Sebenarnya menulis resensi, bukan hobi saya.  Sebelum ini pun, resensi mengenai City of Bones sebenarnya untuk keperluan lomba resensi ufukpress. Dan syukur, Puji Tuhan, saya menang juara satu ^o^

Akhirnya jadi sedikit ketarik untuk nulis lagi resensi buku. Dan inilah dia! Buku yang kubaca setelah City of Bones.

ISBN: 978-979-433-580-2
Penerbit: Mizan Media Utama (MMU)
Penerjemah Indonesia: Berliani M. Nugrahani
Desain Sampul: Dodi Rosadi
Terbit: Februari 2010
Halaman: 959 halaman

Sejarah ditulis oleh para pemenang – Winston Churchill

Itulah yang tertulis di sebuah halaman kosong di awal bagian satu. Kata-kata yang tepat untuk menggambarkan sejarah dunia fantasi memukau yang dibangun oleh Trudi Canavan. Ini memang kisah sejarah yang hilang dari trilogi The Black Magician mengenai peperangan antara Kyralia dan Sachaka.

Kisah ini diambil dari lima sudut pandang yang berbeda. Tessia, seorang gadis desa Kyralia yang bercita-cita ingin menjadi seorang penyembuh, namun ternyata memiliki bakat sihir. Dakon, penyihir dan tuan tanah desa kelahiran Tessia. Jayan, murid magang pertama Dakon. Sementara dari pihak Sachaka, ada Stara, seorang gadis berdarah campuran Sachaka-Eleyne yang tak berdaya dibawah kelaliman sang ayah, serta Hanara, seorang budak Sachaka yang mengalami kebebasan tak terduga dari perbudakan.

Dari masing-masing kelima sudut pandang inilah, Trudi Canavan memperlihatkan kebolehannya merangkai sebuah cerita. Saya sebenarnya sudah lama membeli buku ini, karena memang saya pembaca trilogi The Black Magician. Namun karena ketebalannya yang hampir mencapai 1000 halaman, saya mengurungkan niat untuk membacanya langsung dan menaruhnya di rak, hingga beberapa waktu lalu.

Dan begitu saya membuka halamannya yang pertama, saya langsung merasakan seakan ada magnet yang menarik saya untuk terus membaca halaman demi halaman. Pilihan adegan demi adegan yang memukau dan meninggalkan misteri demi misteri, adalah bukti kepiawaian Canavan merangkai kisah. Begitu pula dengan kisah remeh masing-masing tokohnya.

Penggambaran dunia yang begitu detail dan diceritakan tanpa membuat pembaca bosan adalah kelebihan paling utama dalam kisah ini. Dari mulai sejarah singkat hubungan Sachaka dan Kyralia, asal kekuatan sihir, sampai kepada permainan mirip catur untuk penyihir. Kisah politik rumit, namun diceritakan dengan sederhana pun menjadi daya tarik yang lain The Magician Apprentice.

Sayangnya, tokoh-tokoh figuran yang disuguhkan dalam cerita ini sungguh amat banyak, membuat saya agak kesulitan mengingat mereka satu per satu. Namun saya rasa, itu bukan masalah besar, karena hampir semua tokoh figuran pun memiliki peran yang cukup besar dalam jalan cerita.

Akhir kata, pesan yang saya tangkap dari kisah memukau ini adalah kehidupan ini layaknya dua sisi mata uang, layaknya terang dan gelap, hitam dan putih, ada kebaikan dan keburukan.  Kyralia bukanlah pihak baik, dan Sachaka bukanlah pihak yang jahat. Semuanya tergantung dari sudut mana kita melihat suatu niat. Ini mengajarkan kita untuk memperlebar wawasan kita terhadap suatu masalah sebelum menarik sebuah kesimpulan.

Ini adalah salah satu novel fantasi yang saya rasa layak untuk dibaca penggemar cerita fantasi. Rasanya seperti sedang pesiar ke dunia lain, ketika membacanya. Saya tidak akan heran, bila suatu saat akan ada produser film yang tertarik untuk membuat serial televisi dari kisah ini, seperti kisah The Sword of Truth.

Rating: 8/10