Tag Archive: cahaya


Cahaya Hati II-1

Farrel menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah bercat putih. Rumah itu tidak sebesar rumahnya dan tidak buruk untuk dijadikan tempat tinggal, tapi ia tidak akan mau tinggal di tempat sumpek seperti ini. Sebuah mobil diparkir di halamannya yang kecil menandakan sang tuan rumah ada di tempat. Seorang gadis remaja berpakaian lusuh keluar membukakan pagar begitu ia menunggu sejenak setelah menekan bel. “Selamat malam, Mas Farrel.”, ucapnya takut-takut.

“Karel ada?”

“Ada, Mas. Bapak dan Ibu juga ada.” Gadis itu membimbingnya masuk dan duduk di sebuah ruangan seukuran kamar mandinya dengan kursi sofa yang lumayan empuk. Terdapat foto keluarga di dinding dimana ibunya berfoto di sana, sambil menggendong seorang bayi mungil, bersama Karel dan seorang pria.

“Farrel.”

Farrel menoleh ke arah suara itu. Ibunya tersenyum menyambutnya dengan seorang bayi sedang tertidur dalam gendongannya. Ya, setelah bercerai dengan ayahnya, ibunya menikah lagi dan setelah 5 tahun pernikahan itu, barulah ibu dan suami barunya memiliki anak. Ayah tirinya bukanlah orang kaya seperti ayahnya, karena itu Farrel tidak pernah habis pikir, mengapa ibunya meninggalkan keluarga mereka demi kemiskinan seperti ini? Kendati hubungannya dengan ibunya sudah membaik, tetapi ia masih belum sepenuhnya memaafkan ibunya. Setidaknya ia sudi datang ke rumah ini walaupun semata-mata karena Karel.

“Karel kenapa, Ma?”, tanya Farrel tanpa basa-basi.

“Badannya panas sejak kemarin dan tadi ia mengigau memanggil namamu.”

“Dimana dia?” “Di kamarnya bersama Oom Darwin.” Darwin adalah ayah tirinya.

Tanpa banyak bicara, Farrel melangkah menuju kamar Karel. Sembari berjalan, ia melirik ke bayi perempuan dalam gendongan ibunya. Tania memang bayi yang cantik tetapi Farrel tidak sedikit pun merasa bayi itu adiknya.

Karel nampak sedang tidur di ranjangnya yang berseprai Spiderman. Kompres es berteger di dahinya untuk melawan panas tubuhnya. Darwin nampak duduk di sisi ranjangnya. Ekspresinya antara cemas dan lega begitu melihat Farrel datang. “Farrel sudah datang rupanya.” Pria itu tersenyum tidak mempedulikan tatapan dingin Farrel.

Suami ibunya ini memang memiliki sifat pendiam dan batas kesabaran yang luar biasa, sehingga sulit untuk membencinya sebenarnya. Tetapi bagaimana pun juga, bagi Farrel, Darwin lah penghancur keluarganya. Ia tidak bisa tidak membenci pria itu.

“Karel.” Farrel menggenggam jari-jari mungilnya. “Aku di sini.”

Adiknya membuka matanya, begitu melihat kakaknya, Karel pun tersenyum. “Kak Farrel.” Farrel menghela nafas lega. Dirasakannya ibunya dan Darwin meninggalkan ruangan itu supaya kakak beradik itu bisa berbicara lebih leluasa.

“Apa yang terjadi? Kok bisa sakit begini?”

Karel terdiam sejenak lalu menjawab. “Mungkin karena kemarin aku hujan-hujanan, Kak. Karena minjamin payung sama teman.”

“Kamu jangan buat Kakak khawatir dong.”, desah Farrel. “Kamu harus bisa jaga diri. Kan sudah kelas dua.”

Karel meringis. “Iya, Kak. Mama juga marahin aku, tapi Daddy sama sekali ga marah. Katanya jadi anak laki-laki harus gagah, harus bisa lindungin anak perempuan.” Ia terlihat tersipu-sipu. Karel memang memanggil ‘daddy’ pada Darwin, untuk membedakannya dengan panggilan ‘papa’ pada ayah kandung mereka.

“Oh, jadi teman yang dipinjamin payung itu cewek.” Farrel tertawa. Ia mengusap sayang kepala adiknya.

Karel menatap Farrel tak berkedip. Terlihat sekali ia menimbang-nimbang ingin mengatakan sesuatu. “Kak.” Akhirnya ia memutuskan untuk mengatakannya. “Kenapa Kakak tidak mau tinggal bersamaku di sini? Aku selalu kangen sama Kakak.”

Mana mungkin Farrel sudi tinggal bersama dua orang yang telah melukai hatinya begitu parah di masa lalu itu. Ayahnya mungkin orang sibuk yang jarang di rumah dan tidak mempedulikannya, tetapi bukan ayahnya yang berselingkuh, bukan ayahnya yang meninggalkannya, bukan beliau pula yang menghancurkan keluarga mereka. Tapi ia tidak mungkin mengatakan hal ini pada Karel. “Karel, ini sudah malam. Kakak pulang dulu ya.”, ujarnya menghindari pertanyaan Karel.

