RANIIII…!!”

Aku menggertakkan gigi, menahan emosi. Suara cempreng itu berasal dari depan rumahku dan segera membuyarkan lamunan indahku yang sudah kurangkai sejak tadi. Tenang. Tenang. Masa pagi-pagi begini harus bete. Aku tetap cuek merapikan rambutku dengan bantuan cermin.

“RANIII…!!”

Pikirkan Roy, Rani. Pikirkan betapa gantengnya dia kemarin, waktu memintamu menjadi pacarnya di restoran tepi pantai Ancol kemarin.

“RANIII..!! MAU SEKOLAH NGGAK SIH!!”

Roy pasti akan kelihatan luar biasa ganteng hari ini, Rani. Dengan senyumannya yang mempesona. Bayangkan, semua cewek-cewek satu sekolah pasti iri!

“RANIII…!!! IH DASAR KEBO!! MOLOR MELULU KERJANYA!!

Aku tidak tahan lagi. Dengan kesal kubanting sisirku masuk ke dalam tas sekolahku, lalu beranjak menuju jendela kamar. Kusibak gordennya dan kusorong jendela kaca itu sampai terbuka. Tampak bocah sialan berbaju merah putih itu menyengir jahil menatapku memamerkan deretan giginya yang putih.

“Pagi, Putri Kebo! Baru bangun ya?”

“Suara cempreng begitu bisa bikin mayat sekuburan bangun!” semburku. “Berangkat aja sendiri! Ngapain teriak-teriak depan rumah orang! Dasar nggak tau malu!”

“Eh siapa bilang nggak punya? Gue punya kemaluan kok. Rani mau lihat?” Ia siap membuka ritsleting celananya.

Aduh! Bener-bener gila bocah satu ini. Ia benar-benar menikmati rona merah di wajahku. Terbesit keinginan untuk menantangnya. Aku mengenal Adrian, bocah tetanggaku yang kurang ajar itu, ia tidak bisa ditantang. Tetapi bisa-bisa aku dianggap merusak anak orang.

Aku pun memutuskan untuk tidak ikut-ikutan sinting seperti anak itu. Lagipula aku kan lebih tua, seharusnya aku bersikap lebih dewasa menghadapinya. Aku ingat di salah satu buku yang kubaca. Teknik untuk menahan emosi. Menarik nafas lalu membuangnya. Tarik lagi, lalu buang.

Adrian menatapku bingung. “Kok kayak orang beranak,” celetuknya.

Emosiku langsung melejit lebih dari sebelumnya, pasti mampu bikin gosong telor mata sapi. Banteng matador pun pasti kalah keras dengusannya dengan dengusanku. Begitu pula si setan Sadako, pasti kaget bila melihat pelototan mataku saat itu.

“ADRRIIAANNN!!!!!!!!!”

******

Nia tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya begitu kuceritakan kejadian tadi pagi di kantin sewaktu istirahat. Sampaikan beberapa anak melirik tertarik ke arah meja kami.

Aku langsung merengut kesal. Sahabatku yang satu ini memang tidak kenal belas kasihan dalam hal menertawakanku. “Gue serius, Ni!” seruku gemas. “Anak sotoy itu bener-bener bikin gue gila! Mana kurang ajar, lagi! Nggak mau sama sekali manggil gue kakak kek, mbak kek. Padahal beda empat tahun, tapi manggilnya, Raniii!'” Aku memonyongkan bibirku menirukan suara cepreng Adrian.

Nia menjawil lengan bajuku dan menunjukkan sosok tinggi tampan yang sudah berdiri di sampingku. Aku langsung membelalak dan rasa malu datang menghampiriku. Sialan! Rio pasti melihat aku dalam keadaan nggak manis dengan memonyong-monyongkan bibir begitu.

“Kamu tambah manis deh dengan bibir monyong begitu,” godanya sambil duduk di sebelahku.

Nia memutar bola matanya. “Kayanya gue jadi nyamuk di sini.”

Aku hampir tidak mendengar sindiran Nia, terlalu terpesona dengan Rio, the most wanted boy of the year. Aku rela semalaman memonyongkan bibirku asalkan bisa mendengarnya menyebutku ‘manis’.

“Besok ada waktu nggak, Say? Kita nonton yuk.”

Aku langsung menganguk-anguk semangat. Apapun untukmu, Rio!

