Farrel menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah bercat putih. Rumah itu tidak sebesar rumahnya dan tidak buruk untuk dijadikan tempat tinggal, tapi ia tidak akan mau tinggal di tempat sumpek seperti ini. Sebuah mobil diparkir di halamannya yang kecil menandakan sang tuan rumah ada di tempat. Seorang gadis remaja berpakaian lusuh keluar membukakan pagar begitu ia menunggu sejenak setelah menekan bel. “Selamat malam, Mas Farrel.”, ucapnya takut-takut.

“Karel ada?”

“Ada, Mas. Bapak dan Ibu juga ada.” Gadis itu membimbingnya masuk dan duduk di sebuah ruangan seukuran kamar mandinya dengan kursi sofa yang lumayan empuk. Terdapat foto keluarga di dinding dimana ibunya berfoto di sana, sambil menggendong seorang bayi mungil, bersama Karel dan seorang pria.

“Farrel.”

Farrel menoleh ke arah suara itu. Ibunya tersenyum menyambutnya dengan seorang bayi sedang tertidur dalam gendongannya. Ya, setelah bercerai dengan ayahnya, ibunya menikah lagi dan setelah 5 tahun pernikahan itu, barulah ibu dan suami barunya memiliki anak. Ayah tirinya bukanlah orang kaya seperti ayahnya, karena itu Farrel tidak pernah habis pikir, mengapa ibunya meninggalkan keluarga mereka demi kemiskinan seperti ini? Kendati hubungannya dengan ibunya sudah membaik, tetapi ia masih belum sepenuhnya memaafkan ibunya. Setidaknya ia sudi datang ke rumah ini walaupun semata-mata karena Karel.

“Karel kenapa, Ma?”, tanya Farrel tanpa basa-basi.

“Badannya panas sejak kemarin dan tadi ia mengigau memanggil namamu.”

“Dimana dia?” “Di kamarnya bersama Oom Darwin.” Darwin adalah ayah tirinya.

Tanpa banyak bicara, Farrel melangkah menuju kamar Karel. Sembari berjalan, ia melirik ke bayi perempuan dalam gendongan ibunya. Tania memang bayi yang cantik tetapi Farrel tidak sedikit pun merasa bayi itu adiknya.

Karel nampak sedang tidur di ranjangnya yang berseprai Spiderman. Kompres es berteger di dahinya untuk melawan panas tubuhnya. Darwin nampak duduk di sisi ranjangnya. Ekspresinya antara cemas dan lega begitu melihat Farrel datang. “Farrel sudah datang rupanya.” Pria itu tersenyum tidak mempedulikan tatapan dingin Farrel.

Suami ibunya ini memang memiliki sifat pendiam dan batas kesabaran yang luar biasa, sehingga sulit untuk membencinya sebenarnya. Tetapi bagaimana pun juga, bagi Farrel, Darwin lah penghancur keluarganya. Ia tidak bisa tidak membenci pria itu.

“Karel.” Farrel menggenggam jari-jari mungilnya. “Aku di sini.”

Adiknya membuka matanya, begitu melihat kakaknya, Karel pun tersenyum. “Kak Farrel.” Farrel menghela nafas lega. Dirasakannya ibunya dan Darwin meninggalkan ruangan itu supaya kakak beradik itu bisa berbicara lebih leluasa.

“Apa yang terjadi? Kok bisa sakit begini?”

Karel terdiam sejenak lalu menjawab. “Mungkin karena kemarin aku hujan-hujanan, Kak. Karena minjamin payung sama teman.”

“Kamu jangan buat Kakak khawatir dong.”, desah Farrel. “Kamu harus bisa jaga diri. Kan sudah kelas dua.”

Karel meringis. “Iya, Kak. Mama juga marahin aku, tapi Daddy sama sekali ga marah. Katanya jadi anak laki-laki harus gagah, harus bisa lindungin anak perempuan.” Ia terlihat tersipu-sipu. Karel memang memanggil ‘daddy’ pada Darwin, untuk membedakannya dengan panggilan ‘papa’ pada ayah kandung mereka.

“Oh, jadi teman yang dipinjamin payung itu cewek.” Farrel tertawa. Ia mengusap sayang kepala adiknya.

Karel menatap Farrel tak berkedip. Terlihat sekali ia menimbang-nimbang ingin mengatakan sesuatu. “Kak.” Akhirnya ia memutuskan untuk mengatakannya. “Kenapa Kakak tidak mau tinggal bersamaku di sini? Aku selalu kangen sama Kakak.”

Mana mungkin Farrel sudi tinggal bersama dua orang yang telah melukai hatinya begitu parah di masa lalu itu. Ayahnya mungkin orang sibuk yang jarang di rumah dan tidak mempedulikannya, tetapi bukan ayahnya yang berselingkuh, bukan ayahnya yang meninggalkannya, bukan beliau pula yang menghancurkan keluarga mereka. Tapi ia tidak mungkin mengatakan hal ini pada Karel. “Karel, ini sudah malam. Kakak pulang dulu ya.”, ujarnya menghindari pertanyaan Karel.

Adiknya menganguk kemudian memejamkan matanya. Ia pun beranjak keluar dari kamar itu. Di ruang tamu, ibunya dan ayah tirinya sedang duduk menunggunya.

“Terima kasih ya, Farrel.” Darwin tersenyum padanya. Matanya terlihat tulus, namun membuatnya semakin jijik pada pria itu.

“Datanglah sering-sering untuk menemui Karel.”, ujar ibunya. “Ia sering merindukanmu.”

Farrel tidak menanggapi keduanya.

“Farrel.”

Apa lagi sih!

“Mama mohon, jangan minum-minum lagi.”

Hmm…mencoba jadi ibu yang baik rupanya. Ditatapnya wajah ibunya dingin. Lagi-lagi ia tidak mengatakan apapun. Hanya mengangkat bahu lalu berlalu. Ia masuk ke dalam mobilnya dan melihat jam digital sudah menunjukkan pukul 11 malam. Dinyalakannya mesin mobil itu. Sekilas dilihatnya ibunya berdiri di pagar menatapnya menjauh. Persetan! Farrel tidak peduli. Ia memacu mobilnya ke pub tempat teman-temannya sudah menunggunya, tempat dimana semua masalahnya dapat dikirimnya ke dunia mimpi.

–000–