“Cih!”

Kutendang batu kerikil yang tak berdosa dengan penuh emosi. Yah, tapi salahnya sendiri, kenapa bermukim di jalan di depanku. Rupanya batu kerikil itu menyimpan dendam pada ulahku. Ia menabrakan dirinya pada sosok berbulu coklat yang sedang tidur-tiduran tak jauh dari tempatku. Aku pun terpanjat.

“Kampret! Mati gue!” makiku dalam gumam.

Aku sih tidak takut anjing, tapi coba saja kalau kau diperhadapkan pada anjing kampung berbulu coklat dengan badannya hampir setengah badanmu dan mengeram menonjolkan gigi-giginya yang kayanya sih sakit kalau kena gigit, aku salut jika kau tidak mengeluarkan keringat dingin atau minimal panik lah.

Aku tahu jika aku lari, anjing itu pasti mengejar dan aku bukan pelari ulung. Aku hanya punya 2 kaki dan si anjing punya dua kali lipat jumlah kakiku. Jelas aku kalah lah! Jadi aku pun diam di tempat tak berani bergerak, sambil diam-diam mengumpat kesal. Bukan kesal karena si anjing kok -ini kan gara-gara aku berdosa sama si batu- tapi pada kejadian yang baru saja terjadi sekitar setengah jam yang lalu.

Hari ini aku spesial menunggu Rani di depan gerbang SMU. Padahal jam pulang SD kan lebih pagi daripada SMU dan hari ini bukan jadwal ekskul karate, tapi aku rela menunda pulang lebih lama demi bisa membeberkan kenyataan pada Rani. Eeh… malah si tante itu pergi kencan dengan Roy, si playboy cap kambing itu! Aku geram sekali bila mengingat betapa cerianya wajah cantik itu menunggangi motor di belakang playboy kambing itu. Huh!

Aku tahu, wajar jika Rani tidak memilihku karena aku jauh lebih muda darinya, tetapi aku tidak rela bila ia memilih cowok seperti itu. Aku tahu persis siapa Roy itu sebenarnya. Sewaktu SMP, ia pernah pacaran dengan kakak sepupuku, Kak Manda. Mereka memang sudah putus dan kurasa aku tidak perlu menyebutkan alasannya. Sudah jelas. Dan yang paling membuatku marah (sekaligus geli sih), Rani bilang, Roy minta ditemani beli kado untuk adik perempuannya. Aku tahu persis bahwa Roy adalah anak tunggal.

Kurasakan sesuatu yang basah dan lembut menjilati tanganku. Oh, aku baru ingat sedang diujung tanduk dengan anjing ini. Nampaknya si anjing bersimpati padaku, jangan-jangan bisa baca pikiranku..

*******

PLAK!

Aku mengaduh kesakitan lalu melotot pada si pelaku penganiayaan. “Sakit, San! Sialan lo!”

Ichsan tertawa sambil berlagak kaget. “Ups! Galak bener, man. Lagi bete ya?”

Aku tidak langsung menjawab. “Iya.” Jelas aja bete berat. Belakangan ini Rani selalu berangkat ke sekolah dengan Roy dan motornya.

Ichsan duduk di sebelahku dengan gaya orang bijak. “Hmm.. Hmm.. Hmm.. untuk anak seusia kita, kalo bete, penyebabnya bisa tiga.” Ia mengacungkan tiga jemarinya . “UAN, ortu, cewek. Nah, lo yang mana, man?”

Lagi-lagi aku tidak langsung menjawab. Aku terlalu bete untuk bercerita. “Yang terakhir.”

“Uihh!” Gayanya kini jadi super lebay. “Pasti gara-gara kakak cantik yang tinggal di sebelah lo ya?”

Aku mencibir. “Tumben lo pinter.”

“Iya doong! Gini-gini Einstein itu kakek gue, tau nggak lo!”

“Iya, Barack Obama juga babe gue,” sahutku sinis. “Pergi sana! Lo malah bikin gue tambah bete!”

“Ih, Adri jadi galak.” Ichsan mendekat perlahan lalu berbisik di telingaku. “Nih, gue kasih tau, man. Kata Bang Fajar, kalo jodoh nggak kemana. Jadi santai aja, man!”

“Siapa Bang Fajar?”

“Tukang ojek langganan nyokap gue.”

GUBRAK!!!

**********

Pulang sekolah, aku berpapasan dengan Mamiku yang sedang mengunci pintu rumah. Hmm.. pasti mau ke rumahnya Rani lagi.

“Mau kemana, Mi?”

“Eh, Adri. Yuk ikut ke rumahnya Tante Desy buat bantu-bantu masak.” Tuh bener kan?

Mami memang teman ngerumpi Tante Desy, mamanya Rani. Mereka juga sering masak-masak bareng. Nah, aku dan Rani sering membantu acara masak-masak mereka. Karena itu sejak kecil, aku dan Rani sering main bersama. Walaupun usia kami berbeda empat tahun. Dulu aku selalu berharap Rani bisa menjadi kakakku, tapi sekarang tidak lagi. Tentu saja bukan karena sekarang Rani jadi galak padaku. He he he… itu salahku juga sih. Aku sering menggodanya. Karena aku senang bila mendengar teriakan dan matanya yang melotot padaku. Itu artinya, aku diperhatikan olehnya.

