“HATCHIIMM…!!!”

Seruan itu tepat terjadi ketika Jenny membuka pintu kamar kos Lana. “Lagi-lagi kau memanggil nama Pak Kasim. Kangen berat ya?” canda Jenny. Di tangannya gadis itu membawa segelas teh hangat.

Lana membersihkan hasil bersinnya itu sambil mencibir sebal pada teman satu kosnya. “Jangan bawa-bawa nama orang yang tidak bersangkutan, kasihan beliau kalau ikut-ikutan bersin dan sapuannya buyar semua.” Pak Kasim itu nama cleaning service di rumah sakit tempat Lana menimba ilmu.

Jenny tertawa menyerahkan teh hangatnya pada Lana. “Jangan lupa minum obat buat nanti siang. Aku pergi dulu ya. Sudah mau jam setengah tujuh. Poli buka setengah jam lagi.”

“Jangan lupa beritahu Dokter Nani, aku…”

“..tidak masuk karena malas.”

“Hei!” Lana melemparkan bantal ke arah temannya tetapi terlambat. Jenny sudah keburu berlalu dari sana dan tawa jahilnya terdengar dari balik pintu.

Sepeninggal temannya keheningan langsung melanda kamar itu. Ah, bukan cuma kamarnya saja, tetapi hampir ke seluruh rumah kos itu. Yang terdengar hanya suara hujan gerimis dan sayup-sayup suara motor lewat, serta langkah-langkah kaki menginjak jalanan becek. Bukannya Lana tidak suka dengan keheningan, tapi di saat seperti ini alangkah baiknya bila ada seseorang yang menemaninya di sini.

Tidak mungkin ia menelepon William sekarang. Kekasihnya itu pasti sedang sibuk follow up harian sambil berbalapan dengan waktu di jam-jam seperti ini. Lana tidak mau jika William sampai menyalahkan dirinya kalau sampai pemuda itu dimarahi oleh dokter pembimbingnya saat visite. Ditambah lagi mereka masih dalam keadaan perang dingin hari kedua setelah bertengkar hebat sebelumnya. William pun pasti tidak tahu sakitnya ini.

Ingatan tentang pertengkaran itu membuat emosi Lana bangkit lagi, sekaligus teringat pada sesosok wajah lain. Sahabat baiknya yang lain selain Jenny, sekaligus penyebab pertengkarannya dengan William.

“Memangnya apa yang salah dengan persahabatan?!” Lana ingat obrolan curahan hatinya yang penuh emosi dengan Jenny dua hari yang lalu. Tepat setelah ia membanting ponsel malangnya penuh nafsu ke atas kasur. “Kalau begitu, lebih baik sekalian saja dia mencemburuimu juga!”

Jenny segera duduk di sebelahnya sambil menepuk lembut bahunya yang bergetar akibat amarah. “Bedanya aku dan Yosi adalah gendernya, Lan. Dan William belum mengerti kedekatan kita bertiga. Kalian jalan baru tiga bulan kan?”

“Tetap saja konyol, Jen,” sahut Lana keras kepala. “Kau, Yosi dan aku sudah berteman sejak kita masih semester satu di preklinik. Kalau aku dan Yosi memang ada apa-apanya, sudah dari dulu kita jalan kan?”

“Lama-lama dia juga mengerti, Lan. Hardi juga begitu awalnya. Sekarang? Lihat sendiri bagaimana dia terhadap Yosi.”

Lana pun terdiam. Hardi, kekasih Jenny itu, sekarang menjadi dekat dengan Yosi. Kalau datang ke kos ini mengunjungi Jenny, pemuda itu pasti menanyakan kabar si Yosi.

“Begini saja.” Jenny memegang dagu dengan jempol dan jari telunjuknya. Matanya menerawang ke langit-langit kamar sambil menyunggingkan senyuman tipis. Tahulah Lana, temannya ini sedang memikirkan suatu rencana.

Ia pun menyipitkan matanya menatap Jenny, bersiap mendengarkan. Tidak selalu rencana baik, tapi tidak selalu pula rencana buruk.

“Bagaimana kalau kita carikan seorang gadis untuk Yosi?”

