Latest Entries »

Graceling (The Seven Kingdoms Trilogy, #1)Graceling by Kristin Cashore
My rating: 3 of 5 stars

Firstly.. this book isn’t meant for young adults. =___=

The idea about sex before married is totally disturbing. I don’t know why in USA, Graceling won many awards in Young Adults Book Category.

Okay, here’s the story.. (Change to Indonesian Language..PeeP..PeeP..)

Katsa, gadis Graceling delapan belas tahun yang memiliki Bakat/Grace Membunuh (Killing Grace). FYI, Graceling adalah sebutan bagi orang-orang yang memiliki kemampuan unik yang disebut Grace. Ciri-ciri Graceling adalah kedua mata mereka memiliki warna yang berbeda. Katsa, dalam hal ini, memiliki warna biru dan cokelat.

Nah, sebagai keponakan Raja Randa of Middluns, Katsa dimanfaatkan habis-habisan oleh sang raja untuk menakut-nakuti musuh-musuhnya. Sampai suatu ketika, Katsa bertemu dengan Pangeran Po dari Kerajaan Lienid yang juga seorang Graceling petarung. Po yang menyadarkan Katsa akan nilai dirinya yang sebenarnya.

Singkatnya Katsa menemukan keberaniannya menentang Randa dan memilih melakukan perjalanan bersama Po. Mereka berangkat untuk mencari motif kejadian penculikan kakek Po. Singkat cerita, petunjuk mereka mengarah pada kerajaan yang paling tidak menarik perhatian. Di sana mereka menyelamatkan Bitterblue, putri kerajaan tersebut yang juga sepupu Po dari kejaran ayahnya.

Dari segi ide dan alur cerita cukup bagus. Intriknya, runutnya bener2 amazing. Benar-benar tidak terpikirkan oleh saya. Hanya saja banyak sekali detail yang diangkat Cashore yang sebenarnya tidak perlu diangkat. Hal ini yang membuat saya sebenarnya agak bosan membacanya. Endingnya bahkan pun bertele-tele.

Lalu..tokoh jahatnya cepat sekali matinya. Sepertinya tidak worthed banget cerita panjang lebar petualangan Katsa jika tokoh jahatnya mati secepat itu. Dan lebih daripada itu, tidak diceritakan apa yang dipikirkan si tokoh jahat. Intinya dia jahat. TITIK. zzzz.. (mungkin karena bakal dibahas di buku prekuelnya kali ya? +__=)

Karakterisasi cukup kuat. Masing-masing karakter seakan tidak dianaktirikan penulisnya. Walaupun saya agak berpikir The Young Bitterblue agak sedikit terlalu dewasa dari yang seharusnya. Yah, itu bukan masalah besar. Jadi termaafkan 😀

Kemudian.. hmm… masalah pemikiran seks bebas. Saya tidak ngerti kenapa bisa si Katsa sampai ngotot banget tidak mau nikah. Hanya karena tidak ingin punya bayi? Oh Please… Lalu sebagai solusi karena ia dan Po sudah saling jatuh cinta, jadilah mereka melakukan seks bebas dan memakai obat supaya Katsa tidak hamil. Haizz! Itu alasan paling tidak masuk akal buatku. Apalagi ini cerita untuk anak remaja!

Kalau lah dia seperti Katniss dalam “Hunger Games Series”, tidak mau menikah dan punya anak karena tidak mau anak-anaknya jadi korban Hunger Games. Itu baru alasan!

Ditambah lagi, Po menawarkan dirinya “dipakai” Katsa sepuasnya….. OMG… ~.~

Mungkin bingung juga melihat kenapa aku memberi bintang 3, tetapi buku ini kumasukkan dalam bookshelves “keren”. Ini pun baru pertama kalinya aku memasukkan buku berbintang 3 ke dalam bookshelves keren.

Karena sebenarnya buku ini memang KEREN. Narasi dan alurnya benar-benar memikatku. Seperti membaca fantasy mistery. TAPIIII….. Ada 2 hal. Pertama karena bertele-tele. Kedua, balik lagi soal masalah pemikiran ala feminist itu. Jika buku ini dikategorikan sebagai buku untuk dewasa. Hmm.. okelah, saya mungkin masih setuju memberi bintang 4, tapi ini.. err… untuk remaja. PLEASE deh. Menampilkan adegan dewasa dan pemikiran seperti itu pada remaja. Aku sangat tidak setuju.