Adiknya menganguk kemudian memejamkan matanya. Ia pun beranjak keluar dari kamar itu. Di ruang tamu, ibunya dan ayah tirinya sedang duduk menunggunya.

“Terima kasih ya, Farrel.” Darwin tersenyum padanya. Matanya terlihat tulus, namun membuatnya semakin jijik pada pria itu.

“Datanglah sering-sering untuk menemui Karel.”, ujar ibunya. “Ia sering merindukanmu.”

Farrel tidak menanggapi keduanya.

“Farrel.”

Apa lagi sih!

“Mama mohon, jangan minum-minum lagi.”

Hmm…mencoba jadi ibu yang baik rupanya. Ditatapnya wajah ibunya dingin. Lagi-lagi ia tidak mengatakan apapun. Hanya mengangkat bahu lalu berlalu. Ia masuk ke dalam mobilnya dan melihat jam digital sudah menunjukkan pukul 11 malam. Dinyalakannya mesin mobil itu. Sekilas dilihatnya ibunya berdiri di pagar menatapnya menjauh. Persetan! Farrel tidak peduli. Ia memacu mobilnya ke pub tempat teman-temannya sudah menunggunya, tempat dimana semua masalahnya dapat dikirimnya ke dunia mimpi.

–000–

Advertisements

Cahaya Hati I-3

Farrel sudah menguap mendengar cerita Erick tentang kisahnya bersama pacar terakhirnya. Erick langsung mendelik padanya. “Tega banget lu. Cerita seru begini malah nguap!”

“Ah, si bos mah sudah ada Mira yang seksi.”, tukas Denis sambil menelan ludah dengan mata menerawang nakal. Entah apa yang sedang dibayangkan si idiot satu ini. “Ya kan, Bos? Aduh!” Denis langsung menatap protes pada pemukul kepalanya, Lukman.

“Berisik banget sih lu berdua.”, tukas Lukman. “Sudah sana, belikan nasi Bu Gembrot. Gue nasi kuning. Lu apa, Rel?” Farrel menyebutkan pesanannya, diikuti Erick.

Denis pun menggerutu sambil menjentikkan jari memanggil anak kelas satu yang kelihatan polos dan melimpahkan tugas membeli makanan pada anak itu. Anak itu terbengong-bengong ketika Denis menyuruhnya begitu saja.

“Apa lagi?!”, decak Denis kesal.

“Umm.. U..uangnya, Bos Denis?”

“Urusan kecil digede-gedein! Pake aja duit lu! Udah, cepat pergi sana! Gak pake lama! Atau lu mau ngerasain ini?!”, bentak Denis sambil menunjukkan kepalan tinjunya. Anak itu langsung ketakutan dan langsung melesat pergi dan Denis pun tersenyum puas.

“Gara-gara semalam dugem ya?”, tanya Lukman pada Farrel. Farrel mengiyakan sambil menguap lagi.

“Sama siapa? Kok ga ngajak-ngajak?”, protes Erick sambil melirik Denis yang nampak cengar-cengir bangga. “Tega lu bertiga!”

“Lah, lu kan lagi asyik masyuk sama cewek baru lu.”

“Oh iya.”

“Kemarin gue juga sebenarnya malas.”, ujar Farrel sambil merebahkan kepalanya di meja.

“Tapi si gendut itu butuh pelajaran. Ada yang mergokin dia sering mangkal di kafe sebelah pub.”, sambung Denis berapi-api.

Erick langsung mengerti, Farrel memang bermasalah dengan seorang anak kelas tiga. Denis pun langsung nyerocos tentang betapa kuatnya Farrel sewaktu menghajar anak itu. “Habis itu kita langsung main ke sebelahnya sampai pagi.”

Farrel menguap lebar begitu makanan mereka datang. Anak kelas satu itu segera menyingkir setelah Denis mengusirnya.

“Makanya minum kopi, Rel.”, tukas Lukman tertawa. “Lu kelihatan mirip zombie, tahu gak?”

“Lu kan tahu, perut gue gak tahan sama kopi.”

“Tapi sama Martini tahan.”, gelak Erick.

Farrel tertawa sambil membuka kaleng minumannya dan di saat itu lah ia melihat Tasya datang bersama dengan anak baru itu. Perhatian langsung ke arah gadis itu. Semakin lama memperhatikannya, semakin Farrel yakin bahwa ia pernah melihat gadis itu sebelumnya tetapi ia memang tidak ingat dimana dan kapan. Ia pun memakan makanannya cepat-cepat hingga membuat teman-temannya heran.

“Lapar apa doyan, Rel?”

Tidak ditanggapinya omongan Erick, ia bangkit berdiri sambil mengisyaratkan teman-temannya ikut berdiri. Begitu melihat gadis baru itu, mereka pun menurut tanpa berkata apa-apa.

Seperti biasanya, berlaku istilah konyol Denis, ‘bila Farrel mendekat, maka korban memucat’. Farrel sebenarnya tidak begitu suka istilah itu, tetapi sering terbukti benar, khususnya di saat ini. Tiga orang teman sekelasnya yang bersama anak baru itu nampak sepucat tikus yang dipojokkan kucing, tetapi anak baru itu -dibandingkan pucat- lebih tepat bila memakai istilah bingung.

