Bandung, Februari 2000

Dentang jam sejumlah tujuh kali baru saja terdengar lima belas menit yang lalu, tetapi Farrel sudah menguap lebih dari dua puluh kali. Hari itu hujan turun cukup deras sehingga menciptakan suasana yang sangat mendukung untuk tidur. Berbagai macam suara berseliweran di seluruh penjuru kelas II-1 karena walaupun sudah jam masuk tetapi belum ada guru yang masuk ke kelas mereka.

“Bos.” Suara dan sentuhan Denis yang duduk di sebelahnya membangunkan Farrel yang hampir pulas. Begitu matanya membuka sedikit dan mengarah tajam ke arah anak itu, Denis menelan ludahnya gugup dan berkata, “I..itu, Bos. Bu Sis…Sisca s..sudah masuk…”

“Ada anak baru, Rel.” Lukman yang duduk di depan Farrel, buru-buru menyela kata-kata Denis yang terbata-bata mirip orang gagu. Teman-temannya tahu Farrel tidak suka dibangunkan dari tidurnya walaupun ada guru yang masuk. Toh, para guru itu pun tidak akan lagi mengganggunya karena mereka sudah hampir menganggapnya tidak ada.

“Berdiri! Beri hormat!” Terdengar seruan ketua kelas.

“Lumayan juga.”, ujar Erick yang duduk di sebelah Lukman di sela-sela pemberian salam selamat pagi itu.

Farrel yang memang hampir tidak pernah ikut berdiri itu pun mengangkat kepalanya dan mengalihkan tatapannya dari Denis, ke arah depan kelas. Nampak olehnya Bu Sisca sedang memperkenalkan seorang anak perempuan berambut panjang. “Selamat pagi. Anak-anak, hari ini kalian mendapat teman baru. Nah, Pelita, ayo perkenalkan dirimu.”

Gadis itu menganguk malu-malu, tetapi matanya yang bulat besar nampak bersemangat. “Se..selamat pagi. Na…nama saya Pelita. Pindahan dari Sukabumi. Sa..saya berharap bisa menjadi teman kalian.”

“Nah, kamu biasa dipanggil apa sebelumnya, Pelita?”, tanya Bu Sisca.

“Lita, Bu.” Gadis itu sedikit menunduk hormat pada sang guru, membuat Farrel langsung teringat pada sikap hormat pembantunya di rumah. Segera ia memperhatikan penampilan anak baru itu dengan seksama. Dia memang sudah memakai seragam sekolah ini, tetapi penampilannya biasa. Terlalu biasa untuk ukuran rata-rata murid perempuan di sekolah ini. Tidak ada satu pun perhiasan yang menempel di tubuh gadis itu. Biasanya murid sekolah ini selalu heboh pamer dandanan dan perhiasan sana sini. Maklum, SMU Harapan Bangsa ini –yang sering disingkat HB- memang sekolah swasta elit yang terkenal dengan biaya SPP-nya yang mahal karena itu anak-anak HB kebanyakan berasal dari keluarga serba ada yang mampu memfasilitasi anak-anaknya dengan pernak-pernik mewah.

“Cantik juga. Walaupun gayanya mirip pembantu di rumah.” Farrel mendengar bisikan Erick yang setengah menoleh ke belakang. Dari raut mukanya saja, Farrel sudah tahu apa isi otak si playboy temannya ini. “Tapi kayaknya kurang menantang nih. Cewek model begitu sih, pasti gampang dapatnya.”

“Sok tahu. Penampilan bisa menipu.”, ujar Lukman.

“Aku sih ogah. Kelihatannya anak miskin.”, tukas Denis lalu menoleh meminta persetujuan Farrel. “Ya kan, Bos?”

Farrel tidak menjawab. Ia memang tidak terlalu mendengar obrolan ketiga temannya karena sedang memperhatikan si anak baru. Sesaat tatapannya beradu dengan gadis itu dan Farrel merasakan ada yang familiar dengannya. Tetapi gadis itu langsung mengalihkan pandangannya dari Farrel, kemudian rupanya ia menemukan tempat duduknya di sebelah Tasya, si ketua kelas.