Aku akan membaca buku keduanya, FIRE. Mudah2an lebih baik dari Graceling 🙂

Best regards to Madam Cashore 🙂

View all my reviews

I AM NUMBER FOUR – Hmm…

I Am Number Four (Lorien Legacies, #1)I Am Number Four by Pittacus Lore
My rating: 3 of 5 stars

Alkisah sembilan anak dari Planet Lorien dikirim ke Bumi karena planet mereka diserang Mogadorian dari planet sebelah. Mereka adalah para Garde muda, alias pelindung planet karena memiliki kekuatan istimewa yang disebut Pusaka (nggak tahu nama aslinya apa). Sesuai tata cara di Lorien, mereka didampingi seorang Cepan, mentor dan pembimbing mereka.

Untuk melindungi mereka dari kejaran Mogadorian, sebelum para Garde muda ini berangkat dari Lorien, oleh tetua mereka, mereka dikenai mantera pelindung yang dimana mereka tidak akan bisa dibunuh kecuali dibunuh sesuai urutan. Dan mantera itu akan musnah bila para Garde ini berkumpul di satu tempat.

Tokoh utama kita adalah si nomor empat. Ia tidak punya nama. Awal-awal ia bernama Daniel, tetapi begitu ia berpindah ke tempat lain, ia memilih nama John Smith. Ia tinggal bersama Cepan-nya yang memilih nama Henri.

Cerita diawali dengan adegan tragis pembunuhan terhadap si nomor tiga da Cepan-nya di Kenya, Afrika. Sebuah goresan penanda pun bertambah menjadi tiga pada tubuh si tokoh utama kita ini (selanjutnya akan kupanggil dia, John). Bila salah satu anak Garde berhasil dibunuh, maka akan timbul goresan bekas luka pada para Garde lain secara ajaib, sebagai peringatan. Karena sudah tiba gilirannya dikejar, maka John dan Henri pun memutuskan pindah. Mereka pun memutuskan untuk bersembunyi di sebuah kota kecil bernama Paradise, Ohio.

Di kota ini pun terjadi hal-hal yang belum pernah terjadi sebelumnya di kota-kota yang selama ini disinggahi John dalam pelariannya. Pertama, ia menerima Pusaka pertamanya. Kedua, ia memiliki teman sehati bernama Sam. Ketiga, ia jatuh cinta pada Sarah, teman satu sekolahnya.

Sebenarnya sih, dari ide dan plot yah.. cukup bagus. Tetapi sayangnya aku merasa banyak banget kekurangan dalam cerita ini.

Pertamax, karakterisasi yang sangat kurang. Nyaris jelek. Sam yang awalnya takut karena menyadari John itu alien, tahu-tahu nyaris nggak merasakan apa-apa saat akhirnya diberitahu John kenyataan dirinya dan kaya mati rasa saat melihat kekuatan dahsyat John. Pdahal dia ini kan orang biasa. Walaupun punya rasa persahabatan dengan John dan maniak alien. Masa sih, begitu melihat sendiri kenyataannya, nggak ada rasa takut sedikit pun ==”

Karakter Sarah dan Mark juga idem. Mark cuma dihajar sekali langsung otaknya kaya keganggu dan langsung baik dengan John… hyahh.. ketahuan banget ini cerita klise abiezz 😡

Keduax, ada yang aneh juga dengan cerita sejarahnya. Dikatakan, Lorien membantu Bumi untuk mengembangkan diri. Bukan masalah besar sih, tapi masa nggak ada alasan lain selain alasan “demi kebaikan”… ==”

Ketigax, banyak banget yang nggak dijelaskan secara jelas di novel ini dan sedikit miss logika. Mengapa hanya sembilan anak? Masa nggak bisa lagi ditambah jumlahnya sebagai tumpuan harapan? Okelah, katanya kebetulan mereka ada di tempat roket tersebut. Tapi kenapa pula para Cepan bisa dibekali banyak batu mulia sebagai bekal di bumi? Aduh, lagi buru-buru, sempet ya ngambil2 batu permata di bank gitu? >.<

