Category: [Tulisan Lepas] Various Imagination


Debur ombak tepi pantai menerpa kakiku, yang menjejak di atas pasir putih penghuni abadi daratan penyambut lautan. Suaranya bersatu dengan keceriaan perlahan berkurang oleh turunnya sang mentari siang. Kulihat dari kejauhan sepasang muda mudi bercengkerama mesra di bawah teduhnya pohon kelapa.

Mirip dengan kita tempo dulu

Lagi-lagi aku teringat padamu. Mungkin karena sekelilingku penuh dengan kenangan akan dirimu.

Ah, tidak juga.

Hati yang sudah lama tidak menjadi milikku ini akan selalu mengingat pemiliknya yang mungkin kini sudah berada jauh di seberang pulau. Pagi tadi, burung besi telah membawanya pergi dari Bandara Ngurah Rai.

Masih kuingat jelas semalam

“Apa kau yakin?” tanyamu. “Kau ingin aku tetap bersama dengannya?”

Aku ingat dengan anggukanku. “Aku tidak bisa berbahagia di atas kesedihan wanita lain.”

Kita pun membisu. Hanya terdengar deru ombak di sekeliling kita. Dan dirimu yang disinari cahaya temaram lampu jalan mempesona di mataku.

“Oh, maaf,” ucapku ketika tanpa sengaja menubruk seorang anak yang tengah bermain. Anak itu membalasku dengan senyuman lalu berlari menghampiri ibu dan ayahnya. Pemandangan indah yang membuyarkan lamunanku, sekaligus membuatku tersenyum turut terlarut kebahagiaan mereka namun juga ragu.

Akankah ada kutemukan orang lain selain dirimu membangun keluarga bersamaku?

Sementara itu kakiku terus melangkah membawaku kepada gubuk kecil yang lagi-lagi penuh dengan kenangan akanmu.

Apa kau ingat?

Kita sering duduk di sini menikmati pantai ini. Menanti terbenamnya mentari dan datangnya malam. Lembayung senja selalu mempesona kita.

Lembut suara alam pantai tanpa sadar menenangkan jiwaku. Samar-samar di dalam hatiku, dapat kudengar suaramu bersajak untukku. Sajak yang payah itu.

Ribuan kali kutatap langit senja itu
Warna oranye yang membuat sakit mata
Suara camar memekakkan telinga
Tanda bergegas pulang sebelum terkejar malam

Namun
Datang bidadari bumi
Dan matamu nan indah menyihirku

Cicipi aura misterius pergantian alam
Biarkan lembayung senja menerpa wajahmu

Suara camar alunan musik kita
Bersaksi di batas dua dunia
Terkesima dengan kebesaran Sang Kuasa

Senja ini tak sama lagi
Ini senja kita…

Aku terbangun dan mendapati sekali lagi diriku berada di pergantian dua dunia. Tak ada yang berbeda. Senja tetap berwarna merah keemasan. Dengan pulangnya matahari ke batas cakrawala, warna kelamnya malam bersiap menggatikan. Peristiwa alam ini adalah abadi selamanya. Aku pun sudah terbiasa dengan ketidakhadiranmu.

“Tiara.”

Aku tersentak.

Aku pasti bermimpi.

“Tiara, ini aku.”

Dan aku menemukanmu duduk di sebelahku. Menantiku terbangun dari lelapku dan menikmati senja bersamaku. Kau pun tersenyum padaku, menatapku dengan bola matamu yang kelam itu.

“Ini senja kita,” katamu.

Tak perlu kata
Tak perlu sentuhan raga
Aku tahu kau nyata

Advertisements

Fiona menghela nafas panjang setelah menutup pintu kamarnya dan bersandar di sana. Banyak hal yang terjadi dalam beberapa minggu ini cukup mengguncang-guncang jiwanya. Melakukan laporan pada Jenderal Zephar lah yang paling mengganggunya.

