Begitu bel istirahat berbunyi dan Bu Sisca keluar setelah sebelumnya memberikan mereka pekerjaan rumah, bagaikan kawanan sapi menemukan rumput, anak-anak kelas II-1 langsung berhamburan keluar kelas. Lita pun merasakan keheranan kedua, di sekolahnya yang dulu, bila ada anak baru, anak-anak sekelas pasti akan segera mengerubunginya seperti semut dan mulai memperkenalkan diri serta bertanya macam-macam. Apalagi kalau yang datang cantik atau ganteng, kaum lawan jenis lah yang lebih agresif bertanya. Lita tidak pernah merasa dirinya cantik tetapi ia tahu bahwa ia tidak jelek, setidaknya dulu ayahnya sering bilang bahwa dirinya cantik mirip dengan almahrumah ibunya. Eh, tapi itu tidak ada hubungannya kan?

Seakan mengerti kebingungan Lita, Tasya mengajaknya pergi ke kantin. “Kita ke kantin yuk. Sekalian habis makan, kalau masih ada waktu, aku antar kau keliling sekolah.”

Lita menganguk. “Terima kasih, Tasya.”

Tasya tertawa. “Jangan formal begitu ah, Lit. Aku jadi ikut-ikutan tegang nih.”

Setidaknya masih ada yang mau berbincang dengannya. Lita langsung merasa bersyukur dan yakin bisa berteman dengan gadis berkacamata ini.

Kantin sekolah terletak di bangunan kecil di belakang gedung kelas. Aneka makanannya bermacam-macam, sampai-sampai Lita merasa ia berada di supermarket, bukan di sekolahan. Anak-anak HB sudah ramai mengantri dan memesan makanan, bahkan meja kantin pun sudah terisi penuh.

“Mau makan apa, Lita?”, tanya Tasya. Matanya berkeliling mencari makanan yang tepat.

“hmm.. tidak tahu, Tas.” Boro-boro berpikir ingin makan, pusing rasanya berada di keramaian seperti ini.

“Sebenarnya aku ingin makan nasi Bu Dewi tapi kayanya udah keramean deh.” Tasya berucap lebih kepada dirinya sendiri sambil menatapi salah satu kios makanan yang ramai dikerubungi anak-anak kelaparan. Mata juga berkeliaran mencari meja kosong. “Tidak ada meja kosong juga!”, keluhnya.

“Tasya!”

Mereka berdua pun menoleh ke salah satu meja arah suara itu. Nampak seorang anak laki-laki dan anak perempuan berambut panjang duduk di sana. Yang perempuan melambaikan tangan ke arah mereka. Tasya pun mengajak Lita menghampiri mereka.

“Lita, ini Hestin dan Heri, pasangan bodoh di kelas kita.”

Hestin langsung mencubit lengan Tasya sambil menjabat tangan Lita. “Jangan dengerin ketua badut ini, Lit.”

“Bener, kita ini kan pasangan paling mesra di HB, ya kan, cay?”, sambung Heri mengedip genit ke arah pacarnya dan dibalas dengan kedipan lagi oleh gadis itu.

Tasya langsung berlagak pusing sambil memegang pundak Lita. “Aduh, mual aku, ngeliatin pasangan norak ini.”

“Mau kursi gak? Udah dicariin malah menghina.”, ancam Hestin. “Mendingan buat selonjoran kaki kita ya, cay.”

Buru-buru Tasya mengubah suara penuh rayuan. “Eh eh! Ampun, ampun, Nona Besar Hestin yang paling cantik. Makasih banyak udah nyariin kita kursi. Sebagai balasan, sini aku cubit-cubit pipinya yang montok.”

Lita dan Heri pun tertawa melihat Hestin teriak-teriak sambil melindungi kedua pipinya dari tangan ganas Tasya.

“Sudah ah bercandanya. Sudah dapat makan belum?”, tanya Heri.

“Mungkin makan pempek saja deh.”, ujar Tasya. “Kamu, Lit?”

