Farrel sudah menguap mendengar cerita Erick tentang kisahnya bersama pacar terakhirnya. Erick langsung mendelik padanya. “Tega banget lu. Cerita seru begini malah nguap!”

“Ah, si bos mah sudah ada Mira yang seksi.”, tukas Denis sambil menelan ludah dengan mata menerawang nakal. Entah apa yang sedang dibayangkan si idiot satu ini. “Ya kan, Bos? Aduh!” Denis langsung menatap protes pada pemukul kepalanya, Lukman.

“Berisik banget sih lu berdua.”, tukas Lukman. “Sudah sana, belikan nasi Bu Gembrot. Gue nasi kuning. Lu apa, Rel?” Farrel menyebutkan pesanannya, diikuti Erick.

Denis pun menggerutu sambil menjentikkan jari memanggil anak kelas satu yang kelihatan polos dan melimpahkan tugas membeli makanan pada anak itu. Anak itu terbengong-bengong ketika Denis menyuruhnya begitu saja.

“Apa lagi?!”, decak Denis kesal.

“Umm.. U..uangnya, Bos Denis?”

“Urusan kecil digede-gedein! Pake aja duit lu! Udah, cepat pergi sana! Gak pake lama! Atau lu mau ngerasain ini?!”, bentak Denis sambil menunjukkan kepalan tinjunya. Anak itu langsung ketakutan dan langsung melesat pergi dan Denis pun tersenyum puas.

“Gara-gara semalam dugem ya?”, tanya Lukman pada Farrel. Farrel mengiyakan sambil menguap lagi.

“Sama siapa? Kok ga ngajak-ngajak?”, protes Erick sambil melirik Denis yang nampak cengar-cengir bangga. “Tega lu bertiga!”

“Lah, lu kan lagi asyik masyuk sama cewek baru lu.”

“Oh iya.”

“Kemarin gue juga sebenarnya malas.”, ujar Farrel sambil merebahkan kepalanya di meja.

“Tapi si gendut itu butuh pelajaran. Ada yang mergokin dia sering mangkal di kafe sebelah pub.”, sambung Denis berapi-api.

Erick langsung mengerti, Farrel memang bermasalah dengan seorang anak kelas tiga. Denis pun langsung nyerocos tentang betapa kuatnya Farrel sewaktu menghajar anak itu. “Habis itu kita langsung main ke sebelahnya sampai pagi.”

Farrel menguap lebar begitu makanan mereka datang. Anak kelas satu itu segera menyingkir setelah Denis mengusirnya.

“Makanya minum kopi, Rel.”, tukas Lukman tertawa. “Lu kelihatan mirip zombie, tahu gak?”

“Lu kan tahu, perut gue gak tahan sama kopi.”

“Tapi sama Martini tahan.”, gelak Erick.

Farrel tertawa sambil membuka kaleng minumannya dan di saat itu lah ia melihat Tasya datang bersama dengan anak baru itu. Perhatian langsung ke arah gadis itu. Semakin lama memperhatikannya, semakin Farrel yakin bahwa ia pernah melihat gadis itu sebelumnya tetapi ia memang tidak ingat dimana dan kapan. Ia pun memakan makanannya cepat-cepat hingga membuat teman-temannya heran.

“Lapar apa doyan, Rel?”

Tidak ditanggapinya omongan Erick, ia bangkit berdiri sambil mengisyaratkan teman-temannya ikut berdiri. Begitu melihat gadis baru itu, mereka pun menurut tanpa berkata apa-apa.

Seperti biasanya, berlaku istilah konyol Denis, ‘bila Farrel mendekat, maka korban memucat’. Farrel sebenarnya tidak begitu suka istilah itu, tetapi sering terbukti benar, khususnya di saat ini. Tiga orang teman sekelasnya yang bersama anak baru itu nampak sepucat tikus yang dipojokkan kucing, tetapi anak baru itu -dibandingkan pucat- lebih tepat bila memakai istilah bingung.