“Hei!” Farrel tanpa basa-basi. “Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”

“Hah?” Hanya itu yang terucap dari bibir gadis itu, selanjutnya bengong menatap Farrel sehingga membuatnya sebal.

“Ditanya malah bengong!”, bentak Farrel. “Punya otak gak sih…?”

“Saya tidak pernah bertemu denganmu sebelumnya.” Daripada menjawab, lebih tepat dibilang menyela. Gadis itu kini menatap Farrel dengan tegas. Yah, memang inilah yang sering dilakukan oleh orang yang tidak tahu reputasi dirinya sebagai penguasa sekolah. Tetapi dengan sedikit gertakan, ia biasanya bisa langsung mengendalikan situasi.

Denis langsung menjitak kepala gadis dengan kasar. “Heh! Nyolot banget sih lu! Gak bisa jawabnya baik-baik?”

Gadis itu kelihatan tidak suka dan hendak menepis tangan Denis, tetapi di saat itu lah Tasya langsung berdiri dan berkata dengan suara agak gugup. “Ah! A..aku baru ingat! Lita, kita kan belum keliling sekolah! Farrel, Denis, semuanya, maaf ya. Kami harus segera pergi. Tahu kan, salah satu tugas ketua kelas itu harus memperkenalkan sekolah ini kepada anak baru.” Tasya langsung menarik tangan anak baru itu dan berlalu dari situ. Begitu pula dengan Hestin dan Heri.

“Heh! Tunggu..!”

“Tidak usah. Biarkan saja mereka.” Farrel menahan Denis. Kemudian mereka menyadari seisi kantin sedang menonton kejadian kecil itu.

“Apa lihat-lihat!”, teriak Denis. “Mau ngerasain ini!” Ia mengacung-acungkan kepalan tinjunya lagi. Kontan serentak seisi kantin langsung menghentikan tatapan mereka dan melanjutkan apapun aktivitas mereka sebelumnya.

Lukman menatap Farrel sambil mendengus tertawa. “Dengar ga cara ngomongnya?”

“Formal tapi manis.” Erick masih menatap punggung Tasya dan anak baru itu yang sudah jauh. Entah apa yang dimaksud manis oleh Erick, cara bicaranya atau hal lain. “Jangan-jangan asalnya dari pelosok Sukabumi.”

“Kampungan! Belagu!”, desis Denis. “Bos, perlu dikasih pelajaran gak?”

Farrel tersenyum jahat. “Makanya gue bilang, gue lagi bosan.”

–ooo–

Lita menghempaskan dirinya di tempat tidurnya. Masih terngiang di telinganya apa yang dikatakan Tasya ketika mereka kabur dari kantin. Mereka memang tidak berkeliling sekolah karena waktu istirahat akan segera berakhir, tetapi Tasya menggunakan alasan itu untuk menghindari masalah dengan Farrel.

“Farrel itu bisa dibilang penguasa sekolah ini. Guru-guru saja takut sama dia.”

Pertanyaan Lita langsung terjawab seketika itu juga. Alasan mengapa Bu Sisca tidak menegur Farrel yang tidak memberi salam. “Mengapa bisa begitu?”

“Ayahnya Farrel itu yang punya yayasan sekolah ini. Makanya seberapa banyak pun ia buat masalah, ia tidak bakal dikeluarkan dan tidak bakal dihukum guru.” Tasya menoleh ke kanan dan ke kiri, kelihatan cemas. “Selain itu, geng mereka itu suka sekali menyiksa orang untuk bersenang-senang, membuat satu sekolah memusuhimu dan lebih parahnya lagi, mereka melakukannya dengan diam-diam sehingga tidak terdeteksi guru. Ya, tepatnya sih, guru-guru itu bukannya tidak tahu, tetapi mereka menutup mata karena mereka pandai menyembunyikan bukti.”

“Lalu mengapa kamu kelihatan seperti orang yang ketakutan, Tasya?”

Tasya menatap anak baru yang polos itu lurus-lurus. “Karena mata-mata mereka banyak, Lita. Dia bukan orang yang kau inginkan menjadi musuh.”

Lita terdiam sejenak. Rupanya hari pertamanya bukanlah awal yang baik. Ia memang tadi terbawa emosi karena perlakuan tidak sopan salah seorang anak buah si mata dingin itu dan kelihatannya si mata dingin tidak akan membiarkan masalah ini begitu saja.

Tasya juga bercerita bahwa pernah ada guru yang melawan Farrel, tetapi entah bagaimana caranya, guru itu akhirnya mengundurkan diri dan masih ada beberapa cerita lainnya. Terus terang semua cerita itu membuat Lita takut tetapi ia teringat akan ayahnya dan Pak Har yang baik hati. Bagaimana pun juga Lita harus menghadapinya tanpa menyusahkan mereka.

“Lita!”

Suara panggilan itu menyadarkannya dari lamunan. Gadis itu segera beranjak menuju dapur, asal suara itu. Seorang wanita tua bertubuh gemuk berdaster merah berdiri di sana. Rambutnya yang memutih dan dikonde basah oleh peluh karena habis memasak. Pak Har memang menawari Lita dan ayahnya tinggal di tempat yang sudah disediakan oleh beliau tetapi untunglah Lita ingat bahwa Oma, ibu dari ayahnya, memang tinggal di Bandung. Walaupun rumah Oma agak jauh dari HB, tetapi Lita lebih senang tinggal di rumah Oma daripada lebih banyak menerima kebaikan Pak Har.