Kelebihannya, gaya berceritanya oke. Mizan juga menerjemahkannya dengan cukup baik. Nggak berbelit-belit. Aku suka juga dengan kreatifitas idenya. Ini cerita alien generasi baru. Walaupun aku tetap merasa cerita ini ada ber-genre old school. Kisah-kisah khas remaja. Cerita cintanya juga kurasa agak datar, tetapi ya memang itulah khas remaja. Ada pula beberapa peristiwa khas remaja juga yang agak nggak masuk akal tapi dipaksa masuk akal demi berjalannya plot yang diinginkan penulis (a.k.a Diundangnya John dan Sam oleh Mark ke pesta di rumahnya -> supaya terjadi kebakaran -> John menyelamatkan Sarah -> John diekspos wartawan.)

fufufu~ walaupun review-ku ini banyak berisi kritikan, memang ditujukan untuk si penulis. cuma aku malas nulis dalam bahasa inggris. 😄

View all my reviews

Clockwork Angel (The Infernal Devices, #1)Clockwork Angel by Cassandra Clare
My rating: 4 of 5 stars

Buku yang dibeli secara mendadak tanpa perencanaan, saat sedang jalan2 di Gramedia Grand Indonesia. Membelinya karena buku ini terlihat bersinar (dont mind the dark colour covering please) ditambah lagi karena harganya yang terbilang cukup murah sebagai sebuah buku impor baru.
………
Saya gak merasa lebay saat mengatakan bersinar. (okay, maybe just a little bit) karena covernya cukup mengundang. foto cowo pucat misterius berpakaian ala Victorian gentleman, dengan pemandangan kota london kuno. (always love the Old London Setting ^^) Ditambah lagi ukuran panjang dan lebar yang lebih lebar dari seri buku Clare sebelumnya (serial City).

Lalu begitu memasuki ceritanya, gak merasa rugi juga membeli buku ini. Kisah mengenai gadis 16 tahun, Tessa, pergi ke London mencari kakaknya berbekal sepucuk surat dari sang kakak. Sialnya doi malah diculik sepasang Warlock (salah satu ras penghuni dunia bawah) sadis. Namun demikian, ada juga sisi baiknya (atau mungkin buruk) karena Tessa akhirnya mengetahui dirinya seorang Shape shifter a.k.a orang yang bisa mengubah dirinya menjadi orang lain, hanya bermodal menyentuh barang milik orang lain tersebut.
Cerita berlanjut kemudian, begitu ternyata Tessa diselamatkan 3 laki-laki misterius yang ternyata adalah Nephilim (manusia berdarah malaikat).

Sepanjang cerita, agak jarang menemukan adegan2 seru perkelahian seperti halnya dalam sekuel atau serial sebelumnya, serial City. Mungkin dikarenakan tokoh antagonis utama yang tak jelas, sehingga sepanjang cerita penuh dengan penyelidikan-penyelidikan. Namun bisa jadi ini menjadi daya tarik tersendiri bagi buku ini.

Ditambah lagi, tokoh-tokohnya pun lebih kompleks. Pada awalnya memang terasa mirip dengan tipikal tokoh2 serial city. Tessa mirip dengan Clary versi jati diri gak jelas. William mirip Jace versi liar. Jem mirip Alec versi sakit. Jess mirip Isabella versi manja. Charlotte mirip Luke versi cewek. de Quincey mirip Valentine versi vampire. Agak boring sih…

Namun seiring bergulir cerita, walaupun tipikal, kompleksitas yang lebih mendalam membuat tidak terlalu boring juga. Tessa yang tidak jelas jati dirinya, William yang misterius, Jem yang sakit-sakitan, dan tokoh-tokoh lain yang nampak minor, tetapi ternyata memegang peranan cukup besar dalam bergulirnya cerita. Hingga akhir pun masih ada misteri besar yang tidak diungkap Clare dalam seri pertama ini. (terpaksa menunggu buku kedua, tahun depan T_T).

