Latest Entries »

“HATCHIIMM…!!!”

Seruan itu tepat terjadi ketika Jenny membuka pintu kamar kos Lana. “Lagi-lagi kau memanggil nama Pak Kasim. Kangen berat ya?” canda Jenny. Di tangannya gadis itu membawa segelas teh hangat.

Lana membersihkan hasil bersinnya itu sambil mencibir sebal pada teman satu kosnya. “Jangan bawa-bawa nama orang yang tidak bersangkutan, kasihan beliau kalau ikut-ikutan bersin dan sapuannya buyar semua.” Pak Kasim itu nama cleaning service di rumah sakit tempat Lana menimba ilmu.

Jenny tertawa menyerahkan teh hangatnya pada Lana. “Jangan lupa minum obat buat nanti siang. Aku pergi dulu ya. Sudah mau jam setengah tujuh. Poli buka setengah jam lagi.”

“Jangan lupa beritahu Dokter Nani, aku…”

“..tidak masuk karena malas.”

“Hei!” Lana melemparkan bantal ke arah temannya tetapi terlambat. Jenny sudah keburu berlalu dari sana dan tawa jahilnya terdengar dari balik pintu.

Sepeninggal temannya keheningan langsung melanda kamar itu. Ah, bukan cuma kamarnya saja, tetapi hampir ke seluruh rumah kos itu. Yang terdengar hanya suara hujan gerimis dan sayup-sayup suara motor lewat, serta langkah-langkah kaki menginjak jalanan becek. Bukannya Lana tidak suka dengan keheningan, tapi di saat seperti ini alangkah baiknya bila ada seseorang yang menemaninya di sini.

Tidak mungkin ia menelepon William sekarang. Kekasihnya itu pasti sedang sibuk follow up harian sambil berbalapan dengan waktu di jam-jam seperti ini. Lana tidak mau jika William sampai menyalahkan dirinya kalau sampai pemuda itu dimarahi oleh dokter pembimbingnya saat visite. Ditambah lagi mereka masih dalam keadaan perang dingin hari kedua setelah bertengkar hebat sebelumnya. William pun pasti tidak tahu sakitnya ini.

Ingatan tentang pertengkaran itu membuat emosi Lana bangkit lagi, sekaligus teringat pada sesosok wajah lain. Sahabat baiknya yang lain selain Jenny, sekaligus penyebab pertengkarannya dengan William.

“Memangnya apa yang salah dengan persahabatan?!” Lana ingat obrolan curahan hatinya yang penuh emosi dengan Jenny dua hari yang lalu. Tepat setelah ia membanting ponsel malangnya penuh nafsu ke atas kasur. “Kalau begitu, lebih baik sekalian saja dia mencemburuimu juga!”

Jenny segera duduk di sebelahnya sambil menepuk lembut bahunya yang bergetar akibat amarah. “Bedanya aku dan Yosi adalah gendernya, Lan. Dan William belum mengerti kedekatan kita bertiga. Kalian jalan baru tiga bulan kan?”

“Tetap saja konyol, Jen,” sahut Lana keras kepala. “Kau, Yosi dan aku sudah berteman sejak kita masih semester satu di preklinik. Kalau aku dan Yosi memang ada apa-apanya, sudah dari dulu kita jalan kan?”

“Lama-lama dia juga mengerti, Lan. Hardi juga begitu awalnya. Sekarang? Lihat sendiri bagaimana dia terhadap Yosi.”

Lana pun terdiam. Hardi, kekasih Jenny itu, sekarang menjadi dekat dengan Yosi. Kalau datang ke kos ini mengunjungi Jenny, pemuda itu pasti menanyakan kabar si Yosi.

“Begini saja.” Jenny memegang dagu dengan jempol dan jari telunjuknya. Matanya menerawang ke langit-langit kamar sambil menyunggingkan senyuman tipis. Tahulah Lana, temannya ini sedang memikirkan suatu rencana.

Ia pun menyipitkan matanya menatap Jenny, bersiap mendengarkan. Tidak selalu rencana baik, tapi tidak selalu pula rencana buruk.

“Bagaimana kalau kita carikan seorang gadis untuk Yosi?”

Suara sirene ambulan berdengung-dengung tepat di telinga membuatnya terlonjak kaget. Kepalanya langsung terasa berat. Lana pun mengutuk penuh kebencian pada orang iseng yang sudah seenaknya mengubah nada dering ponselnya. Siapa lagi kalau bukan Yosi! Riwayat penyakit sebelumnya pemuda berkacamata itu yang membuat Lana langsung mencurigainya. Namun seketika kekesalannya berubah menjadi kegembiraan melihat nama yang tertera di layar ponselnya.

“Ha..Halo?”

“Halo, Lan. Kata Jenny kamu sakit ya?”

Lana dapat mendengar nada kekhawatiran dalam suara William. Hatinya melonjak senang mendengarnya. “Sedikit tidak enak badan, Wil.”

Hening sebentar. “Maaf, hari ini aku shift malam. Besok siang baru bisa ke tempatmu.”

“Tidak apa-apa, Wil. Aku mengerti.”

“Jangan lupa makan dan minum obat ya. Nanti aku titipi Jenny bubur buat kamu.”

“Terima kasih, Wil.”

Setelah mengucapkan salam perpisahan yang kaku, telepon pun ditutup. Ada rasa lega di hati Lana. Tak seorang pun dari mereka yang mau mengungkit-ungkit lagi pertengkaran dua hari yang lalu itu. Ia memejamkan matanya sambil tersenyum. Mungkin benar kata Jenny, pelan-pelan William pasti akan mengerti.

Suara sirene ambulan terdengar lagi.

Lana pun mengeram kesal. Ia lupa mengubah nada dering konyol itu. Dan kebetulan di layar ponselnya kini muncul nama si tersangka utama.

“Sialan, Yos! Nada deringku seenaknya kau ubah lagi!” semburnya begitu mengangkat telepon itu. Derai tawa riang pun menyambut seruan ketus Lana.

“Galak amat si non ini. Sudah bagus saya menelepon awak di sela-sela kesibukan begini. Kan bagus untuk membangunkan kebo seperti kau.”

“Enak saja! Awas, akan kubalas kamu!”

Diam-diam Lana tersenyum mendengar gurauan Yosi. Sekilas ia teringat dengan rencana Jenny untuk mencarikan gadis untuk menjadi kekasih Yosi. Bukan berarti ia tidak setuju dengan rencana itu, tetapi Lana akan merasa kehilangan saat-saat seperti ini bersama Yosi. Satu orang yang cemburu buta saja sudah membuatnya pusing, apalagi bila ditambah satu orang lagi. Sudah pasti semuanya tidak akan sama seperti dulu.

“Jarang-jarang dengar suara marah-marahmu yang bindeng seksi.” Yosi tertawa. “Aku menengokmu besok ya, Lan. Hari ini jaga.”

Mata Lana mengerjap. Jaga? Lho, artinya teman jaga malam William hari ini adalah…

“Aku jaga dengan William,” ujar Yosi seakan mendengar pertanyaan di dalam kepala Lana.

Aduh! Pantas saja, tadi William terdengar sangat kaku di telinganya. William dan Yosi sudah lama saling tidak menyukai -bahkan sebelum Lana dan William resmi menjadi pasangan. Semoga saja tidak terjadi perang dunia ketiga hari ini.
*****

“Waduh, badanmu panas sekali, Lan,” ujar Jenny cemas. “Sudah ditem?”

Lana menganguk lemah. “Tiga puluh delapan koma dua,” sahutnya serak dan pelan. Dibandingkan tadi pagi, lehernya lebih mengganjal dan sakit bila mengeluarkan suara. Selain itu hidungnya terasa lebih mampat, belum lagi kepala dan tubuhnya yang rasanya sakit semua.

“Kita ke prakteknya Dokter Nani ya. Tidak jauh dari sini.”

Lana melirik ke arah jendelanya yang penuh denan titik-titik air hujan. “Hujan…malas..”

“Namanya juga musim hujan,” bujuk Jenny. “Atau bagaimana kalau kupanggil Dokter Nani kemari?”

Lana mengeleleng tegas. Mana mungkin ia membiarkan dokter pembimbingnya datang kemari untuk melihatnya dalam keadaan lemah begini. “Dikompres saja. Besok juga baikan,” tolaknya.

Tetapi sampai keesokan harinya pun, panasnya tak kunjung turun malah bertambah satu derajat. Jenny langsung menggerutu begitu melihat angka pada alat pengukur suhu itu. “Seharusnya kemarin kamu menurut. Sekarang mau ke dokter pun sulit. Hujan deras begini, bagaimana caranya membawamu ke rumah sakit?”

Lana hanya tersenyum lemah. Jenny memang mirip dengan ibunya kalau sedang mengomel seperti ini. Lana berdeham sedikit lalu berkata dengan suara serak, “Kamu pergi saja sekarang. Nanti hujannya semakin deras. Aku baik-baik saja. Cuma faringitis biasa.”

Setelah berhasil mengusir Jenny yang wajah cemas dan wewejangan ala dokternya, Lana mencoba menidurkan dirinya untuk mengatasi kepalanya yang terasa sangat berat. Hujan yang tidak berhenti sejak kemarin membuat udara terasa sangat dingin sekalipun ia tidak menyalakan pendingin ruangan. Ditariknya lebih erat selimutnya. Samar-samar terdengar suara SMS dari ponselnya, tapi Lana tidak memiliki tenaga lebih untuk membacanya. Alunan suara hujan deras yang tidak berhenti sejak kemarin membuainya hingga kemudian jatuh ke dalam alam mimpi.

Suara pintu membuka mengembalikan Lana ke alam nyata. Tidak sepenuhnya kembali. Lana masih merasakan dirinya antara sadar dan tidak sadar. Ia ingin membuka kelopak matanya untuk memastikan, tetapi ia terlalu lemah untuk itu.

Dirasakannya telapak tangan orang itu memegang keningnya. Sesaat Lana mengira dia adalah Jenny, tetapi tangan itu terlalu besar untuk menjadi tangan Jenny. Perlahan Lana mengerahkan tenaganya untuk membuka matanya, namun hanya pandangan kabur yang didapatnya, tapi sosok itu mirip dengan…

“Minum obat dulu, Lana.” Lana kembali memejamkan matanya dan menuruti ucapan orang itu. Suaranya pun mirip dengan…

“Tidurlah,” ujar orang itu. Merebahkan Lana kembali ke atas kasur. Lalu tangan yang besar dan hangat itu menggenggam tangan mungilnya. Damai merambah hati Lana dan ia pun kembali berlayar ke alam tidur tanpa mimpi.

Lana terbangun ketika hari sudah gelap. Suara gerimis di depan jendela masih terdengar dan rumah kos itu terdengar sedikit ramai oleh para mahasiswa yang bercengkerama. Didapatinya Jenny sedang tersenyum padanya. “Sudah bangun, Lan. Panasmu sudah mendingan.” Jenny memperlihatkan angka di alat pengukur suhu itu. “William baru saja pulang tuh. Mau aku panggil lagi?”

“William ke sini?” Lana melirik jam. Jam sepuluh malam.

Jenny menganguk. “Iya. Sudah dari tadi. Kami tadi terjebak banjir selutut depan rumah sakit, jadi baru bisa pulang jam enam sore.”

Lana terdiam sejenak. Satu nama melintas di kepalanya. “Yosi?”

Jenny mengeleleng. “Kalau dia sudah pulang begitu selesai. Tidak tahu apa yang ada di otaknya itu. Sengaja ditinggalnya motor di rumah sakit lalu tanpa peduli hujan yang masih deras, ia pergi mengerobok banjir entah kemana. Mungkin ada keperluan mendesak.”

Lana kembali membisu. Diam-diam merasa bodoh dengan mimpi anehnya. Ia pun meraih ponsel yang diletakkannya di tepi ranjangnya. Ada banyak misscall dan SMS. Masing-masing sepuluh misscall dari Jenny dan William, empat dari ibunya, serta dua dari Yosi. Bunyi isi SMS-nya pun hampir semuanya sama, bernada kekhawatiran dari semua orang kecuali Yosi.

“Menelepon dan mengirim pesan padamu sampai pegal tangan kita,” ujar Jenny sambil tertawa maklum.

Lana balas tertawa sambil meminta maaf. Ia menekan nomor ibunya di Cirebon lalu berbicara sesaat untuk menenangkan wanita yang telah melahirkannya itu. Selanjutnya giliran William. Namun disaat ia hendak menekan nomor kekasihnya itu, suara sirene ambulan yang akrab keluar dari ponselnya.