“Hei!” Farrel tanpa basa-basi. “Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”

“Hah?” Hanya itu yang terucap dari bibir gadis itu, selanjutnya bengong menatap Farrel sehingga membuatnya sebal.

“Ditanya malah bengong!”, bentak Farrel. “Punya otak gak sih…?”

“Saya tidak pernah bertemu denganmu sebelumnya.” Daripada menjawab, lebih tepat dibilang menyela. Gadis itu kini menatap Farrel dengan tegas. Yah, memang inilah yang sering dilakukan oleh orang yang tidak tahu reputasi dirinya sebagai penguasa sekolah. Tetapi dengan sedikit gertakan, ia biasanya bisa langsung mengendalikan situasi.

Denis langsung menjitak kepala gadis dengan kasar. “Heh! Nyolot banget sih lu! Gak bisa jawabnya baik-baik?”

Gadis itu kelihatan tidak suka dan hendak menepis tangan Denis, tetapi di saat itu lah Tasya langsung berdiri dan berkata dengan suara agak gugup. “Ah! A..aku baru ingat! Lita, kita kan belum keliling sekolah! Farrel, Denis, semuanya, maaf ya. Kami harus segera pergi. Tahu kan, salah satu tugas ketua kelas itu harus memperkenalkan sekolah ini kepada anak baru.” Tasya langsung menarik tangan anak baru itu dan berlalu dari situ. Begitu pula dengan Hestin dan Heri.

“Heh! Tunggu..!”

“Tidak usah. Biarkan saja mereka.” Farrel menahan Denis. Kemudian mereka menyadari seisi kantin sedang menonton kejadian kecil itu.

“Apa lihat-lihat!”, teriak Denis. “Mau ngerasain ini!” Ia mengacung-acungkan kepalan tinjunya lagi. Kontan serentak seisi kantin langsung menghentikan tatapan mereka dan melanjutkan apapun aktivitas mereka sebelumnya.

Lukman menatap Farrel sambil mendengus tertawa. “Dengar ga cara ngomongnya?”

“Formal tapi manis.” Erick masih menatap punggung Tasya dan anak baru itu yang sudah jauh. Entah apa yang dimaksud manis oleh Erick, cara bicaranya atau hal lain. “Jangan-jangan asalnya dari pelosok Sukabumi.”

“Kampungan! Belagu!”, desis Denis. “Bos, perlu dikasih pelajaran gak?”

Farrel tersenyum jahat. “Makanya gue bilang, gue lagi bosan.”

–ooo–

Lita menghempaskan dirinya di tempat tidurnya. Masih terngiang di telinganya apa yang dikatakan Tasya ketika mereka kabur dari kantin. Mereka memang tidak berkeliling sekolah karena waktu istirahat akan segera berakhir, tetapi Tasya menggunakan alasan itu untuk menghindari masalah dengan Farrel.

“Farrel itu bisa dibilang penguasa sekolah ini. Guru-guru saja takut sama dia.”

Pertanyaan Lita langsung terjawab seketika itu juga. Alasan mengapa Bu Sisca tidak menegur Farrel yang tidak memberi salam. “Mengapa bisa begitu?”

“Ayahnya Farrel itu yang punya yayasan sekolah ini. Makanya seberapa banyak pun ia buat masalah, ia tidak bakal dikeluarkan dan tidak bakal dihukum guru.” Tasya menoleh ke kanan dan ke kiri, kelihatan cemas. “Selain itu, geng mereka itu suka sekali menyiksa orang untuk bersenang-senang, membuat satu sekolah memusuhimu dan lebih parahnya lagi, mereka melakukannya dengan diam-diam sehingga tidak terdeteksi guru. Ya, tepatnya sih, guru-guru itu bukannya tidak tahu, tetapi mereka menutup mata karena mereka pandai menyembunyikan bukti.”

“Lalu mengapa kamu kelihatan seperti orang yang ketakutan, Tasya?”

Tasya menatap anak baru yang polos itu lurus-lurus. “Karena mata-mata mereka banyak, Lita. Dia bukan orang yang kau inginkan menjadi musuh.”