Satu sisi, ending cerita ini pun cukup memuaskan walaupun biasa aja. Agak kurang klimaks. Namun di sisi lain, bisa dibilang tidak jelas. Tak seperti City of Bones, sesuai dengan apa yang sudah saya bilang tadi, misteri yang dikandungnya jauh lebih banyak dan nampaknya berkesan lebih rumit daripada serial city. psstt.. (saya sudah bisa nebak arah cerita serial city.)

Butuh waktu seminggu untuk menghabiskan novel ini, selain karena daily routine, alur yang agak boring, juga karena ketidakrelaan saya menyelesaikan novel sebagus ini. 😛 bukan bermaksud berlebihan, tetapi itulah yang saya rasakan. Setting-an kota London kuno yang cukup detail. Deskripsi suasana yang OK. Bagi saya, itu salah satu kelebihan buku ini.

Sayangnya saat ini belum ada terjemahannya, tetapi rencananya penerbit Ufuk akan menerbitkan terjemahan Indonesia-nya tahun depan. Saya rasa patut ditunggu juga, bagi pembaca yang lebih memilih bahasa persatuan dalam membaca.

Overall, this is an amazing book, but…
Nilai sebenarnya saya beri 5, karena alur gak bisa ditebak dan deskripsi yang apik, tetapi kurang satu, karena ending yang nggantungnya agak keterlaluan dan karakterisasi yang agak2 copas dari serial city. ^^v

View all my reviews

Manjali dan CakrabirawaManjali dan Cakrabirawa by Ayu Utami
My rating: 5 of 5 stars

Sebenarnya sehabis selesai baca “Bilangan Fu”, ingin baca buku non-sastra, tapi… iseng-iseng mencoba ngintip halaman pertama “Manjali dan Cakrabirawa” ini dan…*jrengjreng* ini tulisannya… ~.~

Tuhan.
Itu adalah hari ketika Marja melihat mata malaikat pada paras sahabatnya.

Setelah itu tak bisa menaruh buku ini lagi sampai sepuluh jam kemudian. ==”

Mungkin juga ini soal selera. Saya memang selalu suka roman yang diselingi kisah misteri/teka-teki (atau cerita misteri/teka-teki yang diselingi kisah roman. Karena keduanya sama-sama terasa kuat.)

Berbeda dengan kisah sebelumnya (a.k.a Bilangan Fu), buku ini tidak melulu dipenuhi kalimat-kalimat filosofis dan istilah-istilah ribet. Alur ceritanya pun lebih runut dan tertata seperti roman biasa. Yang lebih kusuka, Marja di novel ini lebih terasa perannya. Berbeda dengan buku sebelumnya, yang keberadaannya seperti dalam bayang-bayang. Rasanya menyenangkan menyelami kompleksitas perasaan Marja terhadap Parangjati dan Yuda.

Dengan memfokuskan diri pada perbedaan misteri dan teka-teki -seperti yang diungkapkan buku sebelumnya, buku ini mewakili skeptisnya anak-anak kota mengenai dongeng-dongeng kuno negeri sendiri. Saya sendiri merasa seperti sedang membaca Da Vinci Code versi lokal. Selama ini selalu merasa kebudayaan dan peninggalan nenek moyang di Ibu Pertiwi ini tidak menarik. Tetapi setelah membaca buku ini, sampai merasa ingin lagi mengunjungi Borobudur atau Prambanan dan melihat bangunan-bangunan sejarah itu dengan kacamata yang berbeda. Seperti halnya Marja, saya pun ikut-ikutan terbuai oleh dongengnya Parangjati 😀

View all my reviews

Bilangan FuBilangan Fu by Ayu Utami

My rating: 4 of 5 stars

Ini buku Ayu Utami pertama yang saya baca. Seperti judul dan isinya, buku ini berada dalam batas buku fiksi dan non fiksi. Antara 0 dan 1, alias si bilangan fu.

Saya akui, salah satu buku terberat yang pernah saya baca. Tidak saja harus membuka hati dan pikiran untuk memahami maknanya, selain itu cukup kaya dengan istilah-istilah baku bahasa Indonesia yang belum pernah saya ketahui sebelumnya. (maklum, bukan pembaca sastra sejati)

Sekalipun begitu, tak seperti biasanya, buku ini sangat memikat bagi saya. Membacanya membuat saya banyak merenung, terbuai dengan macam dongeng lokal yang sebelumnya tak pernah saya tahu, serta tercengang dengan pemikiran Ayu Utami tentang 3M (Monotheisme-Moderenisme-Militerisme) sebagai penyebab keserakahan manusia dan menawarkan pemikiran baru, postmodernisme.