“Kerjaan si Yosi lagi, Lan?” tanya Jenny geli. “Dasar anak itu. Kalau masih kekanak-kanakan begitu, bakalan susah mencarikan jodoh buatnya.” Gadis itu pun tertawa tanpa menyadari ekspresi wajah temannya yang sepucat hantu.

Lana mengangkat ponselnya dengan tangan gemetar. William yang menelepon. Di ujung sana, suara pemuda itu terdengar lega mendengar suara Lana. Mereka tidak berbicara lama, sepertinya William mengerti keadaan Lana yang masih lemah.

Ah, tidak juga.

Lana tahu, suaranya terdengar lebih gugup dari seharusnya. Mungkin itulah yang membuat William memutuskan pembicaraan mereka lebih cepat dari seharusnya.

Selesai dari situ, Jenny merebut ponsel dari tangan Lana. “Sini, biar aku yang ubah nada deringnya.”

“Jangan!”

Seruan Lana yang lebih mirip jeritan membuat Jenny terkejut. Buru-buru ia mengambil ponselnya dari tangan Jenny.

“Maaf, Jen. Sepertinya aku masih pusing jadi…”

“Ya, aku mengerti.” Jenny tersenyum, tidak tampak tersinggung. “Aku balik ke kamar dulu, besok ada laporan jaga. Mau belajar sebentar. Jangan lupa makan obat dan makan malam saja dulu baru tidur lagi.”

Lana menganguk kaku. Sepeninggal Jenny, ia menggenggam erat ponsel di tangannya itu. ia yakin sekali sudah mengubah nada deringnya itu kemarin, tepat setelah menelepon Yosi. Mengubah nada deringnya seenaknya itu adalah kegiatan jahil khas pemuda itu. Lana tidak memiliki tersangka lain. Sejak kemarin sampai sekarang tentu saja ia belum bertemu lagi dengan Yosi lagi. Tak mungkin nada dering itu berubah sendiri kan? Kecuali kalau Yosi…

Untuk memastikannya, Lana meliriknya obat-obatan yang ada di atas meja di sisi tempat tidurnya. Sekilas ia menghitung jumlah obat yang telah diminumnya sejak kemarin dan hitungannya pun pas. Sepertinya tadi siang, ia benar-benar meminum obat jatah siangnya. Ucapan Jenny seketika terngiang di telinganya.

“Dia sudah pulang begitu selesai. Tidak tahu apa yang ada di otaknya itu. Sengaja ditinggalnya motor di rumah sakit lalu tanpa peduli hujan yang masih deras, ia pergi mengerobok banjir entah kemana. Mungkin ada keperluan mendesak.”

Itu bukan mimpi.

Lana merasakan tubuhnya memanas dan gelisah. Tapi ia tahu, ia tidak perlu pengukur suhu untuk memastikan apakah panas dan gelisah itu berasal dari penyakit fisiknya atau bukan. Ditekannya ponsel itu untuk memperdengarkan nada dering bising itu.

“Ini baru nada deringnya calon dokter!” Lana teringat ucapan Yosi ketika menanggapi protes gadis itu akan ulahnya.

“Kalau begitu, kenapa bukan kau sendiri yang memakainya!”

“Tidak perlu. Aku sudah dokter dari sananya.” Lana teringat dirinya langsung mencubit gemas lengan atas pemuda itu hadiah ucapan berbau narsistiknya. “Lagi pula, supaya kau selalu ingat padaku setiap mendengarnya,” lanjut Yosi sambil mengelus lengan korban aksi cubitan maut Lana.

Tentu saja Lana menganggapnya hanya bercanda. Mana pernah sih, seorang Yosiah Tanudjaya serius dengan ucapannya? Namun Lana sadar, ucapan itu tidak akan pernah dilupanya mulai saat ini dan mungkin untuk waktu yang sangat lama. Hujan dan sirene bising itu akan selalu mengingatkannya pada sosok berkacamata yang selalu tersenyum jahil.

————————————

Poli = kependekan dari poliklinik.

follow up = memeriksa keadaan dan perkembangan pasien.

preklinik =  tahap perkuliah sebelum masuk dalam kepaniteraan klinik.

ditem = diukur suhu badan.

Faringitis = radang tenggorokan.

Advertisements

Gawat! Gawat! Ini benar-benar gawat!

Secepat mungkin Lon mengayuhkan kedua kakinya untuk berlari. Ia harus sesegera mungkin sampai di rumah memberitahu Julia apa yang terjadi. Sialan! Hal yang paling ditakutinya selama ini benar-benar terjadi. Lokia adalah pulau terpencil pilihan Guru Kyros, seharusnya menjadi tempat yang baik untuk membesarkan sang pewaris pusat bintang! Guru Kyros memang mengatakan akan tiba waktu dimana mereka harus pergi dari sini, tetapi ini terlalu dini!

Lon tidak bisa menghilangkan bayangan wajah bengis komandan pasukan Faran yang memasuki desa Wasugi dan menitahkan maut terhadap para penduduk desa. Amarah Lon bangkit bila mengingatnya, sekaligus sebersit rasa takut atas apa yang mampu diperbuat pria itu.

Erich van Kiessel!

“Julia! Kita harus segera pergi dari sini!” seru Lon begitu sampai di rumah mereka.

Hening. Tidak ada yang menjawab.

“Julia!” seru Lon lagi. Mungkin wanita itu sedang ada di dapur dan mata Lon terpanjat melihat sosok yang terbaring lemas di lantai dapur. “Rowena!”

Julia perlahan membuka matanya di dalam pelukan Lon. “Hush! Jangan panggil aku Rowena nanti Fay dengar,” bisik Julia memaksakan senyum.

“Gejala itu datang lagi?”

Julia menganguk lemah.

Sial! Tiga kali sial! Mengapa harus terjadi di saat seperti ini?

“Mereka datang. Kita harus secepatnya pergi dari sini.”

“Apa?” Mata Julia membelalak terkejut. “Fay?”

“Nampaknya belum pulang. Kita berberes dulu, aku yakin Fay tiba tak lama lagi,” sahut Lon. “Kau berbaring saja di dalam kereta. Aku yang akan membereskan semuanya. Kita ke tempat Cole.”

—ooo—

Fay berjalan pulang sambil mengamat-ngamati sebuah pedang pendek di tangannya. Ada lambang bunga rumput seperti yang terdapat pada pin perak yang tersemat di jubah hijau milik pemuda itu. Menurut Rafe, itu adalah lambang keluarganya di Zenithia, negerinya.

“Ini lambang persahabatanku,” begitu kata Rafe sewaktu memberikan pedang pendek itu.

“Pedang? Aku tidak butuh,” tolak Fay lugas. “Aku punya pedang pendek dari Lon.” Ia menunjukkan senjata miliknya.

“Simpan saja,” desak pemuda itu sambil menatap Fay dengan pandangan yang membuat gadis itu merasakan sensasi aneh. “Bagiku tidak ada gunanya, tetapi tidak demikian terhadapmu. Lagipula kau adalah harta karun yang kutemukan di pulau kecil ini. Aku tidak ingin terjadi apapun terhadap dirimu.”

Fay mengerutkan dahinya bingung. Kata-kata pemuda itu memang aneh. Apa maksudnya harta karun? Lalu kenapa Rafe bicara seakan-akan akan datang bahaya terhadap dirinya? Sewaktu Fay menanyakannya, Rafe hanya menjawab.

“Sebaiknya kau segera pulang sekarang, Fay. Dan jangan mendekati desa. Kita akan berjumpa lagi karena kau adalah pemegang pedangku.”

Aneh! Aneh! Aneh! Dipikir sampai dahinya berkerut maksimal pun ia tetap saja tidak dapat memahami kata-kata itu. Terbesit di pikirannya untuk menanyakannya kepada Lon. Ya, Lon pasti bisa menjelaskan semuanya.

Bau asap yang samar tercium begitu Fay mendekati rumah mereka. Ia sempat panik mengira asap itu berasal dari rumahnya, tetapi ternyata bukan. Api itu berasal dari desa! Fay ingin melihat desa, tetapi ia teringat kata-kata Rafe supaya ia tidak mendekati Wasugi. Akhirnya diputuskannya untuk pulang ke rumahnya. Mungkin saja Lon sudah kembali dan tahu apa yang terjadi di desa. Gadis itu pun mempercepat langkahnya.

Ia kembali terkejut melihat keadaan rumahnya. Bau minyak tanah menebar di mana-mana. Kereta kuda Raku sudah siap dan barang-barang mereka sudah ada di atasnya. Firasat tidak enaknya semakin terasa.

“Ibu?” Ibunya kini terbaring lemah di atas kereta.

Julia membuka matanya dan tersenyum begitu melihat Fay. “Fay, kau sudah pulang?”

Fay menganguk. “Apa yang terjadi, Bu? Ibu sakit lagi?”

Julia tak langsung menjawab, hanya tersenyum. “Semua akan baik-baik saja. Lon yang akan menjelaskan semuanya.”

Fay menoleh ke arah Raku, si kuda. “Raku, apa yang terjadi?”

“Majikan laki pulang lalu bilang ada bahaya. ‘Mereka datang!’ begitu kata Majikan,” ringkik Raku.

Mereka? Siapa mereka? Fay tidak banyak basa-basi, langsung berlari ke dalam rumah mereka yang sudah beraroma tajam minyak tanah, mencari Lon.

“Lon!”

Lon muncul dari halaman belakang rumah setengah berlari. “Fay, ayo naik! Kita berangkat sekarang!” Fay pun ditarik olehnya menuju kereta kuda.

“Apa?! Kemana?!”

“Ke rumah gua Cole.” Lon menjalankan kereta. “Hiah!”

Fay melongo. Ia ingin sekali bertanya apa yang sebenarnya sedang terjadi. Begitu banyak yang terjadi di sehari setelah ulang tahunnya. Tetapi bagaimana pun juga ia harus sabar menunggu. Ibunya bilang, Lon akan menjelaskannya. Sepertinya sesuatu yang besar telah terjadi. Suatu penjelasan panjang lebar nampaknya sangat diperlukan. Ia menggenggam tangan ibunya yang sedang tertidur dengan erat. Wajah wanita yang telah melahirkannya tampak muda namun pucat dan rapuh, membuat hatinya miris.

Tiba-tiba Raku meringkik menghentikan jalan kereta. Di telinga Fay, kuda itu berteriak histeris penuh kengerian. Lon pun nampak membeku di balik kemudi kereta dan Fay pun tahu penyebabnya. Sekumpulan tentara berzirah merah menghadang jalan mereka. Mereka berlima sampai enam orang.

Siapa mereka! Jerit Fay dalam hati. Bulu kuduknya terasa berdiri, merinding karena tiba-tiba merasakan betapa dekatnya maut dengan mereka saat ini. Semua prajurit itu menghunuskan pedang mereka dan tanpa ba bi bu, langsung menyerang mereka. Raku si kuda dihabisi dua orang dari mereka tanpa ampun. Fay terpaku dalam kengerian menyaksikan teriakan terakhir kuda tua itu.

Sementara itu keempat prajurit lainnya menghampiri kereta kuda. Sigap, Lon mencabut pedangnya dan turun ke arena pertarungan. Detingan pedang langsung terdengar. “Mereka prajurit merah! Fay, lindungi ibumu!”

Teriakan Lon menyadarkan Fay dari keterpanaannya. Dicabutnya pedang pendek yang didapatnya dari Rafe. Lon memang sudah mengajarinya ilmu pertarungan tetapi ini pertama kalinya Fay berada dalam pertarungan yang sesungguhnya sehingga gadis itu merasakan ketegangan dari di seluruh tubuhnya. Ia menggenggam erat-erat pedang berlambang bunga rumput itu. Terasa ringan dan terasah tajam, membuatnya sedikit tenang.

Lon tidak membiarkan satu pun prajurit zirah merah itu melewatinya dan kemampuan pedangnya cukup mendukungnya untuk itu. Dua prajurit sudah habis dijatuhkannya, tetapi semakin lama Lon semakin dipukul mundur. Begitu pria itu lengah, dua prajurit berhasil melewatinya dan langsung menyerang Fay dan ibunya.

“Lon!” Fay mengacungkan pedangnya menangkis salah satunya tetapi prajurit yang lain siap menghujamkan pedangnya pada tubuh tidak sadarkan diri ibunya. “Jangan!”