Lama tidak melihatnya, sang jenderal masih tampak gagah di usianya yang sudah kepala lima. Rambut putihnya semakin bertambah tetapi kharismanya masih tetap ada, bahkan mungkin bertambah berkat rambut putihnya. Hanya saja, Fiona merasa, sorot matanya tidak lagi sama seperti dulu. Mata yang hangat dan bersinar setiap kali Fiona memanggilnya ‘Ayah’. Sudah berapa lama kah sejak itu? Dua tahun? Tiga tahun? Empat tahun? Bahkan Fiona sudah berhenti bertanya-tanya alasan perubahan sifat ayahnya itu.

Cukuplah soal itu. Fiona tidak ingin memikirkannya lagi. Ia beranjak dari sana dan masuk ke kamar mandi. Dengan cepat dilepasnya seragam perwiranya dan masuk ke dalam pancuran air hangat dengan sedikit harapan, air pancuran yang membasahi tubuhnya bisa membawa pergi semua kegundahan hatinya.

Selesai mandi, hanya berbalutkan jubah mandi, ia duduk di depan cermin menyisir rambutnya. Gadis di dalam cermin itu nampak kusam dan muram, rambut panjangnya nampak kusut, membuat Fiona bertanya-tanya, sudah berapa lama berlalu sejak ia merawat dirinya? Sebagai seorang perwira menengah, waktunya banyak tersita untuk pekerjaannya. Yang ada di sekelilingnya kalau bukan orang-orang tua petinggi militer ya medan perang atau mayat bergelimpangan.

Fiona menghela nafas. “Aku jadi lemah.”, gumamnya. Mungkin pertemuan dengan ayahnya tadi siang membuatnya sedikit melankolis. Tiba-tiba tanpa sengaja, matanya tertuju pada liontin berbatu putih yang terpantul di cerminnya. Ia pun beranjak dan meraih batu putih yang tergeletak di meja kecil sebelah tempat tidurnya.

“Dari mana kau mendapatkan batu itu?!”

Sosok tampan bermata hijau dingin yang mengatakan kalimat itu langsung menghampiri ingatannya. Fiona hanya bertemu dengan Cyant dua kali dan dua kali pula, ia berhutang nyawa pada pemuda itu.

Cyant selalu menatapnya dingin penuh permusuhan, karena Fiona adalah sang penjajah dan Cyant adalah si terjajah. Tetapi anehnya, Fiona tidak keberatan. Ada rasa nyaman dan aman ketika Fiona berada di dekat dengan pemuda itu, seakan mereka sudah lama saling mengenal. Ingin rasanya membawa jiwa dan raganya berjumpa lagi dengan pemuda itu.

Seketika batu putih itu bersinar terang mengejutkannya. Begitu terang hingga ia mengira matanya telah buta. Sinar itu perlahan-lahan memudar setelah beberapa detik sehingga Fiona bisa membuka matanya perlahan-lahan dan ia membeku melihat sosok yang terbaring di tempat tidurnya.

Apakah ia bermimpi?

Sosok itu nampak terluka dengan perban membelit dada dan kepalanya, dan sama terkejutnya dengan Fiona. Mata hijaunya membelalak kaget. Beberapa saat kemudian, kata-katanya memecah keheningan, “Kau… apa yang kau lakukan di sini?”

“Cyant..? Kau terluka?” Sejenak Fiona tidak peduli dengan apa yang terjadi. Ia hanya peduli dengan apa yang dilihatnya. Cyant terbaring lemah di sana. Bercak-bercak darah di perban-perban itu membuatnya cemas.

Cyant mendengus pelan. “Bukan urusanmu, Skier.” Ia melengos. “Lebih baik kau menjelaskan mengapa kau ada di kapal Ed dan dengan hanya memakai baju minim begitu.”

Wajah Fiona langsung merona merah dan spontan menggunakan tangannya menutupi tubuhnya. “Maaf.”, ucapnya spontan. Tunggu dulu. Mengapa ia harus minta maaf? Ini kan kamarnya dan Cyant lah si penyusup. Fiona juga merasakan ada yang aneh dengan kata-kata Cyant.