Nampaknya Oma tidak melihat Lita datang, maka gadis itu menghampirinya sambil melihat-lihat masakannya. “Masak apa, Oma?”

“Oh, ini… cuma sayur asam kesukaan papamu.”, sahut Oma sambil mengangkat wajan dan menuangkan isinya ke sebuah mangkuk. “Coba kau tengok papamu sana.”

Lita menganguk dengan riang dan langsung menuju kamar tempat ayahnya berbaring. Terdengar suara berita di televisi dan ayahnya nampak sedang memejamkan matanya. Jantung Lita langsung berdegup panik, tubuhnya menegang, namun begitu dilihatnya dada ayahnya bergerak naik turun, ia langsung merasa lega. Rupanya beliau sedang tidur.

Ia pun duduk di kursi sebelah ranjang itu. Disentuhnya dengan lembut tangan ayahnya. “Pa, makanan sudah siap.” Mata itu perlahan-lahan membuka dan menatapnya. Sudut bibir itu juga tertarik sedikit. Lita pun tahu, ayahnya sedang tersenyum melihatnya. “Nanti Lita suapin ya, Pa. Sambil cerita tentang hari pertama Lita.”

Tak lama Oma masuk membawakan semangkuk sayur asam dan Lita mulai menyuapi ayahnya ditemani Oma.

“Oma tidak makan?”, tanya Lita. Wanita tua itu nampak sedang memperhatikan mereka.

“Oma juga kepingin mendengar cerita Lita di sekolah.”

Lita tertawa. “Oma menguping ya?”

Oma pun ikut tertawa. “Kamu sudah punya teman, Lita?”

Lita menganguk. “Ya, namanya Tasya. Dia ketua kelas Lita. Orangnya berkacamata dan kelihatan pintar.”

“Kapan-kapan ajak main ke rumah.”, ujar Oma. “Papamu juga senang kalau rumah jadi ramai.” Mata ayahnya mengerling tanda setuju.

Gadis itu pun tersenyum. “Ya, kapan-kapan akan Lita ajak.”

“Jangan lupa juga, sesekali mampir ke tempat Pak Har, bawakan oleh-oleh. Jangan sampai kita dikira mau bertamu kalau hanya ada maunya.” Gadis itu juga mengiyakan.

Oma meminta Lita bercerita seperti apa sekolahnya dan Lita pun menceritakannya dengan ceria, tentu saja tanpa menyebut-nyebut soal Farrel dan gengnya. Itu bukan masalah Oma, bukan masalah Papa dan bukan pula masalah Pak Har. Itu masalahnya dan harus dirinya lah yang menyelesaikannya.

–ooo–

Begitu bel istirahat berbunyi dan Bu Sisca keluar setelah sebelumnya memberikan mereka pekerjaan rumah, bagaikan kawanan sapi menemukan rumput, anak-anak kelas II-1 langsung berhamburan keluar kelas. Lita pun merasakan keheranan kedua, di sekolahnya yang dulu, bila ada anak baru, anak-anak sekelas pasti akan segera mengerubunginya seperti semut dan mulai memperkenalkan diri serta bertanya macam-macam. Apalagi kalau yang datang cantik atau ganteng, kaum lawan jenis lah yang lebih agresif bertanya. Lita tidak pernah merasa dirinya cantik tetapi ia tahu bahwa ia tidak jelek, setidaknya dulu ayahnya sering bilang bahwa dirinya cantik mirip dengan almahrumah ibunya. Eh, tapi itu tidak ada hubungannya kan?

Seakan mengerti kebingungan Lita, Tasya mengajaknya pergi ke kantin. “Kita ke kantin yuk. Sekalian habis makan, kalau masih ada waktu, aku antar kau keliling sekolah.”

Lita menganguk. “Terima kasih, Tasya.”

Tasya tertawa. “Jangan formal begitu ah, Lit. Aku jadi ikut-ikutan tegang nih.”

Setidaknya masih ada yang mau berbincang dengannya. Lita langsung merasa bersyukur dan yakin bisa berteman dengan gadis berkacamata ini.

Kantin sekolah terletak di bangunan kecil di belakang gedung kelas. Aneka makanannya bermacam-macam, sampai-sampai Lita merasa ia berada di supermarket, bukan di sekolahan. Anak-anak HB sudah ramai mengantri dan memesan makanan, bahkan meja kantin pun sudah terisi penuh.

“Mau makan apa, Lita?”, tanya Tasya. Matanya berkeliling mencari makanan yang tepat.

“hmm.. tidak tahu, Tas.” Boro-boro berpikir ingin makan, pusing rasanya berada di keramaian seperti ini.

“Sebenarnya aku ingin makan nasi Bu Dewi tapi kayanya udah keramean deh.” Tasya berucap lebih kepada dirinya sendiri sambil menatapi salah satu kios makanan yang ramai dikerubungi anak-anak kelaparan. Mata juga berkeliaran mencari meja kosong. “Tidak ada meja kosong juga!”, keluhnya.

“Tasya!”