Dalam kerjapan mata, kedua prajurit itu langsung terjatuh tertikam pisau kecil di leher masing-masing. Fay menghela nafas lega sesaat tetapi matanya membelalak terkejut melihat pamannya tersenyum sambil menahan sakit. Pedang berlumuran darah menembus dada sang paman. Rupanya untuk menyelamatkannya, Lon rela membuka celah bagi musuhnya untuk menyerangnya. Begitu Lon jatuh, Fay merasa nyawanya ikut terbang bersama Lon. Ia bahkan tidak melihat tambahan prajurit zirah merah yang kini sudah mengepung sekitar kereta kuda mereka.

“TIDAA..KK!!”

Jeritan gadis itu membahana di seluruh hutan. Tepat pada saat itu, sinar bulan penuh bersinar tepat di atasnya. Sinar terang menyilaukan bersinar dari tubuh gadis itu dan dalam sekejab mata terjadi perubahan seperti sehari sebelumnya. Sosok tubuh langsing semampai, berkulit gelap, telinga panjang milik elf dan rambut seputih gading, menggantikan gadis kecil berusia tiga belas tahun itu.

Tetapi yang berbeda dengan kemarin, bola mata Fay tidak hijau zambrut seperti biasanya, tetapi merah. Semerah darah. Kemurkaan dan hawa nafsu pembunuh terpancar luar biasa dari tubuhnya yang telanjang hingga menyuratkan sinar merah di sekitarnya. Mata merahnya menatap dingin para prajurit itu. Tidak ada lagi kemanjaan dan kepolosan gadis kecil yang baru beranjak remaja. Para prajurit itu pun bergidik ngeri.

“SERBU!”

Tetapi dark elf itu nampak luar biasa tenang. Sebelah tangan kanannya berubah menjadi beku dan sebilah mata pedang berwarna biru es mencuat di sana. Pedang yang begitu dingin hingga asap mengepul darinya.

Tak perlu lama waktu yang dibutuhkan untuk pepohonan dan para binatang malam menyaksikan pemandangan mengerikan. Jeritan yang memilukan dan lautan darah para prajurit berzirah merah, lalu disusul dengan keheningan malam, ketika pasukan itu habis terbantai.

Perlahan gadis dark elf itu menghampiri Lon yang tergeletak dengan luka menganga di jantungnya. Ia berlutut memeluk Lon. Air matanya meleleh. “Lon…”

Dan keajaiban terjadi. Di sekitar mereka menyala sinar terang menyejukan, berbeda dengan beberapa detik sebelumnya. Pada saat yang sama, Julia tersadar dan menyaksikan semua itu. Betapa terkejutnya, ketika ia menyaksikan putrinya dalam wujud dark elf memeluk Lon yang bersimbah darah dalam sinar terang, sementara di sekeliling mereka bergelimpangan mayat dan bau anyir darah segar.

“FAY! LON!” serunya. Kepanikan meliputi pikirannya.

Dengan susah payah ia turun dari kereta kuda untuk menghampiri mereka. Tubuhnya masih terasa lemah. Tepat ketika Julia menyentuh Fay, gadis itu terjatuh dalam pelukan Julia dan berangsur-angsur berubah kembali menjadi gadis manusia berusia tiga belas tahun. “Fay!” Air mata menggenang di pelupuk matanya mencoba meyakinkan dirinya sendiri, tidak akan terjadi suatu hal apapun terhadap putri tunggal tersayangnya. “Lon!” Julia masih tidak menyerah memanggil pria yang berbaring di hadapannya dengan lumuran darah di sekujur tubuhnya.

Dan perlahan-lahan mata Lon membuka. “R…Rowena?”

“Lon! Syukurlah kau sadar! A..apa yang terjadi! Fay! Fay!”

“Tenang dulu, Rowena.” Melihat keadaan sekeliling mereka yang mirip neraka, Lon langsung teringat dengan tusukan pedang yang menembus dadanya. Ia pun segera meraba dadanya. Tidak ada luka apapun. Bersih dan mulus. Seakan tidak pernah terjadi apapun. “Kukira tadi aku…mati, tapi…”

Julia menunggunya mengatakan sesuatu. Tetapi Lon tahu, mereka tidak boleh berlama-lama di tempat ini.

“Bukan waktunya berpikir sekarang! Kita harus cepat pergi dari sini!” Lon berlari ke arah kereta mengambil barang-barang mereka yang tidak banyak, lalu menggendong Fay dengan sebelah tangannya dan tangannya yang lain memapah Julia yang masih lemah.

“Tapi..”

“Nanti akan kujelaskan! Sekarang kita harus segera pergi dari sini!”

—ooo—

Fay tahu seharusnya ia pulang ke rumah sekarang. Hari ini adalah hari ulang tahunnya dan ibunya sudah mewanti-wanti supaya ia pulang sesegera mungkin. Alasan lain yang tidak memungkinkannya untuk ikut ajakan Wen -si kelinci hutan- dan Felix -si serigala mungil- untuk berenang di danau Swan, adalah malam ini pun hari bulan penuh. Namun –Fay melirik ke arah air danau yang berkilauan seakan berkata ‘tunggu apa lagi? Ayo cepat kemari!’- godaan itu terlalu berat untuk ditampik gadis berusia tiga belas tahun itu.

“Fay, ngapain bengong di situ!”panggil Wen.

Fay mendesah. Tentu saja sebenarnya Wen hanya mencicit, tetapi Fay memang memiliki bakat untuk berkomunikasi dengan makhluk tanpa kata sedari lahir. “Ibuku nanti marah. Beliau sudah menunggu kayu-kayu bakar ini”, katanya pada Wen sambil menunjukkan kayu-kayu bakar yang bergelantungan di punggungnya.

\           “Bermain kan  bukan dosa, Fay!” seru Felix. “Mumpung masih siang!”

“Kata ibuku, manusia itu seharusnya lebih serius bermain, supaya mereka tidak terus-terusan berperang!” tambah Wen sok tahu.

Angin berdesir dan membuat dedaunan pohon beringin yang berdiri di dekat gadis itu bergoyang. Fay mendelik ke arah pohon itu. “Kau juga ingin aku berendam, Pak Beringin?”

Daun-daun pohon kembali melambai-lambai seakan mengiyakan.

“Ayo, Fay! Ayo! Pak Beringin saja setuju!” Wen si provokator itu malah langsung menceburkan diri. Cipratan airnya langsung membasahi sedikit tubuh Fay.

“Hei!” protes gadis itu tetapi cipratan air yang lebih banyak malah membuat tubuhnya lebih basah karena Felix ikut-ikutan menceburkan diri. “Hei! Awas kalian! Kulaporkan pada ibu kalian baru tahu rasa!” seru Fay geram lalu segera melepaskan seluruh bajunya –toh sudah kepalang basah- dan segera menyusul teman-teman binatangnya yang kini sedang mencicit dan mengeram tertawa melihat kegusarannya.

“Hei! Awas, Felix! Fay si pengadu mau memakan kita!”

Begitulah. Akhirnya danau dan hutan Swanna menjadi saksi keceriaan ketiga makhluk berlainan jenis itu bermain hingga lupa waktu. Dan begitu matahari mulai tenggelam dan para binatang malam mulai keluar menyambut hari mereka, barulah Fay sadar bahwa ia sudah membuat masalah.

“Celaka!” serunya frustasi. Tetapi terlambat. Malam bulan penuh adalah malam dimana bulan bersemangat untuk menunjukkan dirinya, walaupun hari baru menjelang malam, sang bulan sudah siap untuk menyinarkan dirinya.

Fay mengeluh. Rasa panas yang familiar mulai terasa dimulai dari dada menyebar ke seluruh tubuhnya. Perlahan-lahan tubuhnya berubah. Dari seorang gadis kecil menjadi seorang wanita dewasa. Warna kulitnya menggelap. Telinganya perlahan memanjang, begitu pun dengan rambutnya. Selain memanjang rambutnya pun memutih sewarna gading.

“Kalian sih! Mengajak main-main terlalu lama!” gerutu Fay pada kedua teman binatangnya.

Wen dan Felix hanya memandangnya dengan rasa tidak enak. “Aduh. Maaf, Fay. Tak sangka malah jadi begini.”

“Ya sudahlah.” Mau diapakan lagi. Menyesal pun percuma karena sudah terjadi. Sekarang tinggal mencari sesuatu untuk menutupi tubuhnya lalu pulang dan menghadapi kemarahan ibunya. Fay meringis dalam hati. Ibu sangat menyeramkan bila sedang marah.

“Pakai ini, Fay.” Seekor beruang menghampirinya lalu menghempaskan sebuah jubah wol berwarna hijau tua.

Fay berseru senang. “Terima kasih, Rhata! Kau memang beruang paling ganteng seantero hutan Swanna!” Beruang itu pun mengeram senang.

Jubah itu segera dipakainya. Cukup besar dan hmm… hangat. Malam semakin cepat menyelimuti dunia hijau itu dan Fay harus sesegera mungkin sampai di rumah. Semakin malam ia sampai, maka akan semakin tinggi kadar kemarahan ibunya.

—ooo—

“Dari mana saja kau, Fay Leen?!”

Fay menunduk di bawah tatapan tajam berbahaya mata coklat Julia, ibunya. Bila nama panjangnya sudah disebutkan seperti itu berarti ibunya sudah cukup gusar terhadapnya.

“Dan apa-apaan dengan penampilanmu itu!” tambah Julia masih dengan nada tinggi. “Sudah tahu malam ini, malam bulan penuh! Lalu kau ingat tadi Ibu suruh apa?!”

Fay baru menyadari. Ia meninggalkan kayu-kayu bakarnya di pinggir danau tadi karena terlalu panik. “Maaf, Bu.” Ia semakin menunduk penuh rasa bersalah.

“Sudahlah, Julia.” Terdengar suara bas khas laki-laki dewasa. Paman Fay, Lon, muncul di belakang ibunya. “Toh aku sudah mendapatkan cukup banyak kayu bakar untuk hari ini.” Pria berambut coklat acak-acakan itu menyunggingkan senyuman lebar mempesona yang biasanya sulit ditolak oleh gadis-gadis Wasugi, desa yang terletak di dekat hutan Swanna ini. Fay langsung berseru girang dalam hatinya melihat pamannya campur tangan.

Tapi nampaknya senyuman itu tidak mempan bagi Julia. Telinga elf Julia bergerak-gerak gusar. Ibu Fay yang berdarah setengah elf itu mendelik tajam terhadap Lon. “Kau terlalu memanjakannya, Lon.”

“Lagi pula hari ini hari ulang tahunnya,” tambah Lon lagi. Fay diam-diam melirik ibunya penuh harap. Semoga pesona Lon kali ini mempan untuk ibunya.

Julia pun menghela nafas setelah beberapa saat diam. “Baiklah, Nona. Kali ini aku memaafkanmu. Tapi lain kali jangan coba-coba lagi membuatku khawatir seperti ini, kalau kau ingin menikmati makan malammu,” ujar Julia masih dengan tatapan galak. “Cepat ganti bajumu sebelum kau kedinginan.” Suaranya sedikit melembut.

Fay langsung menganguk dengan cepat dan segera berlari ke kamarnya sebelum ibunya berubah pikiran.

“Kalau sudah dewasa, dia pasti akan menjadi cantik seperti itu.” Fay sempat mendengar Lon berkata begitu sesaat sebelum ia masuk ke dalam kamarnya. “Mungkin sinar bulan penuh yang menampakkan wujud aslinya.”

“Mungkin saja.” Ibunya menjawab. “Tapi fenomena yang dialami Fay cukup aneh bahkan bagi keturunan elf murni.”

Fay menutup pintunya lalu segera berdiri di depan cermin dan menatap gadis yang berdiri di dalam cermin itu.

Mungkin inilah diriku beberapa tahun lagi.

Menurut Lon ia cantik, tapi… bukannya Fay tidak suka dibilang cantik, tetapi ia tidak nyaman dengan wujud ini. Walaupun kaki-kakinya lebih panjang sehingga bisa melangkah lebih jauh, tapi ia tidak seleluasa bergerak seperti dengan tubuh usia tiga belasnya. Jika beberapa tahun lagi ia akan menjadi seperti ini –Fay mendesah lesu- lebih baik ia tidak usah menjadi dewasa sekalian. Seperti ibunya. Ya, ibunya adalah seorang half elf. Di usia beliau yang sudah pertengahan kepala tiga, ibunya masih tampak seperti manusia di usia awal dua puluhan. Ia dan ibunya bila disandingkan, lebih mirip kakak beradik, dibandingkan ibu dan anak. Tubuhnya pun mungil tidak seperti para elf umumnya –Fay belum pernah bertemu dengan elf, tapi kata Lon elf adalah bangsa yang memiliki tubuh paling tinggi dibandingkan bangsa lain.