“Cyant, ini bukan kapal Ed. Ini markas militer Sky Imperium.”

Pemuda itu kembali melotot kaget. “Apa! Tidak mungkin! Ini klinik Skidbladnir.”

“Batu itu..”, cetus Fiona.

“Apa?”

Diperlihatkannya liontin batu putihnya pada Cyant. “Batu ini bersinar sebelum tiba-tiba kan berbaring di tempat tidurku.”

Cyant terdiam. Tatapannya terpaku pada Fiona membuat dada gadis itu berdesir aneh. Kemudian pemuda itu membuka salah satu genggamannya dan memperlihatkan isinya. Batu yang sama dengan milik Fiona, hanya saja berwarna merah. “Hal yang sama terjadi pada batu ini.”, gumamnya lebih pada dirinya sendiri. “Apa yang terjadi?”

Selagi Cyant tenggelam dalam pikirannya, Fiona menatap pemuda itu dan merasakan desiran di dadanya semakin kuat. Ia sedang memikirkan pemuda itu saat memegang batu putih itu dan berharap bisa berjumpa dengannya. Mungkinkah batu ajaib itu merespon apa yang ada di dalam hatinya.

“Apa yang kau pikirkan sewaktu menggenggam batu itu?” Pertanyaan blak-blakan itu langsung membuat wajah Fiona terasa semakin memanas.

“A..apa?”

“Kau dengar aku.”, sahut Cyant dengan suara dinginnya yang biasa.

Fiona terdiam. Menimbang-nimbang apakah ia akan memberitahu Cyant yang sebenarnya atau tidak.

“Aku sedikit teringat padamu.”, ujar Cyant sebelum Fiona selesai berpikir. Suaranya terdengar sedikit melembut. Atau memang cuma perasaan Fiona saja?

Kenyataan Cyant ternyata sedang memikirkannya -walaupun hanya sedikit- membuat Fiona merasakan sukacita yang amat sangat dan sangat sulit menyembunyikannya. “A..aku juga sedikit teringat padamu.” Suaranya pasti kedengaran aneh di telinga Cyant.

Jika Cyant pada saat yang sama sedang memikirkannya, apakah kedua batu itu merespon keinginannya dan Cyant karena kebetulan mereka memiliki pikiran yang sama? Fiona menatap Cyant dan menemukan pemuda itu sedang menatapnya. Nampaknya pemuda itu pun berpikiran sama.

Pagi berganti siang.

Siang berganti malam.

Hujan deras datang menemani malam.

Tapi aku hanya duduk di sini memandangi titik-titik air yang menari-nari di jendela ruang kerjaku. Tak ada minat untuk bergerak. Rasanya seluruh tubuhku terikat oleh kekuatan tak terlihat di kursi ini. Bahkan hanya sekedar berteriak untuk menghilangkan frustasiku saja rasanya aku malas, hanya mampu menghela nafas.

Di depanku komputer masih menyala sejak pagi, namun hanya beberapa kali kusentuh. Ide yang sudah berbulan-bulan ada di kepalaku sudah menunggu untuk ditumpahkan, tetapi aku tidak bisa memulainya. Seakan apa yang mengganjal di dadaku yang terasa nyeri ini, kini menjalar ke otak. Aku jadi bertanya-tanya.

Apakah cinta adalah sejenis kanker?

Aku mendesah sekali lagi. Wajahnya terus menerus menghantuiku. Semakin lama semakin parah. Hari pertama satu kali lipat, hari kedua dua kali lipat, hari ketiga tiga kali lipat, begitu seterusnya. Dan ini adalah hari kedua puluh.