Suara sirene ambulan berdengung-dengung tepat di telinga membuatnya terlonjak kaget. Kepalanya langsung terasa berat. Lana pun mengutuk penuh kebencian pada orang iseng yang sudah seenaknya mengubah nada dering ponselnya. Siapa lagi kalau bukan Yosi! Riwayat penyakit sebelumnya pemuda berkacamata itu yang membuat Lana langsung mencurigainya. Namun seketika kekesalannya berubah menjadi kegembiraan melihat nama yang tertera di layar ponselnya.

“Ha..Halo?”

“Halo, Lan. Kata Jenny kamu sakit ya?”

Lana dapat mendengar nada kekhawatiran dalam suara William. Hatinya melonjak senang mendengarnya. “Sedikit tidak enak badan, Wil.”

Hening sebentar. “Maaf, hari ini aku shift malam. Besok siang baru bisa ke tempatmu.”

“Tidak apa-apa, Wil. Aku mengerti.”

“Jangan lupa makan dan minum obat ya. Nanti aku titipi Jenny bubur buat kamu.”

“Terima kasih, Wil.”

Setelah mengucapkan salam perpisahan yang kaku, telepon pun ditutup. Ada rasa lega di hati Lana. Tak seorang pun dari mereka yang mau mengungkit-ungkit lagi pertengkaran dua hari yang lalu itu. Ia memejamkan matanya sambil tersenyum. Mungkin benar kata Jenny, pelan-pelan William pasti akan mengerti.

Suara sirene ambulan terdengar lagi.

Lana pun mengeram kesal. Ia lupa mengubah nada dering konyol itu. Dan kebetulan di layar ponselnya kini muncul nama si tersangka utama.

“Sialan, Yos! Nada deringku seenaknya kau ubah lagi!” semburnya begitu mengangkat telepon itu. Derai tawa riang pun menyambut seruan ketus Lana.

“Galak amat si non ini. Sudah bagus saya menelepon awak di sela-sela kesibukan begini. Kan bagus untuk membangunkan kebo seperti kau.”

“Enak saja! Awas, akan kubalas kamu!”

Diam-diam Lana tersenyum mendengar gurauan Yosi. Sekilas ia teringat dengan rencana Jenny untuk mencarikan gadis untuk menjadi kekasih Yosi. Bukan berarti ia tidak setuju dengan rencana itu, tetapi Lana akan merasa kehilangan saat-saat seperti ini bersama Yosi. Satu orang yang cemburu buta saja sudah membuatnya pusing, apalagi bila ditambah satu orang lagi. Sudah pasti semuanya tidak akan sama seperti dulu.

“Jarang-jarang dengar suara marah-marahmu yang bindeng seksi.” Yosi tertawa. “Aku menengokmu besok ya, Lan. Hari ini jaga.”

Mata Lana mengerjap. Jaga? Lho, artinya teman jaga malam William hari ini adalah…

“Aku jaga dengan William,” ujar Yosi seakan mendengar pertanyaan di dalam kepala Lana.

Aduh! Pantas saja, tadi William terdengar sangat kaku di telinganya. William dan Yosi sudah lama saling tidak menyukai -bahkan sebelum Lana dan William resmi menjadi pasangan. Semoga saja tidak terjadi perang dunia ketiga hari ini.
*****

“Waduh, badanmu panas sekali, Lan,” ujar Jenny cemas. “Sudah ditem?”

Lana menganguk lemah. “Tiga puluh delapan koma dua,” sahutnya serak dan pelan. Dibandingkan tadi pagi, lehernya lebih mengganjal dan sakit bila mengeluarkan suara. Selain itu hidungnya terasa lebih mampat, belum lagi kepala dan tubuhnya yang rasanya sakit semua.

“Kita ke prakteknya Dokter Nani ya. Tidak jauh dari sini.”

Lana melirik ke arah jendelanya yang penuh denan titik-titik air hujan. “Hujan…malas..”

“Namanya juga musim hujan,” bujuk Jenny. “Atau bagaimana kalau kupanggil Dokter Nani kemari?”

Lana mengeleleng tegas. Mana mungkin ia membiarkan dokter pembimbingnya datang kemari untuk melihatnya dalam keadaan lemah begini. “Dikompres saja. Besok juga baikan,” tolaknya.