Fay mendesah. Mungkin bila ayahnya pun seorang elf, ia pasti bisa awet muda seperti ibunya. Ia memang tidak mengenal ayahnya, karena ibunya tidak pernah mau menceritakannya. Tapi menurut Lon, ayahnya manusia.

Eh tapi dia juga tidak mau kalau jadi anak-anak terus. Sebal rasanya setiap kali Lon memanggilnya anak kecil.

“Fay! Kalau kau mau lama-lama di sana, makananmu keburu habis oleh Lon nih!”

Seruan ibunya membuat Fay gelagapan karena terhenyak oleh lamunannya. Ia segera mencari pakaiannya di lemari, bersamaan dengan itu dihempasnya jubah hijau tua itu ke lantai. Bunyi logam bertemu lantai membuatnya terhenyak. Suara itu berasal dari jubah hijaunya. Penasaran, diambilnya jubah itu dan ia menemukan logam penyebab suara itu.

Fay menyipitkan matanya melihat pin perak berukiran bunga rumput yang aneh disematkan dipinggir jubah itu. Rupanya ia tidak melihat pin itu tadi karena hari sudah gelap.

“FAY!”

“Iya, Bu!” seru Fay. Ia tahu ibunya pasti akan menyusulnya bila ia tidak segera menyelesaikan acara berpakaiannya. Pin aneh itu bisa menyusul nanti.

“Lama sekali kau!” omel Julia begitu melihat putrinya turun.

Fay cuma menyengir lebar menanggapi ocehan itu lalu menghampiri ibunya itu untuk masuk dalam pelukannya.

“Aku jadi merasa beruntung bisa melihat wujud dewasamu sekarang,” ujar Julia tersenyum dan mengecup sayang kening Fay.

“Kalian lebih mirip kakak beradik daripada ibu dan anak,” celetuk Lon tertawa lalu ikut nimbrung mengecup kening Fay. “Kita bersulang, Fay.” Lon memberikan segelas kecil jus anggur padanya.

“Jus anggur lagi,” protes Fay. “Aku kan sudah dewasa!”

“Badan dewasa, otak balita,” ledek Lon sambil menyentil jahil dahi gadis itu. Tanpa peduli dengan protes Fay, pria itu menyerahkan segelas anggur merah pada Julia, lalu mengangkat gelasnya sendiri. Fay dan Julia pun mengikutinya.

“Semoga Tuan Putri selalu sehat dan panjang usia!”

Bersama-sama ketiganya meminumnya.

“Tradisi yang aneh,” ujar Fay ketika mereka bertiga sudah duduk di meja makan dan menyantap makanan mereka. Ia mengacu pada tradisi bersulang barusan. “Apakah karena kita berasal dari Faran? Tidak ada anak-anak di pulau Lokia ini yang melakukannya. Apa jangan-jangan aku ini tuan putri di Faran?” Fay pun mentertawakan leluconnya sendiri.

Lon dan Julia saling berpandangan sejenak.

“Yah, karena di Faran semua anak perempuan dianggap tuan putri,” sahut Lon sambil menggigit paha ayam hutannya.

“Apakah kita harus selalu melakukannya setiap kali aku berulang tahun?” tanya Fay menatap ibu dan pamannya serius. “Menurut orang-orang desa, Faran adalah negeri barbar. Mereka suka membunuh dan menjajah dimana-mana. Aku tidak percaya aku ini berdarah Faran kalau bukan kau yang mengatakannya, Lon.”

Lon menyengir. “Aku juga tidak suka kenyataan bahwa aku pun berdarah Faran. Tapi yah –Lon mengangkat bahu- apa boleh buat.”

“Aku ingin jadi ksatria yang hebat supaya bisa memperbaiki negeri bobrok itu.” Mata Fay berbinar penuh semangat. “Besok kau akan mengajariku jurus baru kan, Lon?”

Julia mengelelengkan kepala. “Besok kau akan belajar tata krama, putriku.”

Fay langsung mengeluh protes. “Yah, Ibu… Ini memperlambat cita-citaku menjadi seorang ksatria!”

Lon tertawa. “Untuk menjadi ksatria, diperlukan lebih dari sekedar tubuh kuat dan jurus yang hebat, tapi tekad.”

“Tekad?”

Pria itu pun menunjukkan salah satu pergelangan tangannya yang terdapat bekas sayatan pisau. Fay mengenali luka itu. Dulu ia pernah menanyakannya, tetapi Lon menolak menjawabnya.

“Tanda sumpah darah.”

“Sumpah darah?” Fay tertarik dengan kata-kata itu.

PLAK!

Suara mengaduh Lon menyusul suara keras itu. “Aduh! Julia, kau kan tidak perlu memukulku dengan centong nasi itu!”

“Ini karena kau bicara yang tidak-tidak dengan anakku!” Mata coklat Julia mendelik tajam. “Fay, jangan dengar kata-kata manusia ngawur ini! Akan tiba saatnya kau mengerti semuanya dan kuharap bukan dalam waktu dekat.”

Lon langsung menunduk diam. Siapa sih yang bisa melawan Julia dan centong nasinya? Fay pun tidak bertanya lagi, tetapi kata-kata Lon dan ibunya yang tidak dimengertinya itu melekat di kepalanya hingga pada saatnya ia tidur.

—ooo—

“Seharusnya kau tidak berkelahi, Felix,” omel Fay sambil mengobati serigala kecil berbulu putih itu.

Felix mengeram kesakitan sewaktu Fay membersihkan luka di kakinya dengan air hangat. “Sakit, Fay!” teriak serigala kecil itu.

“Makanya jangan berkelahi!”

“Tapi Tuck dan kawanan serigalanya itu mengejek Wen!” protes Felix. “Katanya aku berteman dengan makanan. Yang benar saja! Wen bukan makanan, dia temanku!”

Fay mendesah. Felix memang sering sekali bertengkar dengan Tuck dan teman-temannya. Ibu Felix pernah berkata pada Fay bahwa Felix adalah serigala berbulu putih pertama yang lahir di dalam kawanan serigala mereka yang menandakan dirinya istimewa. Kemungkinan Tuck dan kawan-kawannya itu iri pada Felix.

Wen mendekati Felix lalu menjilati wajah serigala itu. “Hihihi.. tapi aku senang kau membelaku. Terima kasih, Felix.”

Felix mendekur menanggapi cicitan Wen.

Fay selesai mengobati luka-luka Felix lalu membungkus serigala kecil itu dengan jubah hijau tua yang ditemukan Rhata kemarin. “Hangat, Fay. Terima kasih ya.” Felix mengeram penuh terima kasih. Wen pun ikut meringkuk di dalam jubah itu.

“Kau sudah seperti ibu mereka, Fay,” komentar Rhata yang berbaring di sebelah mereka bertiga. Fay pun tertawa. “Lalu bagaimana ulang tahunmu kemarin? Ibumu tidak marah kan?”

“Sempat marah sih tapi seperti biasa Lon menolongku.” Fay terkikik geli mengingat kejadian kemari. Kemudian ia teringat pada pin perak di jubah hijau itu dan berniat menanyakannya pada Rhata. Tetapi tepat pada saat ia hendak membuka mulut, ia mendengar Rhata mengeram waspada. Bulu-bulu hitam coklatnya serasa menegang. Felix dan Wen pun gemetar ketakutan di dalam pelukan Fay. Fay langsung mengerti apa yang sedang terjadi.

Ada pemburu di dekat mereka.

Pedang pendek yang selalu dibawa di pinggangnya pun kini siap di tangannya. Perlahan ia berdiri sambil tetap menggendong Felix. Sementara itu Wen melompat ke belakang punggung Fay. Rhata kini mengeram ke salah satu semak-semak.

“Tunggu! Aku tidak bermaksud menyakitimu!”

Seruan itu berasal dari semak yang ditatap Rhata. Fay menepuk lembut pundak beruang itu. “Siapa kau? Tunjukkan dirimu!”

Semak-semak itu pun bergoyang-goyang dan tak lama kemudian muncul seorang pemuda berambut emas berpakaian pemburu dari sana. Tubuhnya penuh dengan ranting dan dedaunan. Pemuda itu menyengir lebar menatap Fay sambil melirik cemas pada  Rhata. Kedua tangannya terangkat ke atas.

“Kau pemburu kan?!” tuduh Fay sambil mengacungkan pedang pendeknya ke arah pemuda itu.

Rhata menambah ancaman dengan mengeram galak. “Pergi!”

“Eh sabar sabar! Ya, aku memang pemburu tapi saat ini aku tidak sedang berburu. Lihat!” Pemuda itu mengangkat tangannya lebih tinggi. “Aku tidak membawa panah kan? Hanya pedang di pinggangku.”

Fay menatap pemuda itu masih dengan pandangan curiga. Jelas ia tidak semudah itu percaya pada ucapan orang asing ini. Ia masih menimbang-nimbang pendapatnya mengenai pemuda itu.

“Kelihatannya dia jujur, Fay.” Rhata berkata padanya setelah beberapa lama. “Dan kelihatannya manusia ini tertarik padamu.”

Fay mengerutkan dahi dan menatap beruang itu tidak mengerti. Tertarik? Apa maksudnya?

“Namaku Rafe,” ujar pemuda itu. “Aku mencari jubahku yang hilang kemarin, tapi hmm.. nampaknya si kecil itu lebih membutuhkannya dariku.” Ia menatap Felix yang berada di dalam gendongan Fay.

Jadi jubah ini milik pemuda asing ini? Omongannya terasa masuk akal.

“Apa perlu kuusir dia?” eram Rhata galak membuat pemuda bernama Rafe itu melonjak kaget walaupun senyuman masih terhias di wajahnya.

“Hmm… apa kau bisa..hmm.. tolong katakan pada temanmu ini bahwa aku tidak berbahaya?” pinta Rafe ragu-ragu.

Sejenak Fay masih menatap pemuda itu dengan tatapan menilai, lalu akhirnya ia meminta Rhata membiarkan pemuda itu mendekati dan duduk bersama mereka, walaupun jarak yang diizinkan Fay cukup jauh dari mereka.

“Kau bisa berbicara dengan binatang?” Pemuda itu menatap Fay dengan tatapan kagum.

Fay terdiam sejenak lagi-lagi menimbang apakah ia akan menjawab pertanyaan itu atau tidak. Akhirnya ia memutuskan untuk menjawabnya, “Pada makhluk tanpa kata.”

“Makhluk tanpa kata?”

“Binatang, tumbuhan, bebatuan, sungai, semua makhluk tanpa kata.”

“Wow!” Mata Rafe tambah bersinar penuh kekaguman. “Siapa namamu, Nak?”

Fay mendelik sebal. ‘Nak’! Rafe memanggilnya ‘Nak’! “Aku sudah tiga belas tahun sejak kemarin,” sahutnya dingin. Jelas dia bukan anak-anak lagi!

“Benarkah? Kau baru berulang tahun?” Senyuman Rafe bertambah lebar tanpa peduli nada dingin gadis itu. “Selamat ulang tahun, hmm… boleh tahu namamu?”

Lagi-lagi Fay menimbang dan sekali lagi pula memutuskan untuk menjawabnya. Senyuman Rafe membuatnya merasa nyaman. Perasaannya mengatakan bahwa ia bisa mempercayai pemuda ini. “Fay.”

“Fay,” gumam Rafe seakan sedang merekam baik-baik nama Fay di dalam hatinya. “Hati yang bijak. Namamu indah, seperti pemiliknya.”

Kalimat itu secara misterius membuat Fay merasa rasa senang menghinggapi dirinya. Sepertinya Rafe bisa menjadi teman yang asyik.

“Dia sedang merayumu, Fay.”

Fay menoleh pada Wen yang mencicit di sampingnya. “Apa?”

“Apa katanya?” tanya Rafe penasaran.

“Katanya kau sedang merayuku. Apa artinya?”

Tawa Rafe meledak tiba-tiba.

“Mengapa kau tertawa?” Fay tersinggung.

“Aku tidak merayumu kok.” Mata Rafe berubah tajam dan bersinar aneh menatapnya. “Kalau aku merayumu, aku akan melakukan ini.” Pemuda itu bergerak mendekatinya dengan cepat, bahkan Rhata pun tak sempat mengeram protektif. Tiba-tiba saja wajah Rafe berada begitu dekat di depan wajah Fay. Jarak mereka kurang dari sejengkal tangan dan selanjutnya bibir pemuda itu menempel sekilas di bibir Fay.

Rhata mengaum gusar hendak menerjang Rafe membuyarkan keterpanaan Fay akan apa yang baru saja terjadi.

