Fay tahu seharusnya ia pulang ke rumah sekarang. Hari ini adalah hari ulang tahunnya dan ibunya sudah mewanti-wanti supaya ia pulang sesegera mungkin. Alasan lain yang tidak memungkinkannya untuk ikut ajakan Wen -si kelinci hutan- dan Felix -si serigala mungil- untuk berenang di danau Swan, adalah malam ini pun hari bulan penuh. Namun –Fay melirik ke arah air danau yang berkilauan seakan berkata ‘tunggu apa lagi? Ayo cepat kemari!’- godaan itu terlalu berat untuk ditampik gadis berusia tiga belas tahun itu.

“Fay, ngapain bengong di situ!”panggil Wen.

Fay mendesah. Tentu saja sebenarnya Wen hanya mencicit, tetapi Fay memang memiliki bakat untuk berkomunikasi dengan makhluk tanpa kata sedari lahir. “Ibuku nanti marah. Beliau sudah menunggu kayu-kayu bakar ini”, katanya pada Wen sambil menunjukkan kayu-kayu bakar yang bergelantungan di punggungnya.

\           “Bermain kan  bukan dosa, Fay!” seru Felix. “Mumpung masih siang!”

“Kata ibuku, manusia itu seharusnya lebih serius bermain, supaya mereka tidak terus-terusan berperang!” tambah Wen sok tahu.

Angin berdesir dan membuat dedaunan pohon beringin yang berdiri di dekat gadis itu bergoyang. Fay mendelik ke arah pohon itu. “Kau juga ingin aku berendam, Pak Beringin?”

Daun-daun pohon kembali melambai-lambai seakan mengiyakan.

“Ayo, Fay! Ayo! Pak Beringin saja setuju!” Wen si provokator itu malah langsung menceburkan diri. Cipratan airnya langsung membasahi sedikit tubuh Fay.

“Hei!” protes gadis itu tetapi cipratan air yang lebih banyak malah membuat tubuhnya lebih basah karena Felix ikut-ikutan menceburkan diri. “Hei! Awas kalian! Kulaporkan pada ibu kalian baru tahu rasa!” seru Fay geram lalu segera melepaskan seluruh bajunya –toh sudah kepalang basah- dan segera menyusul teman-teman binatangnya yang kini sedang mencicit dan mengeram tertawa melihat kegusarannya.

“Hei! Awas, Felix! Fay si pengadu mau memakan kita!”

Begitulah. Akhirnya danau dan hutan Swanna menjadi saksi keceriaan ketiga makhluk berlainan jenis itu bermain hingga lupa waktu. Dan begitu matahari mulai tenggelam dan para binatang malam mulai keluar menyambut hari mereka, barulah Fay sadar bahwa ia sudah membuat masalah.

“Celaka!” serunya frustasi. Tetapi terlambat. Malam bulan penuh adalah malam dimana bulan bersemangat untuk menunjukkan dirinya, walaupun hari baru menjelang malam, sang bulan sudah siap untuk menyinarkan dirinya.

Fay mengeluh. Rasa panas yang familiar mulai terasa dimulai dari dada menyebar ke seluruh tubuhnya. Perlahan-lahan tubuhnya berubah. Dari seorang gadis kecil menjadi seorang wanita dewasa. Warna kulitnya menggelap. Telinganya perlahan memanjang, begitu pun dengan rambutnya. Selain memanjang rambutnya pun memutih sewarna gading.

“Kalian sih! Mengajak main-main terlalu lama!” gerutu Fay pada kedua teman binatangnya.

Wen dan Felix hanya memandangnya dengan rasa tidak enak. “Aduh. Maaf, Fay. Tak sangka malah jadi begini.”

“Ya sudahlah.” Mau diapakan lagi. Menyesal pun percuma karena sudah terjadi. Sekarang tinggal mencari sesuatu untuk menutupi tubuhnya lalu pulang dan menghadapi kemarahan ibunya. Fay meringis dalam hati. Ibu sangat menyeramkan bila sedang marah.

“Pakai ini, Fay.” Seekor beruang menghampirinya lalu menghempaskan sebuah jubah wol berwarna hijau tua.

Fay berseru senang. “Terima kasih, Rhata! Kau memang beruang paling ganteng seantero hutan Swanna!” Beruang itu pun mengeram senang.

Jubah itu segera dipakainya. Cukup besar dan hmm… hangat. Malam semakin cepat menyelimuti dunia hijau itu dan Fay harus sesegera mungkin sampai di rumah. Semakin malam ia sampai, maka akan semakin tinggi kadar kemarahan ibunya.

