Manjali dan CakrabirawaManjali dan Cakrabirawa by Ayu Utami
My rating: 5 of 5 stars

Sebenarnya sehabis selesai baca “Bilangan Fu”, ingin baca buku non-sastra, tapi… iseng-iseng mencoba ngintip halaman pertama “Manjali dan Cakrabirawa” ini dan…*jrengjreng* ini tulisannya… ~.~

Tuhan.
Itu adalah hari ketika Marja melihat mata malaikat pada paras sahabatnya.

Setelah itu tak bisa menaruh buku ini lagi sampai sepuluh jam kemudian. ==”

Mungkin juga ini soal selera. Saya memang selalu suka roman yang diselingi kisah misteri/teka-teki (atau cerita misteri/teka-teki yang diselingi kisah roman. Karena keduanya sama-sama terasa kuat.)

Berbeda dengan kisah sebelumnya (a.k.a Bilangan Fu), buku ini tidak melulu dipenuhi kalimat-kalimat filosofis dan istilah-istilah ribet. Alur ceritanya pun lebih runut dan tertata seperti roman biasa. Yang lebih kusuka, Marja di novel ini lebih terasa perannya. Berbeda dengan buku sebelumnya, yang keberadaannya seperti dalam bayang-bayang. Rasanya menyenangkan menyelami kompleksitas perasaan Marja terhadap Parangjati dan Yuda.

Dengan memfokuskan diri pada perbedaan misteri dan teka-teki -seperti yang diungkapkan buku sebelumnya, buku ini mewakili skeptisnya anak-anak kota mengenai dongeng-dongeng kuno negeri sendiri. Saya sendiri merasa seperti sedang membaca Da Vinci Code versi lokal. Selama ini selalu merasa kebudayaan dan peninggalan nenek moyang di Ibu Pertiwi ini tidak menarik. Tetapi setelah membaca buku ini, sampai merasa ingin lagi mengunjungi Borobudur atau Prambanan dan melihat bangunan-bangunan sejarah itu dengan kacamata yang berbeda. Seperti halnya Marja, saya pun ikut-ikutan terbuai oleh dongengnya Parangjati😀

View all my reviews