Gawat! Gawat! Ini benar-benar gawat!

Secepat mungkin Lon mengayuhkan kedua kakinya untuk berlari. Ia harus sesegera mungkin sampai di rumah memberitahu Julia apa yang terjadi. Sialan! Hal yang paling ditakutinya selama ini benar-benar terjadi. Lokia adalah pulau terpencil pilihan Guru Kyros, seharusnya menjadi tempat yang baik untuk membesarkan sang pewaris pusat bintang! Guru Kyros memang mengatakan akan tiba waktu dimana mereka harus pergi dari sini, tetapi ini terlalu dini!

Lon tidak bisa menghilangkan bayangan wajah bengis komandan pasukan Faran yang memasuki desa Wasugi dan menitahkan maut terhadap para penduduk desa. Amarah Lon bangkit bila mengingatnya, sekaligus sebersit rasa takut atas apa yang mampu diperbuat pria itu.

Erich van Kiessel!

“Julia! Kita harus segera pergi dari sini!” seru Lon begitu sampai di rumah mereka.

Hening. Tidak ada yang menjawab.

“Julia!” seru Lon lagi. Mungkin wanita itu sedang ada di dapur dan mata Lon terpanjat melihat sosok yang terbaring lemas di lantai dapur. “Rowena!”

Julia perlahan membuka matanya di dalam pelukan Lon. “Hush! Jangan panggil aku Rowena nanti Fay dengar,” bisik Julia memaksakan senyum.

“Gejala itu datang lagi?”

Julia menganguk lemah.

Sial! Tiga kali sial! Mengapa harus terjadi di saat seperti ini?

“Mereka datang. Kita harus secepatnya pergi dari sini.”

“Apa?” Mata Julia membelalak terkejut. “Fay?”

“Nampaknya belum pulang. Kita berberes dulu, aku yakin Fay tiba tak lama lagi,” sahut Lon. “Kau berbaring saja di dalam kereta. Aku yang akan membereskan semuanya. Kita ke tempat Cole.”

—ooo—

Fay berjalan pulang sambil mengamat-ngamati sebuah pedang pendek di tangannya. Ada lambang bunga rumput seperti yang terdapat pada pin perak yang tersemat di jubah hijau milik pemuda itu. Menurut Rafe, itu adalah lambang keluarganya di Zenithia, negerinya.

“Ini lambang persahabatanku,” begitu kata Rafe sewaktu memberikan pedang pendek itu.

“Pedang? Aku tidak butuh,” tolak Fay lugas. “Aku punya pedang pendek dari Lon.” Ia menunjukkan senjata miliknya.

“Simpan saja,” desak pemuda itu sambil menatap Fay dengan pandangan yang membuat gadis itu merasakan sensasi aneh. “Bagiku tidak ada gunanya, tetapi tidak demikian terhadapmu. Lagipula kau adalah harta karun yang kutemukan di pulau kecil ini. Aku tidak ingin terjadi apapun terhadap dirimu.”

Fay mengerutkan dahinya bingung. Kata-kata pemuda itu memang aneh. Apa maksudnya harta karun? Lalu kenapa Rafe bicara seakan-akan akan datang bahaya terhadap dirinya? Sewaktu Fay menanyakannya, Rafe hanya menjawab.

“Sebaiknya kau segera pulang sekarang, Fay. Dan jangan mendekati desa. Kita akan berjumpa lagi karena kau adalah pemegang pedangku.”

Aneh! Aneh! Aneh! Dipikir sampai dahinya berkerut maksimal pun ia tetap saja tidak dapat memahami kata-kata itu. Terbesit di pikirannya untuk menanyakannya kepada Lon. Ya, Lon pasti bisa menjelaskan semuanya.

Bau asap yang samar tercium begitu Fay mendekati rumah mereka. Ia sempat panik mengira asap itu berasal dari rumahnya, tetapi ternyata bukan. Api itu berasal dari desa! Fay ingin melihat desa, tetapi ia teringat kata-kata Rafe supaya ia tidak mendekati Wasugi. Akhirnya diputuskannya untuk pulang ke rumahnya. Mungkin saja Lon sudah kembali dan tahu apa yang terjadi di desa. Gadis itu pun mempercepat langkahnya.

Ia kembali terkejut melihat keadaan rumahnya. Bau minyak tanah menebar di mana-mana. Kereta kuda Raku sudah siap dan barang-barang mereka sudah ada di atasnya. Firasat tidak enaknya semakin terasa.