—ooo—

“Dari mana saja kau, Fay Leen?!”

Fay menunduk di bawah tatapan tajam berbahaya mata coklat Julia, ibunya. Bila nama panjangnya sudah disebutkan seperti itu berarti ibunya sudah cukup gusar terhadapnya.

“Dan apa-apaan dengan penampilanmu itu!” tambah Julia masih dengan nada tinggi. “Sudah tahu malam ini, malam bulan penuh! Lalu kau ingat tadi Ibu suruh apa?!”

Fay baru menyadari. Ia meninggalkan kayu-kayu bakarnya di pinggir danau tadi karena terlalu panik. “Maaf, Bu.” Ia semakin menunduk penuh rasa bersalah.

“Sudahlah, Julia.” Terdengar suara bas khas laki-laki dewasa. Paman Fay, Lon, muncul di belakang ibunya. “Toh aku sudah mendapatkan cukup banyak kayu bakar untuk hari ini.” Pria berambut coklat acak-acakan itu menyunggingkan senyuman lebar mempesona yang biasanya sulit ditolak oleh gadis-gadis Wasugi, desa yang terletak di dekat hutan Swanna ini. Fay langsung berseru girang dalam hatinya melihat pamannya campur tangan.

Tapi nampaknya senyuman itu tidak mempan bagi Julia. Telinga elf Julia bergerak-gerak gusar. Ibu Fay yang berdarah setengah elf itu mendelik tajam terhadap Lon. “Kau terlalu memanjakannya, Lon.”

“Lagi pula hari ini hari ulang tahunnya,” tambah Lon lagi. Fay diam-diam melirik ibunya penuh harap. Semoga pesona Lon kali ini mempan untuk ibunya.

Julia pun menghela nafas setelah beberapa saat diam. “Baiklah, Nona. Kali ini aku memaafkanmu. Tapi lain kali jangan coba-coba lagi membuatku khawatir seperti ini, kalau kau ingin menikmati makan malammu,” ujar Julia masih dengan tatapan galak. “Cepat ganti bajumu sebelum kau kedinginan.” Suaranya sedikit melembut.

Fay langsung menganguk dengan cepat dan segera berlari ke kamarnya sebelum ibunya berubah pikiran.

“Kalau sudah dewasa, dia pasti akan menjadi cantik seperti itu.” Fay sempat mendengar Lon berkata begitu sesaat sebelum ia masuk ke dalam kamarnya. “Mungkin sinar bulan penuh yang menampakkan wujud aslinya.”

“Mungkin saja.” Ibunya menjawab. “Tapi fenomena yang dialami Fay cukup aneh bahkan bagi keturunan elf murni.”

Fay menutup pintunya lalu segera berdiri di depan cermin dan menatap gadis yang berdiri di dalam cermin itu.

Mungkin inilah diriku beberapa tahun lagi.

Menurut Lon ia cantik, tapi… bukannya Fay tidak suka dibilang cantik, tetapi ia tidak nyaman dengan wujud ini. Walaupun kaki-kakinya lebih panjang sehingga bisa melangkah lebih jauh, tapi ia tidak seleluasa bergerak seperti dengan tubuh usia tiga belasnya. Jika beberapa tahun lagi ia akan menjadi seperti ini –Fay mendesah lesu- lebih baik ia tidak usah menjadi dewasa sekalian. Seperti ibunya. Ya, ibunya adalah seorang half elf. Di usia beliau yang sudah pertengahan kepala tiga, ibunya masih tampak seperti manusia di usia awal dua puluhan. Ia dan ibunya bila disandingkan, lebih mirip kakak beradik, dibandingkan ibu dan anak. Tubuhnya pun mungil tidak seperti para elf umumnya –Fay belum pernah bertemu dengan elf, tapi kata Lon elf adalah bangsa yang memiliki tubuh paling tinggi dibandingkan bangsa lain.

Fay mendesah. Mungkin bila ayahnya pun seorang elf, ia pasti bisa awet muda seperti ibunya. Ia memang tidak mengenal ayahnya, karena ibunya tidak pernah mau menceritakannya. Tapi menurut Lon, ayahnya manusia.

Eh tapi dia juga tidak mau kalau jadi anak-anak terus. Sebal rasanya setiap kali Lon memanggilnya anak kecil.

“Fay! Kalau kau mau lama-lama di sana, makananmu keburu habis oleh Lon nih!”