“Rhata!” Seruan Fay langsung menahan beruang itu dan memberi cukup waktu bagi Rafe untuk segera menjauh.

“Manusia lancang! Akan kucincang kau!”

Rafe pun bengong dengan apa yang barusan dilakukannya, lalu menyengir maaf. “Padahal aku tidak bermaksud sampai menciummu, tapi kau terlalu manis sih.” Lalu ia menatap Fay mengamati reaksi gadis itu dan heran dengan hasilnya. Ia mengharapkan setidaknya ada reaksi yang luar biasa, seperti marah, malu dengan wajah merah, atau apa saja, tetapi Rafe sama sekali tidak menemukannya dari diri gadis itu.

Fay menatap Rafe bingung lalu bertanya. “Aku jadi tidak mengerti? Apa merayu itu sama dengan tawaran persahabatan?”

Pertanyaan polos Fay itu membuat alam dan seisinya seakan terpana, tak terkecuali Rafe dan ketiga binatang teman-teman Fay. Tak lama kemudian keheningan di antara mereka pun terpecah dengan dengusan tawa Rafe diikuti dengan kerutan dahi Fay.

Bukankah apa yang dilakukan Rafe itu sama seperti ketika ibunya dan Lon lakukan terhadapnya, bedanya mereka melakukannya di dahi atau pipinya. Itu ungkapan kasih sayang. Ungkapan persahabatan. Apa yang lucu?

—ooo—

“Cih!”

Kutendang batu kerikil yang tak berdosa dengan penuh emosi. Yah, tapi salahnya sendiri, kenapa bermukim di jalan di depanku. Rupanya batu kerikil itu menyimpan dendam pada ulahku. Ia menabrakan dirinya pada sosok berbulu coklat yang sedang tidur-tiduran tak jauh dari tempatku. Aku pun terpanjat.

“Kampret! Mati gue!” makiku dalam gumam.

Aku sih tidak takut anjing, tapi coba saja kalau kau diperhadapkan pada anjing kampung berbulu coklat dengan badannya hampir setengah badanmu dan mengeram menonjolkan gigi-giginya yang kayanya sih sakit kalau kena gigit, aku salut jika kau tidak mengeluarkan keringat dingin atau minimal panik lah.

Aku tahu jika aku lari, anjing itu pasti mengejar dan aku bukan pelari ulung. Aku hanya punya 2 kaki dan si anjing punya dua kali lipat jumlah kakiku. Jelas aku kalah lah! Jadi aku pun diam di tempat tak berani bergerak, sambil diam-diam mengumpat kesal. Bukan kesal karena si anjing kok -ini kan gara-gara aku berdosa sama si batu- tapi pada kejadian yang baru saja terjadi sekitar setengah jam yang lalu.

Hari ini aku spesial menunggu Rani di depan gerbang SMU. Padahal jam pulang SD kan lebih pagi daripada SMU dan hari ini bukan jadwal ekskul karate, tapi aku rela menunda pulang lebih lama demi bisa membeberkan kenyataan pada Rani. Eeh… malah si tante itu pergi kencan dengan Roy, si playboy cap kambing itu! Aku geram sekali bila mengingat betapa cerianya wajah cantik itu menunggangi motor di belakang playboy kambing itu. Huh!

Aku tahu, wajar jika Rani tidak memilihku karena aku jauh lebih muda darinya, tetapi aku tidak rela bila ia memilih cowok seperti itu. Aku tahu persis siapa Roy itu sebenarnya. Sewaktu SMP, ia pernah pacaran dengan kakak sepupuku, Kak Manda. Mereka memang sudah putus dan kurasa aku tidak perlu menyebutkan alasannya. Sudah jelas. Dan yang paling membuatku marah (sekaligus geli sih), Rani bilang, Roy minta ditemani beli kado untuk adik perempuannya. Aku tahu persis bahwa Roy adalah anak tunggal.

Kurasakan sesuatu yang basah dan lembut menjilati tanganku. Oh, aku baru ingat sedang diujung tanduk dengan anjing ini. Nampaknya si anjing bersimpati padaku, jangan-jangan bisa baca pikiranku..

*******

PLAK!

Aku mengaduh kesakitan lalu melotot pada si pelaku penganiayaan. “Sakit, San! Sialan lo!”

Ichsan tertawa sambil berlagak kaget. “Ups! Galak bener, man. Lagi bete ya?”

Aku tidak langsung menjawab. “Iya.” Jelas aja bete berat. Belakangan ini Rani selalu berangkat ke sekolah dengan Roy dan motornya.

Ichsan duduk di sebelahku dengan gaya orang bijak. “Hmm.. Hmm.. Hmm.. untuk anak seusia kita, kalo bete, penyebabnya bisa tiga.” Ia mengacungkan tiga jemarinya . “UAN, ortu, cewek. Nah, lo yang mana, man?”

Lagi-lagi aku tidak langsung menjawab. Aku terlalu bete untuk bercerita. “Yang terakhir.”

“Uihh!” Gayanya kini jadi super lebay. “Pasti gara-gara kakak cantik yang tinggal di sebelah lo ya?”

Aku mencibir. “Tumben lo pinter.”

“Iya doong! Gini-gini Einstein itu kakek gue, tau nggak lo!”

“Iya, Barack Obama juga babe gue,” sahutku sinis. “Pergi sana! Lo malah bikin gue tambah bete!”

“Ih, Adri jadi galak.” Ichsan mendekat perlahan lalu berbisik di telingaku. “Nih, gue kasih tau, man. Kata Bang Fajar, kalo jodoh nggak kemana. Jadi santai aja, man!”

“Siapa Bang Fajar?”

“Tukang ojek langganan nyokap gue.”

GUBRAK!!!

**********

Pulang sekolah, aku berpapasan dengan Mamiku yang sedang mengunci pintu rumah. Hmm.. pasti mau ke rumahnya Rani lagi.

“Mau kemana, Mi?”

“Eh, Adri. Yuk ikut ke rumahnya Tante Desy buat bantu-bantu masak.” Tuh bener kan?

Mami memang teman ngerumpi Tante Desy, mamanya Rani. Mereka juga sering masak-masak bareng. Nah, aku dan Rani sering membantu acara masak-masak mereka. Karena itu sejak kecil, aku dan Rani sering main bersama. Walaupun usia kami berbeda empat tahun. Dulu aku selalu berharap Rani bisa menjadi kakakku, tapi sekarang tidak lagi. Tentu saja bukan karena sekarang Rani jadi galak padaku. He he he… itu salahku juga sih. Aku sering menggodanya. Karena aku senang bila mendengar teriakan dan matanya yang melotot padaku. Itu artinya, aku diperhatikan olehnya.

Tante Desy langsung menyambut kami begitu kami tiba. Kami langsung ke dapur dan beraktivitas. Aku tidak bersemangat melakukannya karena tidak ada Rani. Cewek itu pasti sedang kencan dengan playboy kambing itu. Aku benar-benar harus berbuat sesuatu!

Rani pulang sekitar setengah jam setelah masak memasak dimulai. Mood-ku langsung berubah cerah mendengarnya menyapaku.

“Hai, bocah. Sudah lama?” sapanya ceria.

Aku menyengir mendengar suaranya. Aku tidak pernah terganggu bila dipanggilnya bocah. Toh aku memang masih anak-anak. Hmm… oke oke. Aku mengaku, sebenarnya terkadang aku memang sedikit terganggu, terlebih lagi pada saat seperti ini. Tapi aku tidak akan menunjukkan rasa terganggu itu.

“Barusan kok. Dari mana lo?”

“Jalan sama cowok gue dong.” Ia menyengir lebar, tak peduli melihatku sedang memutar bola mataku. “Eh nih. Mau kenalin cowok gue, Roy.”

Dari belakang Rani muncul sosok Roy yang tersenyum, tetapi wajah itu berubah begitu melihatku. Rupanya ia masih mengenaliku sebagai orang yang menghajarnya hampir setahun yang lalu karena membuat Kak Manda menangis. (Begini begini, aku ban hijau di karate.)

Ini kesempatanku. Aku memasang senyuman lebar. Mungkin memang terlalu lebar karena kini Rani menatapku waspada. “Halo, lama tak jumpa, Kak Roy.”

Rani mengerutkan dahinya. “Kalian sudah kenal?”

Si playboy kini nampak salah tingkah. “Eh i…iya..”

“Kak Roy ini TEMANNYA Kak Manda, sepupu gue.” Aku sengaja menekankan kata teman itu. Aku tahu Rani tidak bodoh untuk mengartikan pesan tersembunyiku. “Terus gimana kemarin,” lanjutku. “Udah beli kado buat Jamilah?”

Kening Rani makin berkerut. “Siapa Jamilah?”

“Lho? Kak Roy nggak cerita, Ran?” Aku berlagak kaget. “Itu lho! Adik ceweknya Kak Roy!”

“Hah! Memangnya nama adikmu, Jamilah?” Rani menyipit curiga menatap Roy.

“I..iya.” Aku rasa keringat dingin si Roy sudah keluar sampai hitungan liter dibawah tatapan sadis Rani.

“Oh iya!” Aku berakting kaget. “Baru inget! Kak Roy kan nggak punya adik. Ya kan, Kak? Jangan-jangan Jamilah itu adik angkatnya ya?”

Aku sampai bergidik sendiri merasakan meningkatnya aura membunuh dari diri Rani.

“Gue mau ketemu sama adik lo sekarang,” ujar Rani singkat sambil menyeret tangan cowok itu keluar.

*********

“RANIIII….!!! RANIII…!!! RANIIIIII…..!!!!!!!!!”

Keesokan paginya aku kembali memanggil Rani mengajaknya berangkat sekolah seperti sebelum terkena rayuan playboy kambing itu. Aku memanggilnya lebih keras dan intens sampai rasanya suaraku serak karenanya. Aku memang penasaran dengan hasil akhir dari peristiwa kemarin.

Pintu rumah Rani pun terbuka. Aku hampir berseru senang sampai kulihat yang keluar bukan cewek yang kuharapkan, tapi Tante Desy.

“Adri, Rani nggak ada di rumah. Kemarin menginap di rumah Nia, temannya. Kayanya lagi sedih gitu.”

Jawaban itu cukup membuatku terdiam dan larut dalam lamunan sepanjang perjalanan ke sekolah, selama pelajaran, istirahat, ulangan, bahkan pulang sekolah. Bahkan Ichsan hampir menyerah untuk menarik perhatianku jika saja ia tidak bisa menebak apa yang menjadi beban pikiranku.

“Lo pasti bikin sesuatu sama kakak cantik itu sampai lo nyesel begini kan?”

Kata-kata itu berhasil menarik perhatianku. Tumben amat, belakangan ini Ichsan jadi pintar. Aku memang menyesal dan merasa bersalah, tapi aku tidak tahu mengapa. Aku kan sudah berbuat baik, menyadarkan Rani. Tidak salah dong.

“Minta maaf aja, man,” ujar Ichsan serius. “Kata Oom Pardjo, salah ya minta maaf, apa susahnya?”

“Gue nggak salah. Ngapain minta maaf?” protesku.

“Tapi lo ngerasa bersalah kan? Ya, artinya lo salah.”

Kata-kata sederhana itu mengena ke dalam lubuk hatiku. Tak sangka juga temanku yang sok gaul ini bisa mengeluarkan kata-kata sebijak ini. Aku pun tersenyum. “Thanks, man.”

Ichsan pun membalas senyumanku dengan cengirannya yang khas. “No prob, man.”

“Tapi ngomong-ngomong, siapa Oom Pardjo? Tukang ojek lo juga?”

Ichsan tergelak. “Yang ini gue cuma ngarang. Gue juga nggak kenal Oom Pardjo.”

Cape deh!!!

***********

Pulang ekskul karate, aku langsung ke rumah teman Rani itu. Aku tahu kira-kira dimana rumah Kak Nia, karena pernah beberapa kali ke sana. Aku ingat pertama kali ke sana waktu masih di bangku TK. Aku merengek pada Rani minta ikut. Mami memarahiku supaya tidak menyusahkan Rani, tetapi Rani sama sekali tidak keberatan. Rasanya aku malu bila mengingat tingkah kekanak-kanakanku waktu itu.

Hari ini pun aku baru sadar, sampai sekarang aku masih kekanak-kanakan dan pantas dipanggil bocah. Aku bahkan tak sadar, bahwa ada kemungkinan aku menyakiti Rani dengan membeberkan kenyataan mengenai Roy. Bisa saja, Rani benar-benar menyukai Roy kan?