“Bosan nih.”, gumam Farrel. Ketiga temannya spontan menoleh ke arahnya dengan wajah terkejut. Itu merupakan kata sandi keempat sekawan itu.

“Serius nih?”, tanya Erick. “Kita kan belum tahu siapa dia.”

“Tidak usah cari tahu.”, sahut Farrel. Ia menyunggingkan senyuman yang biasanya dicirikan Denis sebagai senyuman jahat. Jempolnya ditunjukkannya pada dirinya. “Sudah tahu.”

“Kapan kita mulai?”, tanya Lukman nampak tak sabar.

“Pasti akan tiba saatnya.”

Sementara itu Bu Sisca mulai menginstruksikan murid-muridnya membaca buku teks mereka.

-ooo-

Lita tidak akan pernah melupakan senja kedatangan Pak Har ke rumah tempat tinggalnya bersama ayahnya. Pak Har, yang adalah mantan majikan Arifin di perkebunan teh, menawarkan diri untuk membantu biaya pengobatan Arifin yang pensiun dari pekerjaannya sebagai mandor karena sakit stroke. Ini merupakan berkah, mengingat biaya pengobatan stroke cukup mahal dan sulit ditanggung oleh keluarga Arifin yang hanya terdiri dari Arifin dan Lita, anak perempuannya yang masih berusia enam belas tahun.

“Ayahmu sudah banyak membantuku sewaktu menjadi pegawaiku di perkebunan selama dua puluh tahun. Itu bukan waktu yang singkat, tetapi terlalu singkat bila harus pensiun di usia empat puluh empat tahun.”, kata Pak Har. Ayah Lita memang berhenti bekerja karena serangan stroke yang menyebabkannya lumpuh.

“T..terima kasih banyak, Pak. Saya tidak tahu harus berkata apa…”, isak Lita. Kedua pipi gadis itu sudah sembab dengan air mata.

Pak Har tersenyum lembut. “Pernah mendengar SMU HB, Lita?”

Bingung dengan Pak Har yang tiba-tiba bertanya, Lita mengangkat kepalanya menatap pria itu dengan tatapan penuh tanda tanya. Tentu saja Lita tahu tentang SMU Harapan Bangsa atau yang disingkat dengan SMU HB. Ia sering kali mendengar nama sekolah itu disebut-sebut sebagai sekolah juara bila ada perlombaan antar sekolah. Konon, lulusan SMU HB mudah diterima di mana-mana. “Ya, saya pernah mendengarnya, Pak.” Akhirnya Lita berhasil mengeluarkan suaranya untuk menjawab setelah mengatasi kebingungannya beberapa saat. Apa maksud dari pertanyaan Pak Har itu?

“Saya ingin memindahkanmu ke SMU HB.”

Lita bagaikan mendapat mimpi di siang bolong. Ia sampai merasa salah mendengar sehingga meminta Pak Har mengulangi kalimatnya. Pria itu pun mengulanginya sambil kelihatan geli.

“Ayahmu kan harus kontrol ke dokter secara teratur. Sulit bila kalian masih tinggal di Sukabumi untuk mendapat dokter yang bagus. Sebaiknya kalian pindah ke Bandung supaya bisa mendapatkan pengobatan terbaik. Nah, sekalian saja kamu saya masukan ke sekolah di Bandung. Saya pernah dengar dari Arifin bahwa kamu anak yang pandai, makanya saya bersedia membiayaimu di sekolah yang bagus.”

Kala itu Lita tidak mampu berkata apa-apa, ia langsung menoleh ke arah ayahnya yang duduk di sebelahnya. Ayahnya memang lumpuh dan tidak bisa bicara tetapi matanya yang beradu dengan mata Lita meneteskan air mata.
Sewaktu pertama kali melihat gedung SMU HB, Lita langsung merasa hatinya menciut. Gedung sekolah itu begitu besar dan megah, dibandingkan dengan sekolah sebelumnya. Selain menyandang peringkat atas daftar sekolah terbaik, Lita mendengar bahwa murid-murid HB kebanyakan adalah anak-anak orang berada, sangat jauh berbeda dengan dirinya.