Tante Desy langsung menyambut kami begitu kami tiba. Kami langsung ke dapur dan beraktivitas. Aku tidak bersemangat melakukannya karena tidak ada Rani. Cewek itu pasti sedang kencan dengan playboy kambing itu. Aku benar-benar harus berbuat sesuatu!

Rani pulang sekitar setengah jam setelah masak memasak dimulai. Mood-ku langsung berubah cerah mendengarnya menyapaku.

“Hai, bocah. Sudah lama?” sapanya ceria.

Aku menyengir mendengar suaranya. Aku tidak pernah terganggu bila dipanggilnya bocah. Toh aku memang masih anak-anak. Hmm… oke oke. Aku mengaku, sebenarnya terkadang aku memang sedikit terganggu, terlebih lagi pada saat seperti ini. Tapi aku tidak akan menunjukkan rasa terganggu itu.

“Barusan kok. Dari mana lo?”

“Jalan sama cowok gue dong.” Ia menyengir lebar, tak peduli melihatku sedang memutar bola mataku. “Eh nih. Mau kenalin cowok gue, Roy.”

Dari belakang Rani muncul sosok Roy yang tersenyum, tetapi wajah itu berubah begitu melihatku. Rupanya ia masih mengenaliku sebagai orang yang menghajarnya hampir setahun yang lalu karena membuat Kak Manda menangis. (Begini begini, aku ban hijau di karate.)

Ini kesempatanku. Aku memasang senyuman lebar. Mungkin memang terlalu lebar karena kini Rani menatapku waspada. “Halo, lama tak jumpa, Kak Roy.”

Rani mengerutkan dahinya. “Kalian sudah kenal?”

Si playboy kini nampak salah tingkah. “Eh i…iya..”

“Kak Roy ini TEMANNYA Kak Manda, sepupu gue.” Aku sengaja menekankan kata teman itu. Aku tahu Rani tidak bodoh untuk mengartikan pesan tersembunyiku. “Terus gimana kemarin,” lanjutku. “Udah beli kado buat Jamilah?”

Kening Rani makin berkerut. “Siapa Jamilah?”

“Lho? Kak Roy nggak cerita, Ran?” Aku berlagak kaget. “Itu lho! Adik ceweknya Kak Roy!”

“Hah! Memangnya nama adikmu, Jamilah?” Rani menyipit curiga menatap Roy.

“I..iya.” Aku rasa keringat dingin si Roy sudah keluar sampai hitungan liter dibawah tatapan sadis Rani.

“Oh iya!” Aku berakting kaget. “Baru inget! Kak Roy kan nggak punya adik. Ya kan, Kak? Jangan-jangan Jamilah itu adik angkatnya ya?”

Aku sampai bergidik sendiri merasakan meningkatnya aura membunuh dari diri Rani.

“Gue mau ketemu sama adik lo sekarang,” ujar Rani singkat sambil menyeret tangan cowok itu keluar.

*********

“RANIIII….!!! RANIII…!!! RANIIIIII…..!!!!!!!!!”

Keesokan paginya aku kembali memanggil Rani mengajaknya berangkat sekolah seperti sebelum terkena rayuan playboy kambing itu. Aku memanggilnya lebih keras dan intens sampai rasanya suaraku serak karenanya. Aku memang penasaran dengan hasil akhir dari peristiwa kemarin.

Pintu rumah Rani pun terbuka. Aku hampir berseru senang sampai kulihat yang keluar bukan cewek yang kuharapkan, tapi Tante Desy.

“Adri, Rani nggak ada di rumah. Kemarin menginap di rumah Nia, temannya. Kayanya lagi sedih gitu.”

Jawaban itu cukup membuatku terdiam dan larut dalam lamunan sepanjang perjalanan ke sekolah, selama pelajaran, istirahat, ulangan, bahkan pulang sekolah. Bahkan Ichsan hampir menyerah untuk menarik perhatianku jika saja ia tidak bisa menebak apa yang menjadi beban pikiranku.

“Lo pasti bikin sesuatu sama kakak cantik itu sampai lo nyesel begini kan?”

Kata-kata itu berhasil menarik perhatianku. Tumben amat, belakangan ini Ichsan jadi pintar. Aku memang menyesal dan merasa bersalah, tapi aku tidak tahu mengapa. Aku kan sudah berbuat baik, menyadarkan Rani. Tidak salah dong.

“Minta maaf aja, man,” ujar Ichsan serius. “Kata Oom Pardjo, salah ya minta maaf, apa susahnya?”

“Gue nggak salah. Ngapain minta maaf?” protesku.

“Tapi lo ngerasa bersalah kan? Ya, artinya lo salah.”

Kata-kata sederhana itu mengena ke dalam lubuk hatiku. Tak sangka juga temanku yang sok gaul ini bisa mengeluarkan kata-kata sebijak ini. Aku pun tersenyum. “Thanks, man.”

Ichsan pun membalas senyumanku dengan cengirannya yang khas. “No prob, man.”