Lita terdiam sejenak. Rupanya hari pertamanya bukanlah awal yang baik. Ia memang tadi terbawa emosi karena perlakuan tidak sopan salah seorang anak buah si mata dingin itu dan kelihatannya si mata dingin tidak akan membiarkan masalah ini begitu saja.

Tasya juga bercerita bahwa pernah ada guru yang melawan Farrel, tetapi entah bagaimana caranya, guru itu akhirnya mengundurkan diri dan masih ada beberapa cerita lainnya. Terus terang semua cerita itu membuat Lita takut tetapi ia teringat akan ayahnya dan Pak Har yang baik hati. Bagaimana pun juga Lita harus menghadapinya tanpa menyusahkan mereka.

“Lita!”

Suara panggilan itu menyadarkannya dari lamunan. Gadis itu segera beranjak menuju dapur, asal suara itu. Seorang wanita tua bertubuh gemuk berdaster merah berdiri di sana. Rambutnya yang memutih dan dikonde basah oleh peluh karena habis memasak. Pak Har memang menawari Lita dan ayahnya tinggal di tempat yang sudah disediakan oleh beliau tetapi untunglah Lita ingat bahwa Oma, ibu dari ayahnya, memang tinggal di Bandung. Walaupun rumah Oma agak jauh dari HB, tetapi Lita lebih senang tinggal di rumah Oma daripada lebih banyak menerima kebaikan Pak Har.

Nampaknya Oma tidak melihat Lita datang, maka gadis itu menghampirinya sambil melihat-lihat masakannya. “Masak apa, Oma?”

“Oh, ini… cuma sayur asam kesukaan papamu.”, sahut Oma sambil mengangkat wajan dan menuangkan isinya ke sebuah mangkuk. “Coba kau tengok papamu sana.”

Lita menganguk dengan riang dan langsung menuju kamar tempat ayahnya berbaring. Terdengar suara berita di televisi dan ayahnya nampak sedang memejamkan matanya. Jantung Lita langsung berdegup panik, tubuhnya menegang, namun begitu dilihatnya dada ayahnya bergerak naik turun, ia langsung merasa lega. Rupanya beliau sedang tidur.

Ia pun duduk di kursi sebelah ranjang itu. Disentuhnya dengan lembut tangan ayahnya. “Pa, makanan sudah siap.” Mata itu perlahan-lahan membuka dan menatapnya. Sudut bibir itu juga tertarik sedikit. Lita pun tahu, ayahnya sedang tersenyum melihatnya. “Nanti Lita suapin ya, Pa. Sambil cerita tentang hari pertama Lita.”

Tak lama Oma masuk membawakan semangkuk sayur asam dan Lita mulai menyuapi ayahnya ditemani Oma.

“Oma tidak makan?”, tanya Lita. Wanita tua itu nampak sedang memperhatikan mereka.

“Oma juga kepingin mendengar cerita Lita di sekolah.”

Lita tertawa. “Oma menguping ya?”

Oma pun ikut tertawa. “Kamu sudah punya teman, Lita?”

Lita menganguk. “Ya, namanya Tasya. Dia ketua kelas Lita. Orangnya berkacamata dan kelihatan pintar.”

“Kapan-kapan ajak main ke rumah.”, ujar Oma. “Papamu juga senang kalau rumah jadi ramai.” Mata ayahnya mengerling tanda setuju.

Gadis itu pun tersenyum. “Ya, kapan-kapan akan Lita ajak.”

“Jangan lupa juga, sesekali mampir ke tempat Pak Har, bawakan oleh-oleh. Jangan sampai kita dikira mau bertamu kalau hanya ada maunya.” Gadis itu juga mengiyakan.

Oma meminta Lita bercerita seperti apa sekolahnya dan Lita pun menceritakannya dengan ceria, tentu saja tanpa menyebut-nyebut soal Farrel dan gengnya. Itu bukan masalah Oma, bukan masalah Papa dan bukan pula masalah Pak Har. Itu masalahnya dan harus dirinya lah yang menyelesaikannya.

–ooo–