“Ibu?” Ibunya kini terbaring lemah di atas kereta.

Julia membuka matanya dan tersenyum begitu melihat Fay. “Fay, kau sudah pulang?”

Fay menganguk. “Apa yang terjadi, Bu? Ibu sakit lagi?”

Julia tak langsung menjawab, hanya tersenyum. “Semua akan baik-baik saja. Lon yang akan menjelaskan semuanya.”

Fay menoleh ke arah Raku, si kuda. “Raku, apa yang terjadi?”

“Majikan laki pulang lalu bilang ada bahaya. ‘Mereka datang!’ begitu kata Majikan,” ringkik Raku.

Mereka? Siapa mereka? Fay tidak banyak basa-basi, langsung berlari ke dalam rumah mereka yang sudah beraroma tajam minyak tanah, mencari Lon.

“Lon!”

Lon muncul dari halaman belakang rumah setengah berlari. “Fay, ayo naik! Kita berangkat sekarang!” Fay pun ditarik olehnya menuju kereta kuda.

“Apa?! Kemana?!”

“Ke rumah gua Cole.” Lon menjalankan kereta. “Hiah!”

Fay melongo. Ia ingin sekali bertanya apa yang sebenarnya sedang terjadi. Begitu banyak yang terjadi di sehari setelah ulang tahunnya. Tetapi bagaimana pun juga ia harus sabar menunggu. Ibunya bilang, Lon akan menjelaskannya. Sepertinya sesuatu yang besar telah terjadi. Suatu penjelasan panjang lebar nampaknya sangat diperlukan. Ia menggenggam tangan ibunya yang sedang tertidur dengan erat. Wajah wanita yang telah melahirkannya tampak muda namun pucat dan rapuh, membuat hatinya miris.

Tiba-tiba Raku meringkik menghentikan jalan kereta. Di telinga Fay, kuda itu berteriak histeris penuh kengerian. Lon pun nampak membeku di balik kemudi kereta dan Fay pun tahu penyebabnya. Sekumpulan tentara berzirah merah menghadang jalan mereka. Mereka berlima sampai enam orang.

Siapa mereka! Jerit Fay dalam hati. Bulu kuduknya terasa berdiri, merinding karena tiba-tiba merasakan betapa dekatnya maut dengan mereka saat ini. Semua prajurit itu menghunuskan pedang mereka dan tanpa ba bi bu, langsung menyerang mereka. Raku si kuda dihabisi dua orang dari mereka tanpa ampun. Fay terpaku dalam kengerian menyaksikan teriakan terakhir kuda tua itu.

Sementara itu keempat prajurit lainnya menghampiri kereta kuda. Sigap, Lon mencabut pedangnya dan turun ke arena pertarungan. Detingan pedang langsung terdengar. “Mereka prajurit merah! Fay, lindungi ibumu!”

Teriakan Lon menyadarkan Fay dari keterpanaannya. Dicabutnya pedang pendek yang didapatnya dari Rafe. Lon memang sudah mengajarinya ilmu pertarungan tetapi ini pertama kalinya Fay berada dalam pertarungan yang sesungguhnya sehingga gadis itu merasakan ketegangan dari di seluruh tubuhnya. Ia menggenggam erat-erat pedang berlambang bunga rumput itu. Terasa ringan dan terasah tajam, membuatnya sedikit tenang.

Lon tidak membiarkan satu pun prajurit zirah merah itu melewatinya dan kemampuan pedangnya cukup mendukungnya untuk itu. Dua prajurit sudah habis dijatuhkannya, tetapi semakin lama Lon semakin dipukul mundur. Begitu pria itu lengah, dua prajurit berhasil melewatinya dan langsung menyerang Fay dan ibunya.

“Lon!” Fay mengacungkan pedangnya menangkis salah satunya tetapi prajurit yang lain siap menghujamkan pedangnya pada tubuh tidak sadarkan diri ibunya. “Jangan!”