Mereka berdua pun menoleh ke salah satu meja arah suara itu. Nampak seorang anak laki-laki dan anak perempuan berambut panjang duduk di sana. Yang perempuan melambaikan tangan ke arah mereka. Tasya pun mengajak Lita menghampiri mereka.

“Lita, ini Hestin dan Heri, pasangan bodoh di kelas kita.”

Hestin langsung mencubit lengan Tasya sambil menjabat tangan Lita. “Jangan dengerin ketua badut ini, Lit.”

“Bener, kita ini kan pasangan paling mesra di HB, ya kan, cay?”, sambung Heri mengedip genit ke arah pacarnya dan dibalas dengan kedipan lagi oleh gadis itu.

Tasya langsung berlagak pusing sambil memegang pundak Lita. “Aduh, mual aku, ngeliatin pasangan norak ini.”

“Mau kursi gak? Udah dicariin malah menghina.”, ancam Hestin. “Mendingan buat selonjoran kaki kita ya, cay.”

Buru-buru Tasya mengubah suara penuh rayuan. “Eh eh! Ampun, ampun, Nona Besar Hestin yang paling cantik. Makasih banyak udah nyariin kita kursi. Sebagai balasan, sini aku cubit-cubit pipinya yang montok.”

Lita dan Heri pun tertawa melihat Hestin teriak-teriak sambil melindungi kedua pipinya dari tangan ganas Tasya.

“Sudah ah bercandanya. Sudah dapat makan belum?”, tanya Heri.

“Mungkin makan pempek saja deh.”, ujar Tasya. “Kamu, Lit?”

Lita memandangi kios-kios makanan yang bertebaran dan nampak kebingungan. Bukan karena pilihan makanan yang terlalu banyak, Lita juga tidak tahu harga makanan di sini. Pak Har memang sudah memberinya uang saku tetapi ia tidak tahu cukup atau tidak untuk salah satu porsi makanan. Tentu harganya lebih mahal dibandingkan makanan di kantin sekolahnya yang dulu, kan?

“Hmm.. saya makan roti saja.”, ujar Lita akhirnya. “Tidak begitu lapar.” Cepat-cepat ia menambahkan karena ketiga teman barunya itu memandangnya heran.

“Oke.”, kata Tasya langsung berdiri. “Tunggu di sini saja ya. Aku yang akan belikan.” Gadis itu pun langsung melesat dan hilang dalam keramaian.

Sepeninggal Tasya, bertiga dengan Hestin dan Heri, Lita pun langsung larut dalam obrolan. Kebanyakan Hestin yang berbicara, tepatnya bertanya tentang dirinya.

“Oh, jadi mantan majikan ayahmu yang menyekolahkanmu di sini!” Hestin terkejut dan langsung memandang Heri.

“Ssstt, cay! Suaranya kekencengan!”, tegur anak lelaki itu.

“Ups, sori.”

Lita membenarkan dan tiba-tiba merasa minder berada di tengah-tengah kumpulan orang kaya. “Begitulah.”

“Mau gak, kita bilangin?” Heri berkata-kata serius.

Tubuh Lita langsung terasa menegang, karena Hestin pun nampak menatapnya lekat-lekat serius. Ia pun menganguk.

“Jangan bilang kau masuk sini karena dibiayai majikan ayahmu pada anak-anak lain. Bilang saja ayahmu kerja di luar kota jadi direktur atau apa kek!”

“Eh? Mengapa begitu?”

“Karena…” Hestin menjawab hampir berbisik sambil melirik ke kiri dan ke kanan. “…anak-anak di sini kebanyakan melihat ‘ini’” Gadis itu menggesekkan jari telunjuk dan jempolnya. Lita mengenalinya sebagai isyarat ‘uang’. Hatinya langsung mencelos.

“Hei, kalian bicara apa?” Ketiganya melonjak kaget dan langsung lega begitu melihat ternyata Tasya yang datang. “Gak ngomongin aku kan?”

Gadis itu langsung duduk menaruh nampan berisi semangkuk pempek, dua bungkus roti dan dua botol air mineral. “Nih, cepetan dimakan.”, ujarnya sambil menaruh bungkusan roti dan air mineral di hadapan Lita. “Supaya nanti sempat keliling sekolah.” Tak beberapa lama, gadis itu sudah melahap pempeknya sambil sesekali mencubit Hestin yang gencar menggodanya.

Sayangnya nafsu makan Lita sudah hilang semuanya. Hanya karena tidak enak pada Tasya yang sudah susah payah mengantri, ia berusaha menghabiskan kedua rotinya. Di sela tawa teman-teman barunya, ia melamun. Sesekali ia memang ikut tersenyum ketika ada yang melontarkan lelucon walaupun tidak terlalu mendengar. Pertanyaan berkutat di kepalanya. Demi mendapatkan teman, haruskah ia berbohong?

Tiba-tiba pandangan Lita yang menerawang terhalang oleh seseorang dan begitu sadar ia dan teman-temannya sudah dikerubungi oleh empat orang anak laki-laki. Tasya, Hestin dan Heri nampak panik dan gugup sehingga gadis itu langsung tahu bahwa ini bukan pertanda baik.