Seruan ibunya membuat Fay gelagapan karena terhenyak oleh lamunannya. Ia segera mencari pakaiannya di lemari, bersamaan dengan itu dihempasnya jubah hijau tua itu ke lantai. Bunyi logam bertemu lantai membuatnya terhenyak. Suara itu berasal dari jubah hijaunya. Penasaran, diambilnya jubah itu dan ia menemukan logam penyebab suara itu.

Fay menyipitkan matanya melihat pin perak berukiran bunga rumput yang aneh disematkan dipinggir jubah itu. Rupanya ia tidak melihat pin itu tadi karena hari sudah gelap.

“FAY!”

“Iya, Bu!” seru Fay. Ia tahu ibunya pasti akan menyusulnya bila ia tidak segera menyelesaikan acara berpakaiannya. Pin aneh itu bisa menyusul nanti.

“Lama sekali kau!” omel Julia begitu melihat putrinya turun.

Fay cuma menyengir lebar menanggapi ocehan itu lalu menghampiri ibunya itu untuk masuk dalam pelukannya.

“Aku jadi merasa beruntung bisa melihat wujud dewasamu sekarang,” ujar Julia tersenyum dan mengecup sayang kening Fay.

“Kalian lebih mirip kakak beradik daripada ibu dan anak,” celetuk Lon tertawa lalu ikut nimbrung mengecup kening Fay. “Kita bersulang, Fay.” Lon memberikan segelas kecil jus anggur padanya.

“Jus anggur lagi,” protes Fay. “Aku kan sudah dewasa!”

“Badan dewasa, otak balita,” ledek Lon sambil menyentil jahil dahi gadis itu. Tanpa peduli dengan protes Fay, pria itu menyerahkan segelas anggur merah pada Julia, lalu mengangkat gelasnya sendiri. Fay dan Julia pun mengikutinya.

“Semoga Tuan Putri selalu sehat dan panjang usia!”

Bersama-sama ketiganya meminumnya.

“Tradisi yang aneh,” ujar Fay ketika mereka bertiga sudah duduk di meja makan dan menyantap makanan mereka. Ia mengacu pada tradisi bersulang barusan. “Apakah karena kita berasal dari Faran? Tidak ada anak-anak di pulau Lokia ini yang melakukannya. Apa jangan-jangan aku ini tuan putri di Faran?” Fay pun mentertawakan leluconnya sendiri.

Lon dan Julia saling berpandangan sejenak.

“Yah, karena di Faran semua anak perempuan dianggap tuan putri,” sahut Lon sambil menggigit paha ayam hutannya.

“Apakah kita harus selalu melakukannya setiap kali aku berulang tahun?” tanya Fay menatap ibu dan pamannya serius. “Menurut orang-orang desa, Faran adalah negeri barbar. Mereka suka membunuh dan menjajah dimana-mana. Aku tidak percaya aku ini berdarah Faran kalau bukan kau yang mengatakannya, Lon.”

Lon menyengir. “Aku juga tidak suka kenyataan bahwa aku pun berdarah Faran. Tapi yah –Lon mengangkat bahu- apa boleh buat.”

“Aku ingin jadi ksatria yang hebat supaya bisa memperbaiki negeri bobrok itu.” Mata Fay berbinar penuh semangat. “Besok kau akan mengajariku jurus baru kan, Lon?”

Julia mengelelengkan kepala. “Besok kau akan belajar tata krama, putriku.”

Fay langsung mengeluh protes. “Yah, Ibu… Ini memperlambat cita-citaku menjadi seorang ksatria!”

Lon tertawa. “Untuk menjadi ksatria, diperlukan lebih dari sekedar tubuh kuat dan jurus yang hebat, tapi tekad.”

“Tekad?”

Pria itu pun menunjukkan salah satu pergelangan tangannya yang terdapat bekas sayatan pisau. Fay mengenali luka itu. Dulu ia pernah menanyakannya, tetapi Lon menolak menjawabnya.

“Tanda sumpah darah.”

“Sumpah darah?” Fay tertarik dengan kata-kata itu.

PLAK!

Suara mengaduh Lon menyusul suara keras itu. “Aduh! Julia, kau kan tidak perlu memukulku dengan centong nasi itu!”

“Ini karena kau bicara yang tidak-tidak dengan anakku!” Mata coklat Julia mendelik tajam. “Fay, jangan dengar kata-kata manusia ngawur ini! Akan tiba saatnya kau mengerti semuanya dan kuharap bukan dalam waktu dekat.”

Lon langsung menunduk diam. Siapa sih yang bisa melawan Julia dan centong nasinya? Fay pun tidak bertanya lagi, tetapi kata-kata Lon dan ibunya yang tidak dimengertinya itu melekat di kepalanya hingga pada saatnya ia tidur.