Dalam kerjapan mata, kedua prajurit itu langsung terjatuh tertikam pisau kecil di leher masing-masing. Fay menghela nafas lega sesaat tetapi matanya membelalak terkejut melihat pamannya tersenyum sambil menahan sakit. Pedang berlumuran darah menembus dada sang paman. Rupanya untuk menyelamatkannya, Lon rela membuka celah bagi musuhnya untuk menyerangnya. Begitu Lon jatuh, Fay merasa nyawanya ikut terbang bersama Lon. Ia bahkan tidak melihat tambahan prajurit zirah merah yang kini sudah mengepung sekitar kereta kuda mereka.

“TIDAA..KK!!”

Jeritan gadis itu membahana di seluruh hutan. Tepat pada saat itu, sinar bulan penuh bersinar tepat di atasnya. Sinar terang menyilaukan bersinar dari tubuh gadis itu dan dalam sekejab mata terjadi perubahan seperti sehari sebelumnya. Sosok tubuh langsing semampai, berkulit gelap, telinga panjang milik elf dan rambut seputih gading, menggantikan gadis kecil berusia tiga belas tahun itu.

Tetapi yang berbeda dengan kemarin, bola mata Fay tidak hijau zambrut seperti biasanya, tetapi merah. Semerah darah. Kemurkaan dan hawa nafsu pembunuh terpancar luar biasa dari tubuhnya yang telanjang hingga menyuratkan sinar merah di sekitarnya. Mata merahnya menatap dingin para prajurit itu. Tidak ada lagi kemanjaan dan kepolosan gadis kecil yang baru beranjak remaja. Para prajurit itu pun bergidik ngeri.

“SERBU!”

Tetapi dark elf itu nampak luar biasa tenang. Sebelah tangan kanannya berubah menjadi beku dan sebilah mata pedang berwarna biru es mencuat di sana. Pedang yang begitu dingin hingga asap mengepul darinya.

Tak perlu lama waktu yang dibutuhkan untuk pepohonan dan para binatang malam menyaksikan pemandangan mengerikan. Jeritan yang memilukan dan lautan darah para prajurit berzirah merah, lalu disusul dengan keheningan malam, ketika pasukan itu habis terbantai.

Perlahan gadis dark elf itu menghampiri Lon yang tergeletak dengan luka menganga di jantungnya. Ia berlutut memeluk Lon. Air matanya meleleh. “Lon…”

Dan keajaiban terjadi. Di sekitar mereka menyala sinar terang menyejukan, berbeda dengan beberapa detik sebelumnya. Pada saat yang sama, Julia tersadar dan menyaksikan semua itu. Betapa terkejutnya, ketika ia menyaksikan putrinya dalam wujud dark elf memeluk Lon yang bersimbah darah dalam sinar terang, sementara di sekeliling mereka bergelimpangan mayat dan bau anyir darah segar.

“FAY! LON!” serunya. Kepanikan meliputi pikirannya.

Dengan susah payah ia turun dari kereta kuda untuk menghampiri mereka. Tubuhnya masih terasa lemah. Tepat ketika Julia menyentuh Fay, gadis itu terjatuh dalam pelukan Julia dan berangsur-angsur berubah kembali menjadi gadis manusia berusia tiga belas tahun. “Fay!” Air mata menggenang di pelupuk matanya mencoba meyakinkan dirinya sendiri, tidak akan terjadi suatu hal apapun terhadap putri tunggal tersayangnya. “Lon!” Julia masih tidak menyerah memanggil pria yang berbaring di hadapannya dengan lumuran darah di sekujur tubuhnya.

Dan perlahan-lahan mata Lon membuka. “R…Rowena?”

“Lon! Syukurlah kau sadar! A..apa yang terjadi! Fay! Fay!”

“Tenang dulu, Rowena.” Melihat keadaan sekeliling mereka yang mirip neraka, Lon langsung teringat dengan tusukan pedang yang menembus dadanya. Ia pun segera meraba dadanya. Tidak ada luka apapun. Bersih dan mulus. Seakan tidak pernah terjadi apapun. “Kukira tadi aku…mati, tapi…”

Julia menunggunya mengatakan sesuatu. Tetapi Lon tahu, mereka tidak boleh berlama-lama di tempat ini.

“Bukan waktunya berpikir sekarang! Kita harus cepat pergi dari sini!” Lon berlari ke arah kereta mengambil barang-barang mereka yang tidak banyak, lalu menggendong Fay dengan sebelah tangannya dan tangannya yang lain memapah Julia yang masih lemah.

“Tapi..”

“Nanti akan kujelaskan! Sekarang kita harus segera pergi dari sini!”

—ooo—