Tetapi sampai keesokan harinya pun, panasnya tak kunjung turun malah bertambah satu derajat. Jenny langsung menggerutu begitu melihat angka pada alat pengukur suhu itu. “Seharusnya kemarin kamu menurut. Sekarang mau ke dokter pun sulit. Hujan deras begini, bagaimana caranya membawamu ke rumah sakit?”

Lana hanya tersenyum lemah. Jenny memang mirip dengan ibunya kalau sedang mengomel seperti ini. Lana berdeham sedikit lalu berkata dengan suara serak, “Kamu pergi saja sekarang. Nanti hujannya semakin deras. Aku baik-baik saja. Cuma faringitis biasa.”

Setelah berhasil mengusir Jenny yang wajah cemas dan wewejangan ala dokternya, Lana mencoba menidurkan dirinya untuk mengatasi kepalanya yang terasa sangat berat. Hujan yang tidak berhenti sejak kemarin membuat udara terasa sangat dingin sekalipun ia tidak menyalakan pendingin ruangan. Ditariknya lebih erat selimutnya. Samar-samar terdengar suara SMS dari ponselnya, tapi Lana tidak memiliki tenaga lebih untuk membacanya. Alunan suara hujan deras yang tidak berhenti sejak kemarin membuainya hingga kemudian jatuh ke dalam alam mimpi.

Suara pintu membuka mengembalikan Lana ke alam nyata. Tidak sepenuhnya kembali. Lana masih merasakan dirinya antara sadar dan tidak sadar. Ia ingin membuka kelopak matanya untuk memastikan, tetapi ia terlalu lemah untuk itu.

Dirasakannya telapak tangan orang itu memegang keningnya. Sesaat Lana mengira dia adalah Jenny, tetapi tangan itu terlalu besar untuk menjadi tangan Jenny. Perlahan Lana mengerahkan tenaganya untuk membuka matanya, namun hanya pandangan kabur yang didapatnya, tapi sosok itu mirip dengan…

“Minum obat dulu, Lana.” Lana kembali memejamkan matanya dan menuruti ucapan orang itu. Suaranya pun mirip dengan…

“Tidurlah,” ujar orang itu. Merebahkan Lana kembali ke atas kasur. Lalu tangan yang besar dan hangat itu menggenggam tangan mungilnya. Damai merambah hati Lana dan ia pun kembali berlayar ke alam tidur tanpa mimpi.

Lana terbangun ketika hari sudah gelap. Suara gerimis di depan jendela masih terdengar dan rumah kos itu terdengar sedikit ramai oleh para mahasiswa yang bercengkerama. Didapatinya Jenny sedang tersenyum padanya. “Sudah bangun, Lan. Panasmu sudah mendingan.” Jenny memperlihatkan angka di alat pengukur suhu itu. “William baru saja pulang tuh. Mau aku panggil lagi?”

“William ke sini?” Lana melirik jam. Jam sepuluh malam.

Jenny menganguk. “Iya. Sudah dari tadi. Kami tadi terjebak banjir selutut depan rumah sakit, jadi baru bisa pulang jam enam sore.”

Lana terdiam sejenak. Satu nama melintas di kepalanya. “Yosi?”

Jenny mengeleleng. “Kalau dia sudah pulang begitu selesai. Tidak tahu apa yang ada di otaknya itu. Sengaja ditinggalnya motor di rumah sakit lalu tanpa peduli hujan yang masih deras, ia pergi mengerobok banjir entah kemana. Mungkin ada keperluan mendesak.”

Lana kembali membisu. Diam-diam merasa bodoh dengan mimpi anehnya. Ia pun meraih ponsel yang diletakkannya di tepi ranjangnya. Ada banyak misscall dan SMS. Masing-masing sepuluh misscall dari Jenny dan William, empat dari ibunya, serta dua dari Yosi. Bunyi isi SMS-nya pun hampir semuanya sama, bernada kekhawatiran dari semua orang kecuali Yosi.

“Menelepon dan mengirim pesan padamu sampai pegal tangan kita,” ujar Jenny sambil tertawa maklum.

Lana balas tertawa sambil meminta maaf. Ia menekan nomor ibunya di Cirebon lalu berbicara sesaat untuk menenangkan wanita yang telah melahirkannya itu. Selanjutnya giliran William. Namun disaat ia hendak menekan nomor kekasihnya itu, suara sirene ambulan yang akrab keluar dari ponselnya.