Padahal aku lah yang memintanya pergi.  Memintanya jangan menemuiku lagi. Meyakinkannya bahwa aku tidak mungkin mengkhianati sahabatku. Membuatnya membenci diriku…

Yang kurasakan ini begitu rumit. Bukan hanya sekedar kenyataan bahwa ia adalah milik sahabatku. Bukan sekedar rasa bersalahku kepadanya. Bagaimana pun juga, perasaan ini terlarang. Yang tidak seharusnya terjadi di antara kami. Dia tidak akan memahaminya dan demi kebahagiaannya, aku pun tidak akan membiarkannya memahaminya. Biarlah aku yang menderita. Ini adalah penebusan dosa masa laluku kepadanya.

KRIIING!!

Suara bel pintu membuyarkan lamunanku. Kubiarkan berbunyi beberapa kali, dengan maksud supaya siapa pun yang ada di luar sana, segera pergi.

Dan suara bel itu pun berhenti. Aku menghela nafas lega.

KRING! KRING! KRING!

Aku mengeram kesal dan memaksa diriku bangkit dari kursiku. Aku bersumpah akan mencari gara-gara dengan siapa pun yang ada di luar pintuku dan ketika orang itu terpancing emosinya, maka aku akan dengan senang hati meninju mukanya.

Kubuka pintu dengan kasar dan bersiap memaki, namun melihat sosok yang ada di depan pintuku, semua kata-kata yang sudah ada di mulutku lenyap tak berbekas.

“Hai.”, ujar dia tersenyum gugup. Tetapi beberapa saat setelah ia menatapku tanpa berkedip, dia berseru, “Astaga. Apa yang terjadi padamu?” Dia tidak membuang waktu dan menyerbu masuk ke dalam apartemen-ku. Dan kembali terkesiap melihat tempat tinggalku. “Astaga! Apa baru saja ada pesawat mendarat darurat di sini?”

Aku hanya bisa bengong seperti orang bodoh melihat dia mulai membenahi apartemenku. Tenggorokanku terasa tercekik, tak bisa mengeluarkan suara apapun. Ya Tuhan, selama dua puluh hari yang bisa kulihat hanya bayangan dirinya. Tetapi kini di depanku gadis itu ada dan nyata. Kurasakan kekosongan hatiku perlahan-lahan terisi, mengembalikan fungsi otakku yang sudah hibernasi berhari-hari. Namun sebaliknya, dalam diriku hinggap rasa mendamba yang tidak mungkin bisa terpuaskan.

Kehadirannya membuatku bertanya-tanya, apakah ia sudah lupa dengan apa yang kukatakan padanya tiga minggu yang lalu.

“Kenapa kau ada di sini?”

Sialan! Kenapa dari semua pilihan, kalimat itu lah yang kupilih untuk kukatakan padanya sekarang?!

Dia menghentikan aktivitasnya sejenak dan menatapku dengan tatapan tak terbaca. “Bukankah saya adalah ilustrator bukumu?”

“Membersihkan apartemenku bukan salah satu pekerjaan ilustrator.” Aku mengutuki diriku sendiri. Lagi-lagi kalimat sinis yang keluar dari mulut sialanku ini.

“Tapi supaya kamu segera menyelesaikan karyamu, kamu butuh bantuan untuk membereskan sarangmu ini.”, katanya sambil mengangkat bahu, lalu melanjutkan aktivitasnya.

“Dead line masih seminggu lagi.”, ujarku tidak mau kalah. “Kau tidak perlu datang kemari. Aku yang akan mengantarnya sendiri ke Pak Charlie. Dia pasti akan segera meneleponmu begitu naskahku tiba di tangannya.”

“Bukan ‘masih’.” Dia kini mengerutkan alis menatapku seakan-akan aku gila. “Tetapi ‘tinggal’ seminggu lagi.”

Tapi kenyataannya aku memang hampir gila melihat alisnya yang berkerut itu. Aku memejamkan mataku untuk mengendalikan diri supaya tidak menyerbunya dan membawanya dalam dekapanku.

Nampaknya aku malah membuatnya menghampiriku dan bertanya dengan nada khawatir, “Ada apa? Kau sakit?”