Lita memandangi kios-kios makanan yang bertebaran dan nampak kebingungan. Bukan karena pilihan makanan yang terlalu banyak, Lita juga tidak tahu harga makanan di sini. Pak Har memang sudah memberinya uang saku tetapi ia tidak tahu cukup atau tidak untuk salah satu porsi makanan. Tentu harganya lebih mahal dibandingkan makanan di kantin sekolahnya yang dulu, kan?

“Hmm.. saya makan roti saja.”, ujar Lita akhirnya. “Tidak begitu lapar.” Cepat-cepat ia menambahkan karena ketiga teman barunya itu memandangnya heran.

“Oke.”, kata Tasya langsung berdiri. “Tunggu di sini saja ya. Aku yang akan belikan.” Gadis itu pun langsung melesat dan hilang dalam keramaian.

Sepeninggal Tasya, bertiga dengan Hestin dan Heri, Lita pun langsung larut dalam obrolan. Kebanyakan Hestin yang berbicara, tepatnya bertanya tentang dirinya.

“Oh, jadi mantan majikan ayahmu yang menyekolahkanmu di sini!” Hestin terkejut dan langsung memandang Heri.

“Ssstt, cay! Suaranya kekencengan!”, tegur anak lelaki itu.

“Ups, sori.”

Lita membenarkan dan tiba-tiba merasa minder berada di tengah-tengah kumpulan orang kaya. “Begitulah.”

“Mau gak, kita bilangin?” Heri berkata-kata serius.

Tubuh Lita langsung terasa menegang, karena Hestin pun nampak menatapnya lekat-lekat serius. Ia pun menganguk.

“Jangan bilang kau masuk sini karena dibiayai majikan ayahmu pada anak-anak lain. Bilang saja ayahmu kerja di luar kota jadi direktur atau apa kek!”

“Eh? Mengapa begitu?”

“Karena…” Hestin menjawab hampir berbisik sambil melirik ke kiri dan ke kanan. “…anak-anak di sini kebanyakan melihat ‘ini’” Gadis itu menggesekkan jari telunjuk dan jempolnya. Lita mengenalinya sebagai isyarat ‘uang’. Hatinya langsung mencelos.

“Hei, kalian bicara apa?” Ketiganya melonjak kaget dan langsung lega begitu melihat ternyata Tasya yang datang. “Gak ngomongin aku kan?”

Gadis itu langsung duduk menaruh nampan berisi semangkuk pempek, dua bungkus roti dan dua botol air mineral. “Nih, cepetan dimakan.”, ujarnya sambil menaruh bungkusan roti dan air mineral di hadapan Lita. “Supaya nanti sempat keliling sekolah.” Tak beberapa lama, gadis itu sudah melahap pempeknya sambil sesekali mencubit Hestin yang gencar menggodanya.

Sayangnya nafsu makan Lita sudah hilang semuanya. Hanya karena tidak enak pada Tasya yang sudah susah payah mengantri, ia berusaha menghabiskan kedua rotinya. Di sela tawa teman-teman barunya, ia melamun. Sesekali ia memang ikut tersenyum ketika ada yang melontarkan lelucon walaupun tidak terlalu mendengar. Pertanyaan berkutat di kepalanya. Demi mendapatkan teman, haruskah ia berbohong?

Tiba-tiba pandangan Lita yang menerawang terhalang oleh seseorang dan begitu sadar ia dan teman-temannya sudah dikerubungi oleh empat orang anak laki-laki. Tasya, Hestin dan Heri nampak panik dan gugup sehingga gadis itu langsung tahu bahwa ini bukan pertanda baik.

“Hei!” Suara bernada memerintah terdengar dari salah satu anak. Lita menoleh dan mengenalinya sebagai si mata dingin yang duduk di pojok kiri kelas. Kelihatannya ia adalah si pemimpin geng. “Apa kita pernah ketemu sebelumnya?”

“Hah?” Lita tertegun mendengar pertanyaan aneh itu. Apakah pernah bertemu sebelumnya? Diamatinya wajah si mata dingin. Tampan, tapi sayang…kelihatannya galak. Memorinya tidak mengenali wajah itu selain sebagai orang yang baru saja dilihatnya beberapa jam lalu di kelas.
–ooo–