“Tapi ngomong-ngomong, siapa Oom Pardjo? Tukang ojek lo juga?”

Ichsan tergelak. “Yang ini gue cuma ngarang. Gue juga nggak kenal Oom Pardjo.”

Cape deh!!!

***********

Pulang ekskul karate, aku langsung ke rumah teman Rani itu. Aku tahu kira-kira dimana rumah Kak Nia, karena pernah beberapa kali ke sana. Aku ingat pertama kali ke sana waktu masih di bangku TK. Aku merengek pada Rani minta ikut. Mami memarahiku supaya tidak menyusahkan Rani, tetapi Rani sama sekali tidak keberatan. Rasanya aku malu bila mengingat tingkah kekanak-kanakanku waktu itu.

Hari ini pun aku baru sadar, sampai sekarang aku masih kekanak-kanakan dan pantas dipanggil bocah. Aku bahkan tak sadar, bahwa ada kemungkinan aku menyakiti Rani dengan membeberkan kenyataan mengenai Roy. Bisa saja, Rani benar-benar menyukai Roy kan?

Begitu sampai di depan rumah Kak Nia, aku langsung menekan bel pagar. Kak Nia keluar tak lama setelah si bel selesai bernyanyi. Ia tersenyum menyambutku. “Nyari Rani ya?”

Aku menganguk.

“Ada di dalam kok. Yuk masuk.” Kak Nia membuka pintu pagar. Setelah kami tiba di ruang tamu, Kak Nia masuk ke sebuah kamar memanggil Rani.

Tiba-tiba saja aku merasa gugup. Sial! Aku tidak tahu kenapa tapi sulit sekali mengatasi rasa gugup ini. Kulihat Rani keluar dari kamar Kak Nia. Wajahnya cerah ceria melihatku. “Ngapain ke sini, bocah?”

Aku diam saja. Hanya bisa menyengir gugup.

“Mau minum apa, Adri?” tanya Kak Nia.

“Apa saja, Kak.” Kak Nia pun masuk ke dapur.

“Huh! Dasar!” gerutu Rani menjitak kepalaku. “Nia atau Roy lo panggil kakak. Giliran gue… Dasar, bocah sok tua!”

Mendadak gugupku hilang. Mungkin penyebabnya sikap Rani yang nampak seakan tidak pernah terjadi apa-apa. “Soalnya mana ada cowok manggil ceweknya dengan panggilan kakak atau mbak, kan?”

“Hah! Siapa cewek lo?!”

Aku menyengir jahil. “Elo.” Kulihat Rani membuka mulut hendak membalas, tapi langsung kulanjut dengan nada serius dan tulus, “Sorry ya.”

Kulihat dahinya mengernyit dan matanya menyipit curiga. Aku tahu ia bersiaga menghadapi serangan kejahilanku yang biasa. “Kenapa?”

Wajahku memanas. “Karena udah ngasih tau lo kenyataan soal si Roy. Gue nggak mikirin perasaan lo. Seharusnya gue nggak boleh begitu.” Rani menyengir lebar. Tangannya langsung mengacak-acak rambutku heboh. “Eh, apa-apaan sih!” Sebal juga aku jadinya. Udah serius-serius begini, malah ditanggapi asal oleh yang bersangkutan.

“Adrian, lo tuh beneran masih bocah, tau nggak?! Makanya jangan sok tua!” Ia menatapku dengan senyum, sementara tangannya kini mulai turun ke kedua pipiku dan mulai melakukan aksi pencubitan. “Gue justru bersyukur lo ngasih tau gue. Emang sih, gue sedih tapi lebih baik tau sekarang bahwa Roy itu brengsek dibandingkan nanti. Waktu gue untuk nyari cowok yang bener-bener baik, akan kebuang sia-sia buat cowok kayak gitu. Makasih banget ya.”

Lega langsung menghampiriku, sekalipun aku tetap terpaku. Sulit rasanya untuk bergerak. Mataku dan mata Rani saling bertatap membuat ada rasa nikmat di dalam diriku. Aku rasa, mungkin selamanya hatiku akan terikat dengan cewek ini.

“Yah.” Akhirnya aku menemukan suaraku. “Sama-sama. Tapi lo nggak perlu nyari cowok lagi. Yang bener-bener baik itu ada di sini.” Aku menyengir padanya.

Rani memberikan mata melotot favoritku. “Heh!” Cubitannya kurasakan makin keras. “Kecil-kecil udah ngerayu. Siapa yang ngajarin?! Minum susu dulu sana. Kalo udah gede baru balik lagi. Siapa yang mau sama anak kecil!”

Aku melepaskan diri dengan susah payah dari ganasnya tangan Rani. Sambil mengelus kedua pipiku yang merah. Kulihat dengan sudut mataku, Kak Nia keluar dari dapur sambil senyam-senyum sambil membawa nampan berisi tiga gelas berisi air berwarna merah. Tapi aku tidak peduli dengan keberadaannya. Aku menatap Rani dengan mantap dan berkata, “Lihat gue, Ran. Bocah ini bakal cepat gede buat lo. Lihat saja nanti!”

**************