Begitu sampai di depan rumah Kak Nia, aku langsung menekan bel pagar. Kak Nia keluar tak lama setelah si bel selesai bernyanyi. Ia tersenyum menyambutku. “Nyari Rani ya?”

Aku menganguk.

“Ada di dalam kok. Yuk masuk.” Kak Nia membuka pintu pagar. Setelah kami tiba di ruang tamu, Kak Nia masuk ke sebuah kamar memanggil Rani.

Tiba-tiba saja aku merasa gugup. Sial! Aku tidak tahu kenapa tapi sulit sekali mengatasi rasa gugup ini. Kulihat Rani keluar dari kamar Kak Nia. Wajahnya cerah ceria melihatku. “Ngapain ke sini, bocah?”

Aku diam saja. Hanya bisa menyengir gugup.

“Mau minum apa, Adri?” tanya Kak Nia.

“Apa saja, Kak.” Kak Nia pun masuk ke dapur.

“Huh! Dasar!” gerutu Rani menjitak kepalaku. “Nia atau Roy lo panggil kakak. Giliran gue… Dasar, bocah sok tua!”

Mendadak gugupku hilang. Mungkin penyebabnya sikap Rani yang nampak seakan tidak pernah terjadi apa-apa. “Soalnya mana ada cowok manggil ceweknya dengan panggilan kakak atau mbak, kan?”

“Hah! Siapa cewek lo?!”

Aku menyengir jahil. “Elo.” Kulihat Rani membuka mulut hendak membalas, tapi langsung kulanjut dengan nada serius dan tulus, “Sorry ya.”

Kulihat dahinya mengernyit dan matanya menyipit curiga. Aku tahu ia bersiaga menghadapi serangan kejahilanku yang biasa. “Kenapa?”

Wajahku memanas. “Karena udah ngasih tau lo kenyataan soal si Roy. Gue nggak mikirin perasaan lo. Seharusnya gue nggak boleh begitu.” Rani menyengir lebar. Tangannya langsung mengacak-acak rambutku heboh. “Eh, apa-apaan sih!” Sebal juga aku jadinya. Udah serius-serius begini, malah ditanggapi asal oleh yang bersangkutan.

“Adrian, lo tuh beneran masih bocah, tau nggak?! Makanya jangan sok tua!” Ia menatapku dengan senyum, sementara tangannya kini mulai turun ke kedua pipiku dan mulai melakukan aksi pencubitan. “Gue justru bersyukur lo ngasih tau gue. Emang sih, gue sedih tapi lebih baik tau sekarang bahwa Roy itu brengsek dibandingkan nanti. Waktu gue untuk nyari cowok yang bener-bener baik, akan kebuang sia-sia buat cowok kayak gitu. Makasih banget ya.”

Lega langsung menghampiriku, sekalipun aku tetap terpaku. Sulit rasanya untuk bergerak. Mataku dan mata Rani saling bertatap membuat ada rasa nikmat di dalam diriku. Aku rasa, mungkin selamanya hatiku akan terikat dengan cewek ini.

“Yah.” Akhirnya aku menemukan suaraku. “Sama-sama. Tapi lo nggak perlu nyari cowok lagi. Yang bener-bener baik itu ada di sini.” Aku menyengir padanya.

Rani memberikan mata melotot favoritku. “Heh!” Cubitannya kurasakan makin keras. “Kecil-kecil udah ngerayu. Siapa yang ngajarin?! Minum susu dulu sana. Kalo udah gede baru balik lagi. Siapa yang mau sama anak kecil!”

Aku melepaskan diri dengan susah payah dari ganasnya tangan Rani. Sambil mengelus kedua pipiku yang merah. Kulihat dengan sudut mataku, Kak Nia keluar dari dapur sambil senyam-senyum sambil membawa nampan berisi tiga gelas berisi air berwarna merah. Tapi aku tidak peduli dengan keberadaannya. Aku menatap Rani dengan mantap dan berkata, “Lihat gue, Ran. Bocah ini bakal cepat gede buat lo. Lihat saja nanti!”

**************

RANIIII…!!”

Aku menggertakkan gigi, menahan emosi. Suara cempreng itu berasal dari depan rumahku dan segera membuyarkan lamunan indahku yang sudah kurangkai sejak tadi. Tenang. Tenang. Masa pagi-pagi begini harus bete. Aku tetap cuek merapikan rambutku dengan bantuan cermin.

“RANIII…!!”

Pikirkan Roy, Rani. Pikirkan betapa gantengnya dia kemarin, waktu memintamu menjadi pacarnya di restoran tepi pantai Ancol kemarin.

“RANIII..!! MAU SEKOLAH NGGAK SIH!!”

Roy pasti akan kelihatan luar biasa ganteng hari ini, Rani. Dengan senyumannya yang mempesona. Bayangkan, semua cewek-cewek satu sekolah pasti iri!

“RANIII…!!! IH DASAR KEBO!! MOLOR MELULU KERJANYA!!

Aku tidak tahan lagi. Dengan kesal kubanting sisirku masuk ke dalam tas sekolahku, lalu beranjak menuju jendela kamar. Kusibak gordennya dan kusorong jendela kaca itu sampai terbuka. Tampak bocah sialan berbaju merah putih itu menyengir jahil menatapku memamerkan deretan giginya yang putih.

“Pagi, Putri Kebo! Baru bangun ya?”

“Suara cempreng begitu bisa bikin mayat sekuburan bangun!” semburku. “Berangkat aja sendiri! Ngapain teriak-teriak depan rumah orang! Dasar nggak tau malu!”

“Eh siapa bilang nggak punya? Gue punya kemaluan kok. Rani mau lihat?” Ia siap membuka ritsleting celananya.

Aduh! Bener-bener gila bocah satu ini. Ia benar-benar menikmati rona merah di wajahku. Terbesit keinginan untuk menantangnya. Aku mengenal Adrian, bocah tetanggaku yang kurang ajar itu, ia tidak bisa ditantang. Tetapi bisa-bisa aku dianggap merusak anak orang.

Aku pun memutuskan untuk tidak ikut-ikutan sinting seperti anak itu. Lagipula aku kan lebih tua, seharusnya aku bersikap lebih dewasa menghadapinya. Aku ingat di salah satu buku yang kubaca. Teknik untuk menahan emosi. Menarik nafas lalu membuangnya. Tarik lagi, lalu buang.

Adrian menatapku bingung. “Kok kayak orang beranak,” celetuknya.

Emosiku langsung melejit lebih dari sebelumnya, pasti mampu bikin gosong telor mata sapi. Banteng matador pun pasti kalah keras dengusannya dengan dengusanku. Begitu pula si setan Sadako, pasti kaget bila melihat pelototan mataku saat itu.

“ADRRIIAANNN!!!!!!!!!”

******

Nia tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya begitu kuceritakan kejadian tadi pagi di kantin sewaktu istirahat. Sampaikan beberapa anak melirik tertarik ke arah meja kami.

Aku langsung merengut kesal. Sahabatku yang satu ini memang tidak kenal belas kasihan dalam hal menertawakanku. “Gue serius, Ni!” seruku gemas. “Anak sotoy itu bener-bener bikin gue gila! Mana kurang ajar, lagi! Nggak mau sama sekali manggil gue kakak kek, mbak kek. Padahal beda empat tahun, tapi manggilnya, Raniii!'” Aku memonyongkan bibirku menirukan suara cepreng Adrian.

Nia menjawil lengan bajuku dan menunjukkan sosok tinggi tampan yang sudah berdiri di sampingku. Aku langsung membelalak dan rasa malu datang menghampiriku. Sialan! Rio pasti melihat aku dalam keadaan nggak manis dengan memonyong-monyongkan bibir begitu.

“Kamu tambah manis deh dengan bibir monyong begitu,” godanya sambil duduk di sebelahku.

Nia memutar bola matanya. “Kayanya gue jadi nyamuk di sini.”

Aku hampir tidak mendengar sindiran Nia, terlalu terpesona dengan Rio, the most wanted boy of the year. Aku rela semalaman memonyongkan bibirku asalkan bisa mendengarnya menyebutku ‘manis’.

“Besok ada waktu nggak, Say? Kita nonton yuk.”

Aku langsung menganguk-anguk semangat. Apapun untukmu, Rio!

“Oke. Janji ya,” Rio mengedipkan mata menebarkan pesonanya padaku dan aku merelakan diriku tenggelam di dalamnya. Masa bodoh dengan Nia yang menyindir membuat suara nyamuk.

“Ngung ngung ngung…”

******

“Eh, Ran. Gue liat kemarin lo nonton berdua sama cowok. Itu cowok lo?”

Aku mendelik ke arah Adrian. Seperti biasa, ia dan ibunya, Tante Mimi, main ke rumah kami. Tante Mimi memang teman ngerumpi Mama dan sering membuat kue bareng seperti saat ini. Aku dan Adrian yang kebetulan sama-sama anak tunggal, ikut membantu mereka di dapur. Sementara para ibu sedang sibuk hahahihi sendiri di salah satu sudut dapur, kami berdiri bersebelahan dengan tangan belepotan adonan kue.

“Emang apa urusan lo?” tanyaku judes.

“Beneran udah jadian sama cowok itu?” Adrian bersikukuh dengan pertanyaannya.

“Iya! Emang kenapa?”

“Putusin aja!”

Aku langsung kaget dengan perkataannya yang tegas, lugas dan tanpa ampun. Putusin? Emang dikiranya segampang mutusin kolor pake gunting?

“Apa?!”

“Lo berlagak budek ya?” ujar Adrian cuek. “Putusin aja! Cowok itu nggak beres!”

Aku menyipitkan mataku menatapnya. “Maksud lo?”

Adrian terdiam sejenak, lalu menyengir sambil mengedipkan matanya genit. “Maksud gue, kan udah ada gue!”

Entah sudah berapa kali aku melotot sejak mengenal Adrian. Lama-lama bisa lepas juga bola mataku ini. “Lo gila ya?”

“Iya, tergila-gila sama lo,” Matanya mengerling jenaka.

“Siapa yang mau sama anak kecil!” tukasku sinis.

“Gue nggak keberatan kok sama tante-tante.”

Tanpa pikir panjang langsung kulumuri wajah tengil itu dengan adonan kue di tanganku, disusul dengan teriakan Mama.

“Raniii..!! Kamu apain anak orang?!”

*****

“Padahal dulu dia anak yang lucu, yang selalu ngikutin gue kemana pun gue pergi, tapi sekarang… nyebelin banget! Masih kelas enam tapi lagaknya sok tua!” Aku menatap Nia yang nampaknya diam saja menatapku sambil cengar-cengir nggak jelas. “Eh! Lo dengerin gue nggak sih?!”

“Denger kok. Denger. Dari tadi lo cerita soal bronis lo terus,” Nia menatapku tanpa arti.

Aku melotot lagi (belakangan ini aku benar-benar sering melotot). “Bronis?! Jangan gila deh!”

Nia terkekeh-kekeh. “Belakangan ini lo lebih banyak ngomongin si Adri daripada Roy.”

Apa?! Aku tak sangka ternyata nampak begitu di depan mata Nia. Syok juga mendengarnya. Bisa kubayangkan muka bocah tengil itu jika mendengar perkataan Nia barusan. Memikirkannya membuatku sebal. Lupakan! Lupakan! Lupakan! Hari ini aku ada kencan lagi dengan Roy. Roy bilang ingin membelikan adik perempuannya hadiah ulangtahun, makanya dia memintaku menemaninya.

Pulang sekolah, aku sampai terkaget-kaget melihat Adrian menungguku di depan gerbang. Walaupun kami sering berangkat bareng karena sekolah kami satu kompleks, tapi kami hampir tidak pernah pulang bareng. Jam pulang SD dan SMU jelas berbeda jauh. Tumben-tumbenan dia menungguku di sini.

“Hai,” sapanya ceria. “Pulang bareng yuk, Ran.”

“Nggak bisa, Dri. Hari ini mau kencan sama ROY.” Sengaja kutekankan suaraku saat menyebut nama Roy dan seperti yang kuduga, wajah ceria itu berubah mengerut. “Dia mau minta tolong gue milihin kado buat adik ceweknya.” Wajah itu semakin mengerut. Ho ho ho.. si bocah cemburu. Senang sekali bisa menggodanya seperti ini.

“Hah? Adik cewek?!”

“Iya!” sahutku ceria. Kemudian kudengar suara Roy memanggilku dari halaman parkir. Ia sudah siap dengan motornya. “Sudah ya.” Aku pun meninggalkan Adrian yang kurasakan tatapannya di belakang punggungku.

