Fiona menghela nafas panjang setelah menutup pintu kamarnya dan bersandar di sana. Banyak hal yang terjadi dalam beberapa minggu ini cukup mengguncang-guncang jiwanya. Melakukan laporan pada Jenderal Zephar lah yang paling mengganggunya.

Lama tidak melihatnya, sang jenderal masih tampak gagah di usianya yang sudah kepala lima. Rambut putihnya semakin bertambah tetapi kharismanya masih tetap ada, bahkan mungkin bertambah berkat rambut putihnya. Hanya saja, Fiona merasa, sorot matanya tidak lagi sama seperti dulu. Mata yang hangat dan bersinar setiap kali Fiona memanggilnya ‘Ayah’. Sudah berapa lama kah sejak itu? Dua tahun? Tiga tahun? Empat tahun? Bahkan Fiona sudah berhenti bertanya-tanya alasan perubahan sifat ayahnya itu.

Cukuplah soal itu. Fiona tidak ingin memikirkannya lagi. Ia beranjak dari sana dan masuk ke kamar mandi. Dengan cepat dilepasnya seragam perwiranya dan masuk ke dalam pancuran air hangat dengan sedikit harapan, air pancuran yang membasahi tubuhnya bisa membawa pergi semua kegundahan hatinya.

Selesai mandi, hanya berbalutkan jubah mandi, ia duduk di depan cermin menyisir rambutnya. Gadis di dalam cermin itu nampak kusam dan muram, rambut panjangnya nampak kusut, membuat Fiona bertanya-tanya, sudah berapa lama berlalu sejak ia merawat dirinya? Sebagai seorang perwira menengah, waktunya banyak tersita untuk pekerjaannya. Yang ada di sekelilingnya kalau bukan orang-orang tua petinggi militer ya medan perang atau mayat bergelimpangan.

Fiona menghela nafas. “Aku jadi lemah.”, gumamnya. Mungkin pertemuan dengan ayahnya tadi siang membuatnya sedikit melankolis. Tiba-tiba tanpa sengaja, matanya tertuju pada liontin berbatu putih yang terpantul di cerminnya. Ia pun beranjak dan meraih batu putih yang tergeletak di meja kecil sebelah tempat tidurnya.

“Dari mana kau mendapatkan batu itu?!”

Sosok tampan bermata hijau dingin yang mengatakan kalimat itu langsung menghampiri ingatannya. Fiona hanya bertemu dengan Cyant dua kali dan dua kali pula, ia berhutang nyawa pada pemuda itu.

Cyant selalu menatapnya dingin penuh permusuhan, karena Fiona adalah sang penjajah dan Cyant adalah si terjajah. Tetapi anehnya, Fiona tidak keberatan. Ada rasa nyaman dan aman ketika Fiona berada di dekat dengan pemuda itu, seakan mereka sudah lama saling mengenal. Ingin rasanya membawa jiwa dan raganya berjumpa lagi dengan pemuda itu.

Seketika batu putih itu bersinar terang mengejutkannya. Begitu terang hingga ia mengira matanya telah buta. Sinar itu perlahan-lahan memudar setelah beberapa detik sehingga Fiona bisa membuka matanya perlahan-lahan dan ia membeku melihat sosok yang terbaring di tempat tidurnya.

Apakah ia bermimpi?

Sosok itu nampak terluka dengan perban membelit dada dan kepalanya, dan sama terkejutnya dengan Fiona. Mata hijaunya membelalak kaget. Beberapa saat kemudian, kata-katanya memecah keheningan, “Kau… apa yang kau lakukan di sini?”

“Cyant..? Kau terluka?” Sejenak Fiona tidak peduli dengan apa yang terjadi. Ia hanya peduli dengan apa yang dilihatnya. Cyant terbaring lemah di sana. Bercak-bercak darah di perban-perban itu membuatnya cemas.

Cyant mendengus pelan. “Bukan urusanmu, Skier.” Ia melengos. “Lebih baik kau menjelaskan mengapa kau ada di kapal Ed dan dengan hanya memakai baju minim begitu.”

Wajah Fiona langsung merona merah dan spontan menggunakan tangannya menutupi tubuhnya. “Maaf.”, ucapnya spontan. Tunggu dulu. Mengapa ia harus minta maaf? Ini kan kamarnya dan Cyant lah si penyusup. Fiona juga merasakan ada yang aneh dengan kata-kata Cyant.

“Cyant, ini bukan kapal Ed. Ini markas militer Sky Imperium.”

Pemuda itu kembali melotot kaget. “Apa! Tidak mungkin! Ini klinik Skidbladnir.”

“Batu itu..”, cetus Fiona.

“Apa?”

Diperlihatkannya liontin batu putihnya pada Cyant. “Batu ini bersinar sebelum tiba-tiba kan berbaring di tempat tidurku.”

Cyant terdiam. Tatapannya terpaku pada Fiona membuat dada gadis itu berdesir aneh. Kemudian pemuda itu membuka salah satu genggamannya dan memperlihatkan isinya. Batu yang sama dengan milik Fiona, hanya saja berwarna merah. “Hal yang sama terjadi pada batu ini.”, gumamnya lebih pada dirinya sendiri. “Apa yang terjadi?”

Selagi Cyant tenggelam dalam pikirannya, Fiona menatap pemuda itu dan merasakan desiran di dadanya semakin kuat. Ia sedang memikirkan pemuda itu saat memegang batu putih itu dan berharap bisa berjumpa dengannya. Mungkinkah batu ajaib itu merespon apa yang ada di dalam hatinya.

“Apa yang kau pikirkan sewaktu menggenggam batu itu?” Pertanyaan blak-blakan itu langsung membuat wajah Fiona terasa semakin memanas.

“A..apa?”

“Kau dengar aku.”, sahut Cyant dengan suara dinginnya yang biasa.

Fiona terdiam. Menimbang-nimbang apakah ia akan memberitahu Cyant yang sebenarnya atau tidak.

“Aku sedikit teringat padamu.”, ujar Cyant sebelum Fiona selesai berpikir. Suaranya terdengar sedikit melembut. Atau memang cuma perasaan Fiona saja?

Kenyataan Cyant ternyata sedang memikirkannya -walaupun hanya sedikit- membuat Fiona merasakan sukacita yang amat sangat dan sangat sulit menyembunyikannya. “A..aku juga sedikit teringat padamu.” Suaranya pasti kedengaran aneh di telinga Cyant.

Jika Cyant pada saat yang sama sedang memikirkannya, apakah kedua batu itu merespon keinginannya dan Cyant karena kebetulan mereka memiliki pikiran yang sama? Fiona menatap Cyant dan menemukan pemuda itu sedang menatapnya. Nampaknya pemuda itu pun berpikiran sama.