“Hei!” Suara bernada memerintah terdengar dari salah satu anak. Lita menoleh dan mengenalinya sebagai si mata dingin yang duduk di pojok kiri kelas. Kelihatannya ia adalah si pemimpin geng. “Apa kita pernah ketemu sebelumnya?”

“Hah?” Lita tertegun mendengar pertanyaan aneh itu. Apakah pernah bertemu sebelumnya? Diamatinya wajah si mata dingin. Tampan, tapi sayang…kelihatannya galak. Memorinya tidak mengenali wajah itu selain sebagai orang yang baru saja dilihatnya beberapa jam lalu di kelas.
–ooo–

Bandung, Februari 2000

Dentang jam sejumlah tujuh kali baru saja terdengar lima belas menit yang lalu, tetapi Farrel sudah menguap lebih dari dua puluh kali. Hari itu hujan turun cukup deras sehingga menciptakan suasana yang sangat mendukung untuk tidur. Berbagai macam suara berseliweran di seluruh penjuru kelas II-1 karena walaupun sudah jam masuk tetapi belum ada guru yang masuk ke kelas mereka.

“Bos.” Suara dan sentuhan Denis yang duduk di sebelahnya membangunkan Farrel yang hampir pulas. Begitu matanya membuka sedikit dan mengarah tajam ke arah anak itu, Denis menelan ludahnya gugup dan berkata, “I..itu, Bos. Bu Sis…Sisca s..sudah masuk…”

“Ada anak baru, Rel.” Lukman yang duduk di depan Farrel, buru-buru menyela kata-kata Denis yang terbata-bata mirip orang gagu. Teman-temannya tahu Farrel tidak suka dibangunkan dari tidurnya walaupun ada guru yang masuk. Toh, para guru itu pun tidak akan lagi mengganggunya karena mereka sudah hampir menganggapnya tidak ada.

“Berdiri! Beri hormat!” Terdengar seruan ketua kelas.

“Lumayan juga.”, ujar Erick yang duduk di sebelah Lukman di sela-sela pemberian salam selamat pagi itu.

Farrel yang memang hampir tidak pernah ikut berdiri itu pun mengangkat kepalanya dan mengalihkan tatapannya dari Denis, ke arah depan kelas. Nampak olehnya Bu Sisca sedang memperkenalkan seorang anak perempuan berambut panjang. “Selamat pagi. Anak-anak, hari ini kalian mendapat teman baru. Nah, Pelita, ayo perkenalkan dirimu.”

Gadis itu menganguk malu-malu, tetapi matanya yang bulat besar nampak bersemangat. “Se..selamat pagi. Na…nama saya Pelita. Pindahan dari Sukabumi. Sa..saya berharap bisa menjadi teman kalian.”

“Nah, kamu biasa dipanggil apa sebelumnya, Pelita?”, tanya Bu Sisca.

“Lita, Bu.” Gadis itu sedikit menunduk hormat pada sang guru, membuat Farrel langsung teringat pada sikap hormat pembantunya di rumah. Segera ia memperhatikan penampilan anak baru itu dengan seksama. Dia memang sudah memakai seragam sekolah ini, tetapi penampilannya biasa. Terlalu biasa untuk ukuran rata-rata murid perempuan di sekolah ini. Tidak ada satu pun perhiasan yang menempel di tubuh gadis itu. Biasanya murid sekolah ini selalu heboh pamer dandanan dan perhiasan sana sini. Maklum, SMU Harapan Bangsa ini –yang sering disingkat HB- memang sekolah swasta elit yang terkenal dengan biaya SPP-nya yang mahal karena itu anak-anak HB kebanyakan berasal dari keluarga serba ada yang mampu memfasilitasi anak-anaknya dengan pernak-pernik mewah.

“Cantik juga. Walaupun gayanya mirip pembantu di rumah.” Farrel mendengar bisikan Erick yang setengah menoleh ke belakang. Dari raut mukanya saja, Farrel sudah tahu apa isi otak si playboy temannya ini. “Tapi kayaknya kurang menantang nih. Cewek model begitu sih, pasti gampang dapatnya.”

“Sok tahu. Penampilan bisa menipu.”, ujar Lukman.

“Aku sih ogah. Kelihatannya anak miskin.”, tukas Denis lalu menoleh meminta persetujuan Farrel. “Ya kan, Bos?”

Farrel tidak menjawab. Ia memang tidak terlalu mendengar obrolan ketiga temannya karena sedang memperhatikan si anak baru. Sesaat tatapannya beradu dengan gadis itu dan Farrel merasakan ada yang familiar dengannya. Tetapi gadis itu langsung mengalihkan pandangannya dari Farrel, kemudian rupanya ia menemukan tempat duduknya di sebelah Tasya, si ketua kelas.

“Bosan nih.”, gumam Farrel. Ketiga temannya spontan menoleh ke arahnya dengan wajah terkejut. Itu merupakan kata sandi keempat sekawan itu.

“Serius nih?”, tanya Erick. “Kita kan belum tahu siapa dia.”

“Tidak usah cari tahu.”, sahut Farrel. Ia menyunggingkan senyuman yang biasanya dicirikan Denis sebagai senyuman jahat. Jempolnya ditunjukkannya pada dirinya. “Sudah tahu.”

“Kapan kita mulai?”, tanya Lukman nampak tak sabar.