—ooo—

“Seharusnya kau tidak berkelahi, Felix,” omel Fay sambil mengobati serigala kecil berbulu putih itu.

Felix mengeram kesakitan sewaktu Fay membersihkan luka di kakinya dengan air hangat. “Sakit, Fay!” teriak serigala kecil itu.

“Makanya jangan berkelahi!”

“Tapi Tuck dan kawanan serigalanya itu mengejek Wen!” protes Felix. “Katanya aku berteman dengan makanan. Yang benar saja! Wen bukan makanan, dia temanku!”

Fay mendesah. Felix memang sering sekali bertengkar dengan Tuck dan teman-temannya. Ibu Felix pernah berkata pada Fay bahwa Felix adalah serigala berbulu putih pertama yang lahir di dalam kawanan serigala mereka yang menandakan dirinya istimewa. Kemungkinan Tuck dan kawan-kawannya itu iri pada Felix.

Wen mendekati Felix lalu menjilati wajah serigala itu. “Hihihi.. tapi aku senang kau membelaku. Terima kasih, Felix.”

Felix mendekur menanggapi cicitan Wen.

Fay selesai mengobati luka-luka Felix lalu membungkus serigala kecil itu dengan jubah hijau tua yang ditemukan Rhata kemarin. “Hangat, Fay. Terima kasih ya.” Felix mengeram penuh terima kasih. Wen pun ikut meringkuk di dalam jubah itu.

“Kau sudah seperti ibu mereka, Fay,” komentar Rhata yang berbaring di sebelah mereka bertiga. Fay pun tertawa. “Lalu bagaimana ulang tahunmu kemarin? Ibumu tidak marah kan?”

“Sempat marah sih tapi seperti biasa Lon menolongku.” Fay terkikik geli mengingat kejadian kemari. Kemudian ia teringat pada pin perak di jubah hijau itu dan berniat menanyakannya pada Rhata. Tetapi tepat pada saat ia hendak membuka mulut, ia mendengar Rhata mengeram waspada. Bulu-bulu hitam coklatnya serasa menegang. Felix dan Wen pun gemetar ketakutan di dalam pelukan Fay. Fay langsung mengerti apa yang sedang terjadi.

Ada pemburu di dekat mereka.

Pedang pendek yang selalu dibawa di pinggangnya pun kini siap di tangannya. Perlahan ia berdiri sambil tetap menggendong Felix. Sementara itu Wen melompat ke belakang punggung Fay. Rhata kini mengeram ke salah satu semak-semak.

“Tunggu! Aku tidak bermaksud menyakitimu!”

Seruan itu berasal dari semak yang ditatap Rhata. Fay menepuk lembut pundak beruang itu. “Siapa kau? Tunjukkan dirimu!”

Semak-semak itu pun bergoyang-goyang dan tak lama kemudian muncul seorang pemuda berambut emas berpakaian pemburu dari sana. Tubuhnya penuh dengan ranting dan dedaunan. Pemuda itu menyengir lebar menatap Fay sambil melirik cemas pada  Rhata. Kedua tangannya terangkat ke atas.

“Kau pemburu kan?!” tuduh Fay sambil mengacungkan pedang pendeknya ke arah pemuda itu.

Rhata menambah ancaman dengan mengeram galak. “Pergi!”

“Eh sabar sabar! Ya, aku memang pemburu tapi saat ini aku tidak sedang berburu. Lihat!” Pemuda itu mengangkat tangannya lebih tinggi. “Aku tidak membawa panah kan? Hanya pedang di pinggangku.”

Fay menatap pemuda itu masih dengan pandangan curiga. Jelas ia tidak semudah itu percaya pada ucapan orang asing ini. Ia masih menimbang-nimbang pendapatnya mengenai pemuda itu.

“Kelihatannya dia jujur, Fay.” Rhata berkata padanya setelah beberapa lama. “Dan kelihatannya manusia ini tertarik padamu.”

Fay mengerutkan dahi dan menatap beruang itu tidak mengerti. Tertarik? Apa maksudnya?

“Namaku Rafe,” ujar pemuda itu. “Aku mencari jubahku yang hilang kemarin, tapi hmm.. nampaknya si kecil itu lebih membutuhkannya dariku.” Ia menatap Felix yang berada di dalam gendongan Fay.

Jadi jubah ini milik pemuda asing ini? Omongannya terasa masuk akal.