Apakah dia tidak sadar bahwa dirinya lah yang membuatku sakit, sekaligus menyembuhkan diriku?

“Aku tidak apa-apa.” Aku harus menyuruhnya segera pulang sekarang, tetapi mengapa kata-kata itu tidak bisa keluar?

Dia menyentuh tanganku dan aku spontan menarik diri. Aku tidak berani menatapnya, tetapi aku tahu dia sedang menatapku. Kami pun larut dalam keheningan. Suara guntur yang berseru kencang pun tidak mampu memecahkan keheningan itu.

Tak disangka, keheningan itu akhirnya terpecah oleh suara ponsel dari tasnya. Dia mengambilnya dan diam sejenak membaca pesan elektronik. Dari raut wajahnya saja, aku tahu dari siapa pesan itu.

“Rama bilang, dia sedang dalam perjalanan kemari. Lima menit lagi sampai.”

“Oh, baguslah. Aku memang ingin dia kemari.” Aku tertawa. Memang sebaiknya sahabatku itu ada di sini. Aku pun memutuskan untuk melanjutkan pekerjaanku. “Baiklah, kau boleh melakukan apapun yang kau inginkan, termasuk membereskan apartemenku atau apapun aku tidak peduli. Asalkan kau jangan menggang…”

Aku tersentak.

Punggungku merasakan hangat dan kelembutan tubuhnya. Jari-jarinya yang erat melingkar di sekeliling pinggangku gemetar. Degup jantung kami seakan menjadi satu.

“Sebentar saja.”, bisiknya.

Kurasakan punggungku basah karena air matanya. Aku tidak mampu berkata-kata.

Dia mendengus tertawa getir. “Saya memang bodoh. Padahal kamu sudah bilang tidak menginginkan saya.”

Aku tetap diam. Aku ingin menikmati momen yang singkat ini. Lima menit. Ini adalah waktu kami dan siapa pun tidak berhak mengambilnya dari kami.

KRIIING!!

Tanda waktu kami telah berakhir. Dia melepaskan pelukannya dan menyeka air matanya. “Mungkin sebaiknya saya mencuci muka.” Dia memberikan senyuman sekilas padaku sebelum berlalu.

Aku menghela nafas panjang sebelum membuka pintu. Dalam diriku berkecamuk berbagai macam perasaan, namun tanpa bisa kucegah, bahagia adalah yang paling dominan. Memasang topeng senyuman, aku membuka pintu dan berkata dengan riang.

“Hai.”

Rama berdiri di sana. Nampak gagah dengan setelan jas mahalnya. “Aku menjemput dia,” katanya. Ya, sang pemiliknya yang asli.

“Mau masuk, Ram?” tanyaku berbasa-basi.

“Tidak usah. Mau langsung mengajaknya makan malam. Kau mau ikut?”

Aku mengeleleng. “Masih ada pekerjaan.”

Kemudian sahabatku menatapku lekat-lekat. “Hmm…kau kelihatan berantakan, tapi juga senang. Apa ada sesuatu yang menyenangkan?”

Aku tidak langsung menjawabnya. Terdiam karena pertanyaan itu. Apakah perubahan suasana hatiku begitu kentara di hadapannya. “Yah, pekerjaanku hampir selesai,” jawabku akhirnya.

Kemudian dari belakangku, dia muncul. Sudah siap berangkat. Wajahnya nampak biasa-biasa saja, seakan tidak terjadi apapun sebelumnya di antara kami. Ia tersenyum sekilas padaku. Dan sahabatku membawanya pergi.

Apartemenku kembali sepi, seperti juga hatiku. Namun kekosongan itu tidak sama seperti sebelumnya. Didorong oleh perasaan yang hampir peuh, aku menghampiri meja kerjaku, duduk dan mulai mengetik. Ide mulai mengalir deras di dalam kepalaku.

Dua puluh hari aku sakit dan lima menit adalah obatnya. Bukan sembarang lima menit. Tapi lima menit bersamanya.