*********

Fiona menghela nafas panjang setelah menutup pintu kamarnya dan bersandar di sana. Banyak hal yang terjadi dalam beberapa minggu ini cukup mengguncang-guncang jiwanya. Melakukan laporan pada Jenderal Zephar lah yang paling mengganggunya.

Lama tidak melihatnya, sang jenderal masih tampak gagah di usianya yang sudah kepala lima. Rambut putihnya semakin bertambah tetapi kharismanya masih tetap ada, bahkan mungkin bertambah berkat rambut putihnya. Hanya saja, Fiona merasa, sorot matanya tidak lagi sama seperti dulu. Mata yang hangat dan bersinar setiap kali Fiona memanggilnya ‘Ayah’. Sudah berapa lama kah sejak itu? Dua tahun? Tiga tahun? Empat tahun? Bahkan Fiona sudah berhenti bertanya-tanya alasan perubahan sifat ayahnya itu.

Cukuplah soal itu. Fiona tidak ingin memikirkannya lagi. Ia beranjak dari sana dan masuk ke kamar mandi. Dengan cepat dilepasnya seragam perwiranya dan masuk ke dalam pancuran air hangat dengan sedikit harapan, air pancuran yang membasahi tubuhnya bisa membawa pergi semua kegundahan hatinya.

Selesai mandi, hanya berbalutkan jubah mandi, ia duduk di depan cermin menyisir rambutnya. Gadis di dalam cermin itu nampak kusam dan muram, rambut panjangnya nampak kusut, membuat Fiona bertanya-tanya, sudah berapa lama berlalu sejak ia merawat dirinya? Sebagai seorang perwira menengah, waktunya banyak tersita untuk pekerjaannya. Yang ada di sekelilingnya kalau bukan orang-orang tua petinggi militer ya medan perang atau mayat bergelimpangan.

Fiona menghela nafas. “Aku jadi lemah.”, gumamnya. Mungkin pertemuan dengan ayahnya tadi siang membuatnya sedikit melankolis. Tiba-tiba tanpa sengaja, matanya tertuju pada liontin berbatu putih yang terpantul di cerminnya. Ia pun beranjak dan meraih batu putih yang tergeletak di meja kecil sebelah tempat tidurnya.

“Dari mana kau mendapatkan batu itu?!”

Sosok tampan bermata hijau dingin yang mengatakan kalimat itu langsung menghampiri ingatannya. Fiona hanya bertemu dengan Cyant dua kali dan dua kali pula, ia berhutang nyawa pada pemuda itu.

Cyant selalu menatapnya dingin penuh permusuhan, karena Fiona adalah sang penjajah dan Cyant adalah si terjajah. Tetapi anehnya, Fiona tidak keberatan. Ada rasa nyaman dan aman ketika Fiona berada di dekat dengan pemuda itu, seakan mereka sudah lama saling mengenal. Ingin rasanya membawa jiwa dan raganya berjumpa lagi dengan pemuda itu.

Seketika batu putih itu bersinar terang mengejutkannya. Begitu terang hingga ia mengira matanya telah buta. Sinar itu perlahan-lahan memudar setelah beberapa detik sehingga Fiona bisa membuka matanya perlahan-lahan dan ia membeku melihat sosok yang terbaring di tempat tidurnya.

Apakah ia bermimpi?

Sosok itu nampak terluka dengan perban membelit dada dan kepalanya, dan sama terkejutnya dengan Fiona. Mata hijaunya membelalak kaget. Beberapa saat kemudian, kata-katanya memecah keheningan, “Kau… apa yang kau lakukan di sini?”

“Cyant..? Kau terluka?” Sejenak Fiona tidak peduli dengan apa yang terjadi. Ia hanya peduli dengan apa yang dilihatnya. Cyant terbaring lemah di sana. Bercak-bercak darah di perban-perban itu membuatnya cemas.

Cyant mendengus pelan. “Bukan urusanmu, Skier.” Ia melengos. “Lebih baik kau menjelaskan mengapa kau ada di kapal Ed dan dengan hanya memakai baju minim begitu.”

Wajah Fiona langsung merona merah dan spontan menggunakan tangannya menutupi tubuhnya. “Maaf.”, ucapnya spontan. Tunggu dulu. Mengapa ia harus minta maaf? Ini kan kamarnya dan Cyant lah si penyusup. Fiona juga merasakan ada yang aneh dengan kata-kata Cyant.

“Cyant, ini bukan kapal Ed. Ini markas militer Sky Imperium.”

Pemuda itu kembali melotot kaget. “Apa! Tidak mungkin! Ini klinik Skidbladnir.”

“Batu itu..”, cetus Fiona.

“Apa?”

Diperlihatkannya liontin batu putihnya pada Cyant. “Batu ini bersinar sebelum tiba-tiba kan berbaring di tempat tidurku.”

Cyant terdiam. Tatapannya terpaku pada Fiona membuat dada gadis itu berdesir aneh. Kemudian pemuda itu membuka salah satu genggamannya dan memperlihatkan isinya. Batu yang sama dengan milik Fiona, hanya saja berwarna merah. “Hal yang sama terjadi pada batu ini.”, gumamnya lebih pada dirinya sendiri. “Apa yang terjadi?”

Selagi Cyant tenggelam dalam pikirannya, Fiona menatap pemuda itu dan merasakan desiran di dadanya semakin kuat. Ia sedang memikirkan pemuda itu saat memegang batu putih itu dan berharap bisa berjumpa dengannya. Mungkinkah batu ajaib itu merespon apa yang ada di dalam hatinya.

“Apa yang kau pikirkan sewaktu menggenggam batu itu?” Pertanyaan blak-blakan itu langsung membuat wajah Fiona terasa semakin memanas.

“A..apa?”

“Kau dengar aku.”, sahut Cyant dengan suara dinginnya yang biasa.

Fiona terdiam. Menimbang-nimbang apakah ia akan memberitahu Cyant yang sebenarnya atau tidak.

“Aku sedikit teringat padamu.”, ujar Cyant sebelum Fiona selesai berpikir. Suaranya terdengar sedikit melembut. Atau memang cuma perasaan Fiona saja?

Kenyataan Cyant ternyata sedang memikirkannya -walaupun hanya sedikit- membuat Fiona merasakan sukacita yang amat sangat dan sangat sulit menyembunyikannya. “A..aku juga sedikit teringat padamu.” Suaranya pasti kedengaran aneh di telinga Cyant.

Jika Cyant pada saat yang sama sedang memikirkannya, apakah kedua batu itu merespon keinginannya dan Cyant karena kebetulan mereka memiliki pikiran yang sama? Fiona menatap Cyant dan menemukan pemuda itu sedang menatapnya. Nampaknya pemuda itu pun berpikiran sama.

Pagi berganti siang.

Siang berganti malam.

Hujan deras datang menemani malam.

Tapi aku hanya duduk di sini memandangi titik-titik air yang menari-nari di jendela ruang kerjaku. Tak ada minat untuk bergerak. Rasanya seluruh tubuhku terikat oleh kekuatan tak terlihat di kursi ini. Bahkan hanya sekedar berteriak untuk menghilangkan frustasiku saja rasanya aku malas, hanya mampu menghela nafas.

Di depanku komputer masih menyala sejak pagi, namun hanya beberapa kali kusentuh. Ide yang sudah berbulan-bulan ada di kepalaku sudah menunggu untuk ditumpahkan, tetapi aku tidak bisa memulainya. Seakan apa yang mengganjal di dadaku yang terasa nyeri ini, kini menjalar ke otak. Aku jadi bertanya-tanya.

Apakah cinta adalah sejenis kanker?

Aku mendesah sekali lagi. Wajahnya terus menerus menghantuiku. Semakin lama semakin parah. Hari pertama satu kali lipat, hari kedua dua kali lipat, hari ketiga tiga kali lipat, begitu seterusnya. Dan ini adalah hari kedua puluh.

Padahal aku lah yang memintanya pergi.  Memintanya jangan menemuiku lagi. Meyakinkannya bahwa aku tidak mungkin mengkhianati sahabatku. Membuatnya membenci diriku…

Yang kurasakan ini begitu rumit. Bukan hanya sekedar kenyataan bahwa ia adalah milik sahabatku. Bukan sekedar rasa bersalahku kepadanya. Bagaimana pun juga, perasaan ini terlarang. Yang tidak seharusnya terjadi di antara kami. Dia tidak akan memahaminya dan demi kebahagiaannya, aku pun tidak akan membiarkannya memahaminya. Biarlah aku yang menderita. Ini adalah penebusan dosa masa laluku kepadanya.

KRIIING!!

Suara bel pintu membuyarkan lamunanku. Kubiarkan berbunyi beberapa kali, dengan maksud supaya siapa pun yang ada di luar sana, segera pergi.

Dan suara bel itu pun berhenti. Aku menghela nafas lega.

KRING! KRING! KRING!

Aku mengeram kesal dan memaksa diriku bangkit dari kursiku. Aku bersumpah akan mencari gara-gara dengan siapa pun yang ada di luar pintuku dan ketika orang itu terpancing emosinya, maka aku akan dengan senang hati meninju mukanya.

Kubuka pintu dengan kasar dan bersiap memaki, namun melihat sosok yang ada di depan pintuku, semua kata-kata yang sudah ada di mulutku lenyap tak berbekas.

“Hai.”, ujar dia tersenyum gugup. Tetapi beberapa saat setelah ia menatapku tanpa berkedip, dia berseru, “Astaga. Apa yang terjadi padamu?” Dia tidak membuang waktu dan menyerbu masuk ke dalam apartemen-ku. Dan kembali terkesiap melihat tempat tinggalku. “Astaga! Apa baru saja ada pesawat mendarat darurat di sini?”

Aku hanya bisa bengong seperti orang bodoh melihat dia mulai membenahi apartemenku. Tenggorokanku terasa tercekik, tak bisa mengeluarkan suara apapun. Ya Tuhan, selama dua puluh hari yang bisa kulihat hanya bayangan dirinya. Tetapi kini di depanku gadis itu ada dan nyata. Kurasakan kekosongan hatiku perlahan-lahan terisi, mengembalikan fungsi otakku yang sudah hibernasi berhari-hari. Namun sebaliknya, dalam diriku hinggap rasa mendamba yang tidak mungkin bisa terpuaskan.

Kehadirannya membuatku bertanya-tanya, apakah ia sudah lupa dengan apa yang kukatakan padanya tiga minggu yang lalu.

“Kenapa kau ada di sini?”

Sialan! Kenapa dari semua pilihan, kalimat itu lah yang kupilih untuk kukatakan padanya sekarang?!

Dia menghentikan aktivitasnya sejenak dan menatapku dengan tatapan tak terbaca. “Bukankah saya adalah ilustrator bukumu?”

“Membersihkan apartemenku bukan salah satu pekerjaan ilustrator.” Aku mengutuki diriku sendiri. Lagi-lagi kalimat sinis yang keluar dari mulut sialanku ini.

“Tapi supaya kamu segera menyelesaikan karyamu, kamu butuh bantuan untuk membereskan sarangmu ini.”, katanya sambil mengangkat bahu, lalu melanjutkan aktivitasnya.

“Dead line masih seminggu lagi.”, ujarku tidak mau kalah. “Kau tidak perlu datang kemari. Aku yang akan mengantarnya sendiri ke Pak Charlie. Dia pasti akan segera meneleponmu begitu naskahku tiba di tangannya.”

“Bukan ‘masih’.” Dia kini mengerutkan alis menatapku seakan-akan aku gila. “Tetapi ‘tinggal’ seminggu lagi.”

Tapi kenyataannya aku memang hampir gila melihat alisnya yang berkerut itu. Aku memejamkan mataku untuk mengendalikan diri supaya tidak menyerbunya dan membawanya dalam dekapanku.

Nampaknya aku malah membuatnya menghampiriku dan bertanya dengan nada khawatir, “Ada apa? Kau sakit?”

Apakah dia tidak sadar bahwa dirinya lah yang membuatku sakit, sekaligus menyembuhkan diriku?

“Aku tidak apa-apa.” Aku harus menyuruhnya segera pulang sekarang, tetapi mengapa kata-kata itu tidak bisa keluar?

Dia menyentuh tanganku dan aku spontan menarik diri. Aku tidak berani menatapnya, tetapi aku tahu dia sedang menatapku. Kami pun larut dalam keheningan. Suara guntur yang berseru kencang pun tidak mampu memecahkan keheningan itu.