“Pasti akan tiba saatnya.”

Sementara itu Bu Sisca mulai menginstruksikan murid-muridnya membaca buku teks mereka.

-ooo-

Lita tidak akan pernah melupakan senja kedatangan Pak Har ke rumah tempat tinggalnya bersama ayahnya. Pak Har, yang adalah mantan majikan Arifin di perkebunan teh, menawarkan diri untuk membantu biaya pengobatan Arifin yang pensiun dari pekerjaannya sebagai mandor karena sakit stroke. Ini merupakan berkah, mengingat biaya pengobatan stroke cukup mahal dan sulit ditanggung oleh keluarga Arifin yang hanya terdiri dari Arifin dan Lita, anak perempuannya yang masih berusia enam belas tahun.

“Ayahmu sudah banyak membantuku sewaktu menjadi pegawaiku di perkebunan selama dua puluh tahun. Itu bukan waktu yang singkat, tetapi terlalu singkat bila harus pensiun di usia empat puluh empat tahun.”, kata Pak Har. Ayah Lita memang berhenti bekerja karena serangan stroke yang menyebabkannya lumpuh.

“T..terima kasih banyak, Pak. Saya tidak tahu harus berkata apa…”, isak Lita. Kedua pipi gadis itu sudah sembab dengan air mata.

Pak Har tersenyum lembut. “Pernah mendengar SMU HB, Lita?”

Bingung dengan Pak Har yang tiba-tiba bertanya, Lita mengangkat kepalanya menatap pria itu dengan tatapan penuh tanda tanya. Tentu saja Lita tahu tentang SMU Harapan Bangsa atau yang disingkat dengan SMU HB. Ia sering kali mendengar nama sekolah itu disebut-sebut sebagai sekolah juara bila ada perlombaan antar sekolah. Konon, lulusan SMU HB mudah diterima di mana-mana. “Ya, saya pernah mendengarnya, Pak.” Akhirnya Lita berhasil mengeluarkan suaranya untuk menjawab setelah mengatasi kebingungannya beberapa saat. Apa maksud dari pertanyaan Pak Har itu?

“Saya ingin memindahkanmu ke SMU HB.”

Lita bagaikan mendapat mimpi di siang bolong. Ia sampai merasa salah mendengar sehingga meminta Pak Har mengulangi kalimatnya. Pria itu pun mengulanginya sambil kelihatan geli.

“Ayahmu kan harus kontrol ke dokter secara teratur. Sulit bila kalian masih tinggal di Sukabumi untuk mendapat dokter yang bagus. Sebaiknya kalian pindah ke Bandung supaya bisa mendapatkan pengobatan terbaik. Nah, sekalian saja kamu saya masukan ke sekolah di Bandung. Saya pernah dengar dari Arifin bahwa kamu anak yang pandai, makanya saya bersedia membiayaimu di sekolah yang bagus.”

Kala itu Lita tidak mampu berkata apa-apa, ia langsung menoleh ke arah ayahnya yang duduk di sebelahnya. Ayahnya memang lumpuh dan tidak bisa bicara tetapi matanya yang beradu dengan mata Lita meneteskan air mata.
Sewaktu pertama kali melihat gedung SMU HB, Lita langsung merasa hatinya menciut. Gedung sekolah itu begitu besar dan megah, dibandingkan dengan sekolah sebelumnya. Selain menyandang peringkat atas daftar sekolah terbaik, Lita mendengar bahwa murid-murid HB kebanyakan adalah anak-anak orang berada, sangat jauh berbeda dengan dirinya.

Kedatangan Lita langsung disambut oleh Pak Halim, pria berdahi licin yang adalah kepala sekolah HB, walaupun ia datang sendiri, tanpa ditemani Pak Har. Mungkin Pak Har sudah menghubunginya mengenai kedatangan Lita. Kemudian Pak Halim memperkenalkan Lita dengan wanita muda yang ternyata adalah wali kelasnya, Bu Sisca.

“Jangan gugup, Pelita. Kamu pasti akan senang bersekolah di sini.”, kata Bu Sisca tersenyum ramah ketika mereka berjalan menyusuri koridor menuju kelas mereka.

Lita berpikir, pasti dari wajahnya kelihatan sekali bahwa ia sangat gugup menghadapi hari pertamanya. Ia langsung menahan nafas, bahkan hampir memekik ketika Bu Sisca membuka pintu sebuah kelas. Lita sempat melirik tulisan di atas pintu. KELAS II-1.

Dari luar, kelas itu terdengar sangat gaduh tetapi begitu pintu terbuka langsung hening seketika. “Berdiri! Beri hormat!”, seru seorang anak perempuan berkacamata yang duduk di barisan dua dari depan paling kanan.

Semua anak berdiri, kecuali seorang anak laki-laki yang duduk di pojok kiri kelas. Ia sedang merebahkan kepalanya di mejanya. Gadis itu merasa heran karena kelakuan itu sudah dianggap biasa oleh kelas ini, bahkan Bu Sisca pun tidak berkomentar apa-apa.

“Selamat pagi, Bu!”

“Selamat pagi.”, balas Bu Sisca. “Anak-anak, hari ini kalian mendapat teman baru. Nah, Pelita, ayo perkenalkan dirimu.”

