Pagi berganti siang.

Siang berganti malam.

Hujan deras datang menemani malam.

Tapi aku hanya duduk di sini memandangi titik-titik air yang menari-nari di jendela ruang kerjaku. Tak ada minat untuk bergerak. Rasanya seluruh tubuhku terikat oleh kekuatan tak terlihat di kursi ini. Bahkan hanya sekedar berteriak untuk menghilangkan frustasiku saja rasanya aku malas, hanya mampu menghela nafas.

Di depanku komputer masih menyala sejak pagi, namun hanya beberapa kali kusentuh. Ide yang sudah berbulan-bulan ada di kepalaku sudah menunggu untuk ditumpahkan, tetapi aku tidak bisa memulainya. Seakan apa yang mengganjal di dadaku yang terasa nyeri ini, kini menjalar ke otak. Aku jadi bertanya-tanya.

Apakah cinta adalah sejenis kanker?

Aku mendesah sekali lagi. Wajahnya terus menerus menghantuiku. Semakin lama semakin parah. Hari pertama satu kali lipat, hari kedua dua kali lipat, hari ketiga tiga kali lipat, begitu seterusnya. Dan ini adalah hari kedua puluh.

Padahal aku lah yang memintanya pergi.  Memintanya jangan menemuiku lagi. Meyakinkannya bahwa aku tidak mungkin mengkhianati sahabatku. Membuatnya membenci diriku…

Yang kurasakan ini begitu rumit. Bukan hanya sekedar kenyataan bahwa ia adalah milik sahabatku. Bukan sekedar rasa bersalahku kepadanya. Bagaimana pun juga, perasaan ini terlarang. Yang tidak seharusnya terjadi di antara kami. Dia tidak akan memahaminya dan demi kebahagiaannya, aku pun tidak akan membiarkannya memahaminya. Biarlah aku yang menderita. Ini adalah penebusan dosa masa laluku kepadanya.

KRIIING!!

Suara bel pintu membuyarkan lamunanku. Kubiarkan berbunyi beberapa kali, dengan maksud supaya siapa pun yang ada di luar sana, segera pergi.

Dan suara bel itu pun berhenti. Aku menghela nafas lega.

KRING! KRING! KRING!

Aku mengeram kesal dan memaksa diriku bangkit dari kursiku. Aku bersumpah akan mencari gara-gara dengan siapa pun yang ada di luar pintuku dan ketika orang itu terpancing emosinya, maka aku akan dengan senang hati meninju mukanya.

Kubuka pintu dengan kasar dan bersiap memaki, namun melihat sosok yang ada di depan pintuku, semua kata-kata yang sudah ada di mulutku lenyap tak berbekas.

“Hai.”, ujar dia tersenyum gugup. Tetapi beberapa saat setelah ia menatapku tanpa berkedip, dia berseru, “Astaga. Apa yang terjadi padamu?” Dia tidak membuang waktu dan menyerbu masuk ke dalam apartemen-ku. Dan kembali terkesiap melihat tempat tinggalku. “Astaga! Apa baru saja ada pesawat mendarat darurat di sini?”

Aku hanya bisa bengong seperti orang bodoh melihat dia mulai membenahi apartemenku. Tenggorokanku terasa tercekik, tak bisa mengeluarkan suara apapun. Ya Tuhan, selama dua puluh hari yang bisa kulihat hanya bayangan dirinya. Tetapi kini di depanku gadis itu ada dan nyata. Kurasakan kekosongan hatiku perlahan-lahan terisi, mengembalikan fungsi otakku yang sudah hibernasi berhari-hari. Namun sebaliknya, dalam diriku hinggap rasa mendamba yang tidak mungkin bisa terpuaskan.

Kehadirannya membuatku bertanya-tanya, apakah ia sudah lupa dengan apa yang kukatakan padanya tiga minggu yang lalu.

“Kenapa kau ada di sini?”

Sialan! Kenapa dari semua pilihan, kalimat itu lah yang kupilih untuk kukatakan padanya sekarang?!

Dia menghentikan aktivitasnya sejenak dan menatapku dengan tatapan tak terbaca. “Bukankah saya adalah ilustrator bukumu?”

“Membersihkan apartemenku bukan salah satu pekerjaan ilustrator.” Aku mengutuki diriku sendiri. Lagi-lagi kalimat sinis yang keluar dari mulut sialanku ini.

“Tapi supaya kamu segera menyelesaikan karyamu, kamu butuh bantuan untuk membereskan sarangmu ini.”, katanya sambil mengangkat bahu, lalu melanjutkan aktivitasnya.