“Oke. Janji ya,” Rio mengedipkan mata menebarkan pesonanya padaku dan aku merelakan diriku tenggelam di dalamnya. Masa bodoh dengan Nia yang menyindir membuat suara nyamuk.

“Ngung ngung ngung…”

******

“Eh, Ran. Gue liat kemarin lo nonton berdua sama cowok. Itu cowok lo?”

Aku mendelik ke arah Adrian. Seperti biasa, ia dan ibunya, Tante Mimi, main ke rumah kami. Tante Mimi memang teman ngerumpi Mama dan sering membuat kue bareng seperti saat ini. Aku dan Adrian yang kebetulan sama-sama anak tunggal, ikut membantu mereka di dapur. Sementara para ibu sedang sibuk hahahihi sendiri di salah satu sudut dapur, kami berdiri bersebelahan dengan tangan belepotan adonan kue.

“Emang apa urusan lo?” tanyaku judes.

“Beneran udah jadian sama cowok itu?” Adrian bersikukuh dengan pertanyaannya.

“Iya! Emang kenapa?”

“Putusin aja!”

Aku langsung kaget dengan perkataannya yang tegas, lugas dan tanpa ampun. Putusin? Emang dikiranya segampang mutusin kolor pake gunting?

“Apa?!”

“Lo berlagak budek ya?” ujar Adrian cuek. “Putusin aja! Cowok itu nggak beres!”

Aku menyipitkan mataku menatapnya. “Maksud lo?”

Adrian terdiam sejenak, lalu menyengir sambil mengedipkan matanya genit. “Maksud gue, kan udah ada gue!”

Entah sudah berapa kali aku melotot sejak mengenal Adrian. Lama-lama bisa lepas juga bola mataku ini. “Lo gila ya?”

“Iya, tergila-gila sama lo,” Matanya mengerling jenaka.

“Siapa yang mau sama anak kecil!” tukasku sinis.

“Gue nggak keberatan kok sama tante-tante.”

Tanpa pikir panjang langsung kulumuri wajah tengil itu dengan adonan kue di tanganku, disusul dengan teriakan Mama.

“Raniii..!! Kamu apain anak orang?!”

*****

“Padahal dulu dia anak yang lucu, yang selalu ngikutin gue kemana pun gue pergi, tapi sekarang… nyebelin banget! Masih kelas enam tapi lagaknya sok tua!” Aku menatap Nia yang nampaknya diam saja menatapku sambil cengar-cengir nggak jelas. “Eh! Lo dengerin gue nggak sih?!”

“Denger kok. Denger. Dari tadi lo cerita soal bronis lo terus,” Nia menatapku tanpa arti.

Aku melotot lagi (belakangan ini aku benar-benar sering melotot). “Bronis?! Jangan gila deh!”

Nia terkekeh-kekeh. “Belakangan ini lo lebih banyak ngomongin si Adri daripada Roy.”

Apa?! Aku tak sangka ternyata nampak begitu di depan mata Nia. Syok juga mendengarnya. Bisa kubayangkan muka bocah tengil itu jika mendengar perkataan Nia barusan. Memikirkannya membuatku sebal. Lupakan! Lupakan! Lupakan! Hari ini aku ada kencan lagi dengan Roy. Roy bilang ingin membelikan adik perempuannya hadiah ulangtahun, makanya dia memintaku menemaninya.

Pulang sekolah, aku sampai terkaget-kaget melihat Adrian menungguku di depan gerbang. Walaupun kami sering berangkat bareng karena sekolah kami satu kompleks, tapi kami hampir tidak pernah pulang bareng. Jam pulang SD dan SMU jelas berbeda jauh. Tumben-tumbenan dia menungguku di sini.

“Hai,” sapanya ceria. “Pulang bareng yuk, Ran.”

“Nggak bisa, Dri. Hari ini mau kencan sama ROY.” Sengaja kutekankan suaraku saat menyebut nama Roy dan seperti yang kuduga, wajah ceria itu berubah mengerut. “Dia mau minta tolong gue milihin kado buat adik ceweknya.” Wajah itu semakin mengerut. Ho ho ho.. si bocah cemburu. Senang sekali bisa menggodanya seperti ini.

“Hah? Adik cewek?!”

“Iya!” sahutku ceria. Kemudian kudengar suara Roy memanggilku dari halaman parkir. Ia sudah siap dengan motornya. “Sudah ya.” Aku pun meninggalkan Adrian yang kurasakan tatapannya di belakang punggungku.

*********