“Kerjaan si Yosi lagi, Lan?” tanya Jenny geli. “Dasar anak itu. Kalau masih kekanak-kanakan begitu, bakalan susah mencarikan jodoh buatnya.” Gadis itu pun tertawa tanpa menyadari ekspresi wajah temannya yang sepucat hantu.

Lana mengangkat ponselnya dengan tangan gemetar. William yang menelepon. Di ujung sana, suara pemuda itu terdengar lega mendengar suara Lana. Mereka tidak berbicara lama, sepertinya William mengerti keadaan Lana yang masih lemah.

Ah, tidak juga.

Lana tahu, suaranya terdengar lebih gugup dari seharusnya. Mungkin itulah yang membuat William memutuskan pembicaraan mereka lebih cepat dari seharusnya.

Selesai dari situ, Jenny merebut ponsel dari tangan Lana. “Sini, biar aku yang ubah nada deringnya.”

“Jangan!”

Seruan Lana yang lebih mirip jeritan membuat Jenny terkejut. Buru-buru ia mengambil ponselnya dari tangan Jenny.

“Maaf, Jen. Sepertinya aku masih pusing jadi…”

“Ya, aku mengerti.” Jenny tersenyum, tidak tampak tersinggung. “Aku balik ke kamar dulu, besok ada laporan jaga. Mau belajar sebentar. Jangan lupa makan obat dan makan malam saja dulu baru tidur lagi.”

Lana menganguk kaku. Sepeninggal Jenny, ia menggenggam erat ponsel di tangannya itu. ia yakin sekali sudah mengubah nada deringnya itu kemarin, tepat setelah menelepon Yosi. Mengubah nada deringnya seenaknya itu adalah kegiatan jahil khas pemuda itu. Lana tidak memiliki tersangka lain. Sejak kemarin sampai sekarang tentu saja ia belum bertemu lagi dengan Yosi lagi. Tak mungkin nada dering itu berubah sendiri kan? Kecuali kalau Yosi…

Untuk memastikannya, Lana meliriknya obat-obatan yang ada di atas meja di sisi tempat tidurnya. Sekilas ia menghitung jumlah obat yang telah diminumnya sejak kemarin dan hitungannya pun pas. Sepertinya tadi siang, ia benar-benar meminum obat jatah siangnya. Ucapan Jenny seketika terngiang di telinganya.

“Dia sudah pulang begitu selesai. Tidak tahu apa yang ada di otaknya itu. Sengaja ditinggalnya motor di rumah sakit lalu tanpa peduli hujan yang masih deras, ia pergi mengerobok banjir entah kemana. Mungkin ada keperluan mendesak.”

Itu bukan mimpi.

Lana merasakan tubuhnya memanas dan gelisah. Tapi ia tahu, ia tidak perlu pengukur suhu untuk memastikan apakah panas dan gelisah itu berasal dari penyakit fisiknya atau bukan. Ditekannya ponsel itu untuk memperdengarkan nada dering bising itu.

“Ini baru nada deringnya calon dokter!” Lana teringat ucapan Yosi ketika menanggapi protes gadis itu akan ulahnya.

“Kalau begitu, kenapa bukan kau sendiri yang memakainya!”

“Tidak perlu. Aku sudah dokter dari sananya.” Lana teringat dirinya langsung mencubit gemas lengan atas pemuda itu hadiah ucapan berbau narsistiknya. “Lagi pula, supaya kau selalu ingat padaku setiap mendengarnya,” lanjut Yosi sambil mengelus lengan korban aksi cubitan maut Lana.

Tentu saja Lana menganggapnya hanya bercanda. Mana pernah sih, seorang Yosiah Tanudjaya serius dengan ucapannya? Namun Lana sadar, ucapan itu tidak akan pernah dilupanya mulai saat ini dan mungkin untuk waktu yang sangat lama. Hujan dan sirene bising itu akan selalu mengingatkannya pada sosok berkacamata yang selalu tersenyum jahil.

————————————

Poli = kependekan dari poliklinik.

follow up = memeriksa keadaan dan perkembangan pasien.

preklinik =  tahap perkuliah sebelum masuk dalam kepaniteraan klinik.

ditem = diukur suhu badan.

Faringitis = radang tenggorokan.