“Dead line masih seminggu lagi.”, ujarku tidak mau kalah. “Kau tidak perlu datang kemari. Aku yang akan mengantarnya sendiri ke Pak Charlie. Dia pasti akan segera meneleponmu begitu naskahku tiba di tangannya.”

“Bukan ‘masih’.” Dia kini mengerutkan alis menatapku seakan-akan aku gila. “Tetapi ‘tinggal’ seminggu lagi.”

Tapi kenyataannya aku memang hampir gila melihat alisnya yang berkerut itu. Aku memejamkan mataku untuk mengendalikan diri supaya tidak menyerbunya dan membawanya dalam dekapanku.

Nampaknya aku malah membuatnya menghampiriku dan bertanya dengan nada khawatir, “Ada apa? Kau sakit?”

Apakah dia tidak sadar bahwa dirinya lah yang membuatku sakit, sekaligus menyembuhkan diriku?

“Aku tidak apa-apa.” Aku harus menyuruhnya segera pulang sekarang, tetapi mengapa kata-kata itu tidak bisa keluar?

Dia menyentuh tanganku dan aku spontan menarik diri. Aku tidak berani menatapnya, tetapi aku tahu dia sedang menatapku. Kami pun larut dalam keheningan. Suara guntur yang berseru kencang pun tidak mampu memecahkan keheningan itu.

Tak disangka, keheningan itu akhirnya terpecah oleh suara ponsel dari tasnya. Dia mengambilnya dan diam sejenak membaca pesan elektronik. Dari raut wajahnya saja, aku tahu dari siapa pesan itu.

“Rama bilang, dia sedang dalam perjalanan kemari. Lima menit lagi sampai.”

“Oh, baguslah. Aku memang ingin dia kemari.” Aku tertawa. Memang sebaiknya sahabatku itu ada di sini. Aku pun memutuskan untuk melanjutkan pekerjaanku. “Baiklah, kau boleh melakukan apapun yang kau inginkan, termasuk membereskan apartemenku atau apapun aku tidak peduli. Asalkan kau jangan menggang…”

Aku tersentak.

Punggungku merasakan hangat dan kelembutan tubuhnya. Jari-jarinya yang erat melingkar di sekeliling pinggangku gemetar. Degup jantung kami seakan menjadi satu.

“Sebentar saja.”, bisiknya.

Kurasakan punggungku basah karena air matanya. Aku tidak mampu berkata-kata.

Dia mendengus tertawa getir. “Saya memang bodoh. Padahal kamu sudah bilang tidak menginginkan saya.”

Aku tetap diam. Aku ingin menikmati momen yang singkat ini. Lima menit. Ini adalah waktu kami dan siapa pun tidak berhak mengambilnya dari kami.

KRIIING!!

Tanda waktu kami telah berakhir. Dia melepaskan pelukannya dan menyeka air matanya. “Mungkin sebaiknya saya mencuci muka.” Dia memberikan senyuman sekilas padaku sebelum berlalu.

Aku menghela nafas panjang sebelum membuka pintu. Dalam diriku berkecamuk berbagai macam perasaan, namun tanpa bisa kucegah, bahagia adalah yang paling dominan. Memasang topeng senyuman, aku membuka pintu dan berkata dengan riang.

“Hai.”

Rama berdiri di sana. Nampak gagah dengan setelan jas mahalnya. “Aku menjemput dia,” katanya. Ya, sang pemiliknya yang asli.

“Mau masuk, Ram?” tanyaku berbasa-basi.

“Tidak usah. Mau langsung mengajaknya makan malam. Kau mau ikut?”

Aku mengeleleng. “Masih ada pekerjaan.”

Kemudian sahabatku menatapku lekat-lekat. “Hmm…kau kelihatan berantakan, tapi juga senang. Apa ada sesuatu yang menyenangkan?”

Aku tidak langsung menjawabnya. Terdiam karena pertanyaan itu. Apakah perubahan suasana hatiku begitu kentara di hadapannya. “Yah, pekerjaanku hampir selesai,” jawabku akhirnya.

Kemudian dari belakangku, dia muncul. Sudah siap berangkat. Wajahnya nampak biasa-biasa saja, seakan tidak terjadi apapun sebelumnya di antara kami. Ia tersenyum sekilas padaku. Dan sahabatku membawanya pergi.

Apartemenku kembali sepi, seperti juga hatiku. Namun kekosongan itu tidak sama seperti sebelumnya. Didorong oleh perasaan yang hampir peuh, aku menghampiri meja kerjaku, duduk dan mulai mengetik. Ide mulai mengalir deras di dalam kepalaku.

Dua puluh hari aku sakit dan lima menit adalah obatnya. Bukan sembarang lima menit. Tapi lima menit bersamanya.