“Apa perlu kuusir dia?” eram Rhata galak membuat pemuda bernama Rafe itu melonjak kaget walaupun senyuman masih terhias di wajahnya.

“Hmm… apa kau bisa..hmm.. tolong katakan pada temanmu ini bahwa aku tidak berbahaya?” pinta Rafe ragu-ragu.

Sejenak Fay masih menatap pemuda itu dengan tatapan menilai, lalu akhirnya ia meminta Rhata membiarkan pemuda itu mendekati dan duduk bersama mereka, walaupun jarak yang diizinkan Fay cukup jauh dari mereka.

“Kau bisa berbicara dengan binatang?” Pemuda itu menatap Fay dengan tatapan kagum.

Fay terdiam sejenak lagi-lagi menimbang apakah ia akan menjawab pertanyaan itu atau tidak. Akhirnya ia memutuskan untuk menjawabnya, “Pada makhluk tanpa kata.”

“Makhluk tanpa kata?”

“Binatang, tumbuhan, bebatuan, sungai, semua makhluk tanpa kata.”

“Wow!” Mata Rafe tambah bersinar penuh kekaguman. “Siapa namamu, Nak?”

Fay mendelik sebal. ‘Nak’! Rafe memanggilnya ‘Nak’! “Aku sudah tiga belas tahun sejak kemarin,” sahutnya dingin. Jelas dia bukan anak-anak lagi!

“Benarkah? Kau baru berulang tahun?” Senyuman Rafe bertambah lebar tanpa peduli nada dingin gadis itu. “Selamat ulang tahun, hmm… boleh tahu namamu?”

Lagi-lagi Fay menimbang dan sekali lagi pula memutuskan untuk menjawabnya. Senyuman Rafe membuatnya merasa nyaman. Perasaannya mengatakan bahwa ia bisa mempercayai pemuda ini. “Fay.”

“Fay,” gumam Rafe seakan sedang merekam baik-baik nama Fay di dalam hatinya. “Hati yang bijak. Namamu indah, seperti pemiliknya.”

Kalimat itu secara misterius membuat Fay merasa rasa senang menghinggapi dirinya. Sepertinya Rafe bisa menjadi teman yang asyik.

“Dia sedang merayumu, Fay.”

Fay menoleh pada Wen yang mencicit di sampingnya. “Apa?”

“Apa katanya?” tanya Rafe penasaran.

“Katanya kau sedang merayuku. Apa artinya?”

Tawa Rafe meledak tiba-tiba.

“Mengapa kau tertawa?” Fay tersinggung.

“Aku tidak merayumu kok.” Mata Rafe berubah tajam dan bersinar aneh menatapnya. “Kalau aku merayumu, aku akan melakukan ini.” Pemuda itu bergerak mendekatinya dengan cepat, bahkan Rhata pun tak sempat mengeram protektif. Tiba-tiba saja wajah Rafe berada begitu dekat di depan wajah Fay. Jarak mereka kurang dari sejengkal tangan dan selanjutnya bibir pemuda itu menempel sekilas di bibir Fay.

Rhata mengaum gusar hendak menerjang Rafe membuyarkan keterpanaan Fay akan apa yang baru saja terjadi.

“Rhata!” Seruan Fay langsung menahan beruang itu dan memberi cukup waktu bagi Rafe untuk segera menjauh.

“Manusia lancang! Akan kucincang kau!”

Rafe pun bengong dengan apa yang barusan dilakukannya, lalu menyengir maaf. “Padahal aku tidak bermaksud sampai menciummu, tapi kau terlalu manis sih.” Lalu ia menatap Fay mengamati reaksi gadis itu dan heran dengan hasilnya. Ia mengharapkan setidaknya ada reaksi yang luar biasa, seperti marah, malu dengan wajah merah, atau apa saja, tetapi Rafe sama sekali tidak menemukannya dari diri gadis itu.

Fay menatap Rafe bingung lalu bertanya. “Aku jadi tidak mengerti? Apa merayu itu sama dengan tawaran persahabatan?”

Pertanyaan polos Fay itu membuat alam dan seisinya seakan terpana, tak terkecuali Rafe dan ketiga binatang teman-teman Fay. Tak lama kemudian keheningan di antara mereka pun terpecah dengan dengusan tawa Rafe diikuti dengan kerutan dahi Fay.

Bukankah apa yang dilakukan Rafe itu sama seperti ketika ibunya dan Lon lakukan terhadapnya, bedanya mereka melakukannya di dahi atau pipinya. Itu ungkapan kasih sayang. Ungkapan persahabatan. Apa yang lucu?

—ooo—