Mengenai alur ceritanya. Cukup menarik dengan kisah cinta segitiga Yuda-Marja-Parangjati, tetapi saya rasa hanya sebagai penyegar. Tak sebanding dengan isu-isu spiritualisme kritis dan pelestarian lingkungan yang diusung buku ini.

Direkomendasikan bagi para penggemar sastra, pemikir kritis, sejarawan dan…. orang-orang fanatik :p

View all my reviews

Sebenarnya menulis resensi, bukan hobi saya.  Sebelum ini pun, resensi mengenai City of Bones sebenarnya untuk keperluan lomba resensi ufukpress. Dan syukur, Puji Tuhan, saya menang juara satu ^o^

Akhirnya jadi sedikit ketarik untuk nulis lagi resensi buku. Dan inilah dia! Buku yang kubaca setelah City of Bones.

ISBN: 978-979-433-580-2
Penerbit: Mizan Media Utama (MMU)
Penerjemah Indonesia: Berliani M. Nugrahani
Desain Sampul: Dodi Rosadi
Terbit: Februari 2010
Halaman: 959 halaman

Sejarah ditulis oleh para pemenang – Winston Churchill

Itulah yang tertulis di sebuah halaman kosong di awal bagian satu. Kata-kata yang tepat untuk menggambarkan sejarah dunia fantasi memukau yang dibangun oleh Trudi Canavan. Ini memang kisah sejarah yang hilang dari trilogi The Black Magician mengenai peperangan antara Kyralia dan Sachaka.

Kisah ini diambil dari lima sudut pandang yang berbeda. Tessia, seorang gadis desa Kyralia yang bercita-cita ingin menjadi seorang penyembuh, namun ternyata memiliki bakat sihir. Dakon, penyihir dan tuan tanah desa kelahiran Tessia. Jayan, murid magang pertama Dakon. Sementara dari pihak Sachaka, ada Stara, seorang gadis berdarah campuran Sachaka-Eleyne yang tak berdaya dibawah kelaliman sang ayah, serta Hanara, seorang budak Sachaka yang mengalami kebebasan tak terduga dari perbudakan.

Dari masing-masing kelima sudut pandang inilah, Trudi Canavan memperlihatkan kebolehannya merangkai sebuah cerita. Saya sebenarnya sudah lama membeli buku ini, karena memang saya pembaca trilogi The Black Magician. Namun karena ketebalannya yang hampir mencapai 1000 halaman, saya mengurungkan niat untuk membacanya langsung dan menaruhnya di rak, hingga beberapa waktu lalu.

Dan begitu saya membuka halamannya yang pertama, saya langsung merasakan seakan ada magnet yang menarik saya untuk terus membaca halaman demi halaman. Pilihan adegan demi adegan yang memukau dan meninggalkan misteri demi misteri, adalah bukti kepiawaian Canavan merangkai kisah. Begitu pula dengan kisah remeh masing-masing tokohnya.

Penggambaran dunia yang begitu detail dan diceritakan tanpa membuat pembaca bosan adalah kelebihan paling utama dalam kisah ini. Dari mulai sejarah singkat hubungan Sachaka dan Kyralia, asal kekuatan sihir, sampai kepada permainan mirip catur untuk penyihir. Kisah politik rumit, namun diceritakan dengan sederhana pun menjadi daya tarik yang lain The Magician Apprentice.

Sayangnya, tokoh-tokoh figuran yang disuguhkan dalam cerita ini sungguh amat banyak, membuat saya agak kesulitan mengingat mereka satu per satu. Namun saya rasa, itu bukan masalah besar, karena hampir semua tokoh figuran pun memiliki peran yang cukup besar dalam jalan cerita.