Kalimat itu langsung membuyarkan lamunan Lita tentang anak laki-laki itu. Ia pun mendadak gugup dan mati-matian berusaha mengatasinya, Lita pun berbicara, “Se..selamat pagi. Na…nama saya Pelita. Pindahan dari Sukabumi. Sa..saya berharap bisa menjadi teman kalian.” Ia mendesah dalam hati. Suaranya pasti kedengaran aneh.

“Nah, kamu biasa dipanggil apa sebelumnya, Pelita?”, tanya Bu Sisca.

“Lita, Bu.”, sahut Lita sambil sedikit menundukkan kepala.

Bu Sisca pun menganguk puas. “Nah, Pelita duduklah di bangku kosong ya.”

Mata Lita langsung menyapu seluruh kelas dan menemukan seorang anak laki-laki yang duduk di pojok belakang sebelah kiri sedang menatapnya. Lita mengenalinya sebagai anak yang tadi tidak ikut memberi hormat pada Bu Sisca. Memang semua anak sedang mengarahkan mata mereka ke arahnya saat ini tetapi ada sesuatu yang membedakan anak-anak lain dengan anak laki-laki itu. Tatapannya terkesan dingin dan tajam membuat gadis itu tidak betah sehingga cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke arah lain dan Lita pun menemukan seorang anak perempuan tersenyum padanya sambil mengisyaratkan untuk duduk di kursi di sebelahnya. Itu ketua kelas yang tadi memimpin ucapan selamat pagi. Senyumannya membuat Lita lupa mengenai si mata dingin.

“Ya, duduklah di sebelah Tasya.” Bu Sisca setuju. “Nah, kalian berteman baik dengan Pelita ya. Kalau ada yang mau kenal lebih dekat dan bertanya padanya, lakukan saat istirahat. Sekarang kita mulai pelajaran kita. Buka buku teks kalian, halaman enam puluh.” Guru itu nampaknya menyadari sikap Lita yang kebingungan. “Tasya, kamu bisa berbagi bukumu dengan Lita?”

“Bisa, Bu.” Tasya pun menoleh pada Lita. “Ayo, gabungkan meja dan kursimu denganku.”

Lita pun balas tersenyum dan melakukannya.

“Namaku Tasya.”, bisik gadis itu di sela-sela pelajaran. “Kau pasti akan senang bersekolah di sini.”

Dua kali ia mendengar kalimat itu dari dua orang yang berbeda sehingga membuat merasa akan ada hal baik yang terjadi padanya ketika ia bersekolah di sini.
-ooo-

Sesal atau lega? Ia tidak tahu yang mana perasaannya saat ini. Keduanya sama salah dan sama benarnya. Sesal karena tidak akan mungkin menghapus kegelapan masa lalu tetapi bila masa lalu tidak ada, maka tidak akan pernah ada dirinya yang sekarang. Lega karena apa yang selalu menjadi ganjalan hatinya telah terungkapkan walaupun impian kecil di sudut hatinya tidak akan pernah tercapaikan.

Tetapi satu hal yang pasti ia yakini adalah jalan yang dipilihnya ini adalah jalan yang terbaik dan pantas diterima bagi semua orang, terutama orang yang paling disayanginya itu. Dan dirinya pantas berada di sini, di dalam benda yang sedang melaju kencang menembus awan menuju kehidupan baru dengan hanya ditemani sebuah buku perlambangkan belahan hatinya.

Diusapnya lembut sampul buku berilustrasi indah ketika seorang pramugari menawarinya minum. Ia menolaknya dengan halus dibarengi dengan senyuman ramah, kemudian ia merenungi apa yang telah ia lewati dalam sebulan ini. Banyak hal yang telah terjadi dalam waktu hanya tiga puluh hari. Begitu singkat, namun cukup panjang untuk mengombang-ambingkan hidupnya yang tanpa gairah sembari mengorek habis borok luka masa lalunya hingga bersih tak bersisa. Wajah itu dan senyuman yang menyejukkan itu tidak akan pernah hilang dari pikirannya untuk selama-lamanya, namun itu bukan masalah. Ya, Tuhan telah memberikan waktu tiga puluh hari untuk menuntaskan apa yang telah menjadi ganjalan hatinya selama sepuluh tahun sebelumnya dan untuk itulah ia mengucapkan puji syukur kepada Sang Maha Kuasa. Akan ada kebahagiaan lain menantinya di kehidupannya yang baru nanti. Walaupun bukan sekarang. Walaupun tidak akan lengkap tanpa dirinya. Tetapi pasti ada.

Keyakinan itu membuatnya tenang. Ia pun memasukkan buku itu ke dalam saku dalam jaketnya. Perlambang sebagian hatinya yang kini tertinggal di tanah air itu perlu disimpan di tempat yang paling dekat dengan letak jantungnya berada supaya ia merasakan dirinya lebih dekat dari yang sebenarnya. Kemudian ketika baru dipejamkan matanya untuk mulai pelayaran ke alam mimpi, seseorang menyentuh pundaknya dengan lembut. Si pelayan itu lagi, pikirnya. Ia pun berniat menolak halus tawaran apapun yang dapat mencegahnya bertemu dengan orang itu di dalam dunia mimpi.