Kedatangan Lita langsung disambut oleh Pak Halim, pria berdahi licin yang adalah kepala sekolah HB, walaupun ia datang sendiri, tanpa ditemani Pak Har. Mungkin Pak Har sudah menghubunginya mengenai kedatangan Lita. Kemudian Pak Halim memperkenalkan Lita dengan wanita muda yang ternyata adalah wali kelasnya, Bu Sisca.

“Jangan gugup, Pelita. Kamu pasti akan senang bersekolah di sini.”, kata Bu Sisca tersenyum ramah ketika mereka berjalan menyusuri koridor menuju kelas mereka.

Lita berpikir, pasti dari wajahnya kelihatan sekali bahwa ia sangat gugup menghadapi hari pertamanya. Ia langsung menahan nafas, bahkan hampir memekik ketika Bu Sisca membuka pintu sebuah kelas. Lita sempat melirik tulisan di atas pintu. KELAS II-1.

Dari luar, kelas itu terdengar sangat gaduh tetapi begitu pintu terbuka langsung hening seketika. “Berdiri! Beri hormat!”, seru seorang anak perempuan berkacamata yang duduk di barisan dua dari depan paling kanan.

Semua anak berdiri, kecuali seorang anak laki-laki yang duduk di pojok kiri kelas. Ia sedang merebahkan kepalanya di mejanya. Gadis itu merasa heran karena kelakuan itu sudah dianggap biasa oleh kelas ini, bahkan Bu Sisca pun tidak berkomentar apa-apa.

“Selamat pagi, Bu!”

“Selamat pagi.”, balas Bu Sisca. “Anak-anak, hari ini kalian mendapat teman baru. Nah, Pelita, ayo perkenalkan dirimu.”

Kalimat itu langsung membuyarkan lamunan Lita tentang anak laki-laki itu. Ia pun mendadak gugup dan mati-matian berusaha mengatasinya, Lita pun berbicara, “Se..selamat pagi. Na…nama saya Pelita. Pindahan dari Sukabumi. Sa..saya berharap bisa menjadi teman kalian.” Ia mendesah dalam hati. Suaranya pasti kedengaran aneh.

“Nah, kamu biasa dipanggil apa sebelumnya, Pelita?”, tanya Bu Sisca.

“Lita, Bu.”, sahut Lita sambil sedikit menundukkan kepala.

Bu Sisca pun menganguk puas. “Nah, Pelita duduklah di bangku kosong ya.”

Mata Lita langsung menyapu seluruh kelas dan menemukan seorang anak laki-laki yang duduk di pojok belakang sebelah kiri sedang menatapnya. Lita mengenalinya sebagai anak yang tadi tidak ikut memberi hormat pada Bu Sisca. Memang semua anak sedang mengarahkan mata mereka ke arahnya saat ini tetapi ada sesuatu yang membedakan anak-anak lain dengan anak laki-laki itu. Tatapannya terkesan dingin dan tajam membuat gadis itu tidak betah sehingga cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke arah lain dan Lita pun menemukan seorang anak perempuan tersenyum padanya sambil mengisyaratkan untuk duduk di kursi di sebelahnya. Itu ketua kelas yang tadi memimpin ucapan selamat pagi. Senyumannya membuat Lita lupa mengenai si mata dingin.

“Ya, duduklah di sebelah Tasya.” Bu Sisca setuju. “Nah, kalian berteman baik dengan Pelita ya. Kalau ada yang mau kenal lebih dekat dan bertanya padanya, lakukan saat istirahat. Sekarang kita mulai pelajaran kita. Buka buku teks kalian, halaman enam puluh.” Guru itu nampaknya menyadari sikap Lita yang kebingungan. “Tasya, kamu bisa berbagi bukumu dengan Lita?”

“Bisa, Bu.” Tasya pun menoleh pada Lita. “Ayo, gabungkan meja dan kursimu denganku.”

Lita pun balas tersenyum dan melakukannya.

“Namaku Tasya.”, bisik gadis itu di sela-sela pelajaran. “Kau pasti akan senang bersekolah di sini.”

Dua kali ia mendengar kalimat itu dari dua orang yang berbeda sehingga membuat merasa akan ada hal baik yang terjadi padanya ketika ia bersekolah di sini.
-ooo-