Akhir kata, pesan yang saya tangkap dari kisah memukau ini adalah kehidupan ini layaknya dua sisi mata uang, layaknya terang dan gelap, hitam dan putih, ada kebaikan dan keburukan.  Kyralia bukanlah pihak baik, dan Sachaka bukanlah pihak yang jahat. Semuanya tergantung dari sudut mana kita melihat suatu niat. Ini mengajarkan kita untuk memperlebar wawasan kita terhadap suatu masalah sebelum menarik sebuah kesimpulan.

Ini adalah salah satu novel fantasi yang saya rasa layak untuk dibaca penggemar cerita fantasi. Rasanya seperti sedang pesiar ke dunia lain, ketika membacanya. Saya tidak akan heran, bila suatu saat akan ada produser film yang tertarik untuk membuat serial televisi dari kisah ini, seperti kisah The Sword of Truth.

Rating: 8/10

YOU Know The Best

The road ahead sure is long.

So I think I should start walking from now.

I’ve said to myself that I won’t stop cause life never stop moving

I won’t run either cause I can’t enjoy the scenery around.

But….

I’m holding YOUR holy hand.

So I will stop when YOU  said stop,

And I, too, will run when YOU said run.

Cause I know, YOU KNOW THE BEST FOR ME

————————

Note:

The writting above is neither a story nor a poet. Just a result from my silence this afternoon…

copas dari kumpulan cerita Seno Gumira. ^^

Kematian paman gober ditunggu-tunggu semua bebek. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang mereka ingin ketahui hanya satu hal : apakah hari ini Paman Gober sudah mati. Paman Gober memang terlalu kuat, terlalu licin, dan bertambah kaya setiap hari. Gudang-gudang uangnya berderet dan semuanya penuh. Setiap hari Paman Gober mandi uang disana, segera setelah menghitung jumlah terakhir kekayaannya, yang tak pernah berhenti bertambah.

Begitu kayanya Paman Gober, sehingga ia tak bisa hafal lagi pabrik apa saja yang dimilikinya. Bila terlihat pabrik di depan matanya, ia hampir selalu berkata, “oh, aku lupa, ternyata aku punya pabrik sepatu.” Kejadian semacam ini terulang di muka pabrik sandal, pabrik rokok, pabrik kapal, pabrik arloji, maupun pabrik tahu-tempe. Boleh dibilang, hampir tidak ada pabrik yang tidak dimiliki Paman Gober. Ibarat kata, uang dicetak hanya untuk mengalir ke gudang uang Paman Gober.

Meskipun kaya raya, anggota klub milyarder no.1, Paman Gober adalah bebek yang sangat pelit. Bahkan kepada keluarganya, Donal bebek, ia tidak pernah memberi bantuan, meski Donal telah bekerja sangat keras, malah Donal ini, beserta keponakan-keponakan nya Kwak, Kwik, dan Kwek, hampir selalu diperas tenaganya, dicuri gagasannya, dan hasilnya tidak pernah dibagi. Cendekiawan jenius Kota Bebek, Lang Ling Lung, yang di muka rumahnya tertera papan nama Penemu, Bisa Ditunggu, pun hampir selalu diakalinya.

Sudah berkali-kali Gerombolan Si berat, tiga serangkai kelas kakap, menggarap gudang uang Paman Gober, namun keberuntungan selalu berada dipihak Paman Gober. Paman Gober tak terkalahkan, bahkan oleh Mimi Hitam, tukang tenung yang suka terbang naik sapu. Sudah beberapa kali Mimi Hitam berhasil merebut Keping Keberuntungan, jimat Paman Gober, namun keping uang logam kumuh itu selalu berhasil direbut kembali. Tidak bisa dipungkiri, Paman Gober memang pekerja keras. Masa mudanya habis dilorong-lorong gua emas. Sebuah gunung emas yang ditemukannya menjadi modal penting yang telah melambungkannya sebagai taipan tak tersaingi dari Kota Bebek.

Suatu hal yang menjadi keprihatinan Nenek Bebek, sesepuh Kota Bebek yang mengasingkan ke sebuah pertanian jauh di luar kota, addalah kenyataan bahwa Paman Gober dicintai anak-anak sedunia. Paman Gober menjadi legenda yang disukai. Paman Gober begitu rakus. Paman Gober begitu pelit. Tapi ia tidak dibenci. Setiap kali