Tak disangka, keheningan itu akhirnya terpecah oleh suara ponsel dari tasnya. Dia mengambilnya dan diam sejenak membaca pesan elektronik. Dari raut wajahnya saja, aku tahu dari siapa pesan itu.

“Rama bilang, dia sedang dalam perjalanan kemari. Lima menit lagi sampai.”

“Oh, baguslah. Aku memang ingin dia kemari.” Aku tertawa. Memang sebaiknya sahabatku itu ada di sini. Aku pun memutuskan untuk melanjutkan pekerjaanku. “Baiklah, kau boleh melakukan apapun yang kau inginkan, termasuk membereskan apartemenku atau apapun aku tidak peduli. Asalkan kau jangan menggang…”

Aku tersentak.

Punggungku merasakan hangat dan kelembutan tubuhnya. Jari-jarinya yang erat melingkar di sekeliling pinggangku gemetar. Degup jantung kami seakan menjadi satu.

“Sebentar saja.”, bisiknya.

Kurasakan punggungku basah karena air matanya. Aku tidak mampu berkata-kata.

Dia mendengus tertawa getir. “Saya memang bodoh. Padahal kamu sudah bilang tidak menginginkan saya.”

Aku tetap diam. Aku ingin menikmati momen yang singkat ini. Lima menit. Ini adalah waktu kami dan siapa pun tidak berhak mengambilnya dari kami.

KRIIING!!

Tanda waktu kami telah berakhir. Dia melepaskan pelukannya dan menyeka air matanya. “Mungkin sebaiknya saya mencuci muka.” Dia memberikan senyuman sekilas padaku sebelum berlalu.

Aku menghela nafas panjang sebelum membuka pintu. Dalam diriku berkecamuk berbagai macam perasaan, namun tanpa bisa kucegah, bahagia adalah yang paling dominan. Memasang topeng senyuman, aku membuka pintu dan berkata dengan riang.

“Hai.”

Rama berdiri di sana. Nampak gagah dengan setelan jas mahalnya. “Aku menjemput dia,” katanya. Ya, sang pemiliknya yang asli.

“Mau masuk, Ram?” tanyaku berbasa-basi.

“Tidak usah. Mau langsung mengajaknya makan malam. Kau mau ikut?”

Aku mengeleleng. “Masih ada pekerjaan.”

Kemudian sahabatku menatapku lekat-lekat. “Hmm…kau kelihatan berantakan, tapi juga senang. Apa ada sesuatu yang menyenangkan?”

Aku tidak langsung menjawabnya. Terdiam karena pertanyaan itu. Apakah perubahan suasana hatiku begitu kentara di hadapannya. “Yah, pekerjaanku hampir selesai,” jawabku akhirnya.

Kemudian dari belakangku, dia muncul. Sudah siap berangkat. Wajahnya nampak biasa-biasa saja, seakan tidak terjadi apapun sebelumnya di antara kami. Ia tersenyum sekilas padaku. Dan sahabatku membawanya pergi.

Apartemenku kembali sepi, seperti juga hatiku. Namun kekosongan itu tidak sama seperti sebelumnya. Didorong oleh perasaan yang hampir peuh, aku menghampiri meja kerjaku, duduk dan mulai mengetik. Ide mulai mengalir deras di dalam kepalaku.

Dua puluh hari aku sakit dan lima menit adalah obatnya. Bukan sembarang lima menit. Tapi lima menit bersamanya.

Empat sekawan pergi untuk ber-golf di suatu pagi yang cerah. Sementara yang seorang sedang ke toilet, tiga orang lainnya membicarakan anak-anak mereka masing-masing.

“Anakku, Bill.”, ujar pria pertama. “Anak itu cukup sukses di bidang industri bangunan rumah. Ia memulainya sebagai seorang tukang kayu, tapi sekarang memiliki firma konstruksi dan cukup sukses. Dan tahun lalu, ia bisa memberikan seorang teman baiknya sebuah rumah sebagai hadiah.”

Pria kedua, ga mau kalah, menceritakan tentang putranya yang memulai karir sebagai salesman mobil, tapi sekarang memiliki tempat dealer mobil sendiri. “George sangat sukses. Enam bulan lalu, ia memberikan dua mobil baru pada temannya sebagai hadiah.”

Anak laki-laki pria yang ketiga, Albert bekerja sebagai broker saham dan beberapa minggu lalu memberikan teman baiknya surat saham yang besar sebagai hadiah.

Begitu pria keempat datang, ketiga pria yang lain mengatakan bahwa mereka sedang mendiskusikan tentang usaha anak-anak mereka masing-masing.

“Sebenarnya, aku tidak senang dengan apa yang terjadi pada anakku.”, katanya. “Selama 15 tahun, Frank menjadi penata rambut dan baru-baru ini aku tahu bahwa ia seorang gay. Tapi sisi baiknya, tiga pacar laki-lakinya memberinya sebuah rumah baru, dua mobil baru dan sebuah surat saham yang besar.”

Ada seorang pria pekerja keras dan suka menabung.  Ia sangat menyayangi uangnya lebih dari apapun. Suatu hari, ketika ia merasa akan meninggal dunia, ia berkata kepada istrinya, “Jika aku mati nanti, aku ingin kau mengambil semua uangku dan menaruhnya di dalam peti mati bersamaku. Aku ingin membawa seluruh uangku ke akhirat.”

Sang istri pun bersumpah sepenuh hatinya, bahwa ia akan menaruh menaruh seluruh uang itu ke dalam peti mati bersama suaminya.

Suatu hari, pria itu pun meninggal dunia dan dibaringkan di dalam peti mati. Istrinya duduk di samping sahabat baiknya. Ketika upacara pelepasan selesai dan peti akan segera ditutup. Sang istri berseru, “Sebentar!”

Wanita itu menaruh sebuah kotak sepatu ke dalam peti mati itu. Lalu peti mati itu pun ditutup dan dibawa pergi. Temannya berkata, “Aku harap kau tidak cukup gila dengan menaruh semua uang itu ke dalam peti mati.”

“Ya.”, jawab sang istri. “Aku sudah bersumpah dan tidak boleh melanggarnya. Aku bersumpah padanya bahwa aku akan menaruh semua uang itu di dalam peti mati itu bersamanya.”

“Maksudmu, kau benar-benar menaruh setiap sen uang itu ke dalam peti mati itu bersamanya?”

“Tentu saja. Aku mengambil semua uang itu dan menaruhnya di dalam rekeningku dan aku menuliskan cek untuknya.”

Farrel menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah bercat putih. Rumah itu tidak sebesar rumahnya dan tidak buruk untuk dijadikan tempat tinggal, tapi ia tidak akan mau tinggal di tempat sumpek seperti ini. Sebuah mobil diparkir di halamannya yang kecil menandakan sang tuan rumah ada di tempat. Seorang gadis remaja berpakaian lusuh keluar membukakan pagar begitu ia menunggu sejenak setelah menekan bel. “Selamat malam, Mas Farrel.”, ucapnya takut-takut.

“Karel ada?”

“Ada, Mas. Bapak dan Ibu juga ada.” Gadis itu membimbingnya masuk dan duduk di sebuah ruangan seukuran kamar mandinya dengan kursi sofa yang lumayan empuk. Terdapat foto keluarga di dinding dimana ibunya berfoto di sana, sambil menggendong seorang bayi mungil, bersama Karel dan seorang pria.

“Farrel.”

Farrel menoleh ke arah suara itu. Ibunya tersenyum menyambutnya dengan seorang bayi sedang tertidur dalam gendongannya. Ya, setelah bercerai dengan ayahnya, ibunya menikah lagi dan setelah 5 tahun pernikahan itu, barulah ibu dan suami barunya memiliki anak. Ayah tirinya bukanlah orang kaya seperti ayahnya, karena itu Farrel tidak pernah habis pikir, mengapa ibunya meninggalkan keluarga mereka demi kemiskinan seperti ini? Kendati hubungannya dengan ibunya sudah membaik, tetapi ia masih belum sepenuhnya memaafkan ibunya. Setidaknya ia sudi datang ke rumah ini walaupun semata-mata karena Karel.

“Karel kenapa, Ma?”, tanya Farrel tanpa basa-basi.

“Badannya panas sejak kemarin dan tadi ia mengigau memanggil namamu.”

“Dimana dia?” “Di kamarnya bersama Oom Darwin.” Darwin adalah ayah tirinya.

Tanpa banyak bicara, Farrel melangkah menuju kamar Karel. Sembari berjalan, ia melirik ke bayi perempuan dalam gendongan ibunya. Tania memang bayi yang cantik tetapi Farrel tidak sedikit pun merasa bayi itu adiknya.

Karel nampak sedang tidur di ranjangnya yang berseprai Spiderman. Kompres es berteger di dahinya untuk melawan panas tubuhnya. Darwin nampak duduk di sisi ranjangnya. Ekspresinya antara cemas dan lega begitu melihat Farrel datang. “Farrel sudah datang rupanya.” Pria itu tersenyum tidak mempedulikan tatapan dingin Farrel.

Suami ibunya ini memang memiliki sifat pendiam dan batas kesabaran yang luar biasa, sehingga sulit untuk membencinya sebenarnya. Tetapi bagaimana pun juga, bagi Farrel, Darwin lah penghancur keluarganya. Ia tidak bisa tidak membenci pria itu.

“Karel.” Farrel menggenggam jari-jari mungilnya. “Aku di sini.”

Adiknya membuka matanya, begitu melihat kakaknya, Karel pun tersenyum. “Kak Farrel.” Farrel menghela nafas lega. Dirasakannya ibunya dan Darwin meninggalkan ruangan itu supaya kakak beradik itu bisa berbicara lebih leluasa.

“Apa yang terjadi? Kok bisa sakit begini?”

Karel terdiam sejenak lalu menjawab. “Mungkin karena kemarin aku hujan-hujanan, Kak. Karena minjamin payung sama teman.”

“Kamu jangan buat Kakak khawatir dong.”, desah Farrel. “Kamu harus bisa jaga diri. Kan sudah kelas dua.”

Karel meringis. “Iya, Kak. Mama juga marahin aku, tapi Daddy sama sekali ga marah. Katanya jadi anak laki-laki harus gagah, harus bisa lindungin anak perempuan.” Ia terlihat tersipu-sipu. Karel memang memanggil ‘daddy’ pada Darwin, untuk membedakannya dengan panggilan ‘papa’ pada ayah kandung mereka.

“Oh, jadi teman yang dipinjamin payung itu cewek.” Farrel tertawa. Ia mengusap sayang kepala adiknya.

Karel menatap Farrel tak berkedip. Terlihat sekali ia menimbang-nimbang ingin mengatakan sesuatu. “Kak.” Akhirnya ia memutuskan untuk mengatakannya. “Kenapa Kakak tidak mau tinggal bersamaku di sini? Aku selalu kangen sama Kakak.”

Mana mungkin Farrel sudi tinggal bersama dua orang yang telah melukai hatinya begitu parah di masa lalu itu. Ayahnya mungkin orang sibuk yang jarang di rumah dan tidak mempedulikannya, tetapi bukan ayahnya yang berselingkuh, bukan ayahnya yang meninggalkannya, bukan beliau pula yang menghancurkan keluarga mereka. Tapi ia tidak mungkin mengatakan hal ini pada Karel. “Karel, ini sudah malam. Kakak pulang dulu ya.”, ujarnya menghindari pertanyaan Karel.

Adiknya menganguk kemudian memejamkan matanya. Ia pun beranjak keluar dari kamar itu. Di ruang tamu, ibunya dan ayah tirinya sedang duduk menunggunya.

“Terima kasih ya, Farrel.” Darwin tersenyum padanya. Matanya terlihat tulus, namun membuatnya semakin jijik pada pria itu.

“Datanglah sering-sering untuk menemui Karel.”, ujar ibunya. “Ia sering merindukanmu.”

Farrel tidak menanggapi keduanya.

“Farrel.”

Apa lagi sih!

“Mama mohon, jangan minum-minum lagi.”

Hmm…mencoba jadi ibu yang baik rupanya. Ditatapnya wajah ibunya dingin. Lagi-lagi ia tidak mengatakan apapun. Hanya mengangkat bahu lalu berlalu. Ia masuk ke dalam mobilnya dan melihat jam digital sudah menunjukkan pukul 11 malam. Dinyalakannya mesin mobil itu. Sekilas dilihatnya ibunya berdiri di pagar menatapnya menjauh. Persetan! Farrel tidak peduli. Ia memacu mobilnya ke pub tempat teman-temannya sudah menunggunya, tempat dimana semua masalahnya dapat dikirimnya ke dunia mimpi.

–000–