab. “Aku tidak bisa membantumu, CINTA. Kamu dalam keadaan basah dan mungkin saja akan mengotori perahuku.”

KESEDIHAN juga lewat di depan CINTA. Begitu melihat KESEDIHAN lewat, CINTA berteriak,”KESEDIHAN, izinkan aku pergi bersamamu.”

Tapi KESEDIHAN menjawab, “Oh CINTA, saya selalu bersedih, karena itu saya lebih suka menyendiri !”

KEBAHAGIAAN pun sedang berlayar melewati CINTA, tetapi karena begitu berbahagia hatinya, dia bahkan tidak mendengar seruan minta tolong dari mulut CINTA.

Tiba-tiba terdengar suara dari orang yang sudah tua, “Kemarilah CINTA, kemarilah. Aku akan menyelamatkanmu!” CINTA merasa sangat beruntung dan saking gembiranya sehingga ia lupa menanyakan nama orang yang bersuara tersebut.

Ketika mereka tiba di daratan, orang tua itu beranjak meninggalkan CINTA seorang diri. Menyadari betapa ia berhutang budi pada orang tua itu, CINTA meminta orang tua lainnya bernama PENGETAHUAN untuk membantu dia. CINTA pun bertanya kepada PENGETAHUAN, “Beritahu aku, siapa yang tadi menolongku ?”

“Yang tadi menolongmu itu namanya WAKTU,” jawab PENGETAHUAN.

“WAKTU?” tanya CINTA. Mengapa WAKTU mau membantuku ?”

Sambil tersenyum. PENGETAHUAN menjawab, “Karena hanya WAKTU yang bisa memahami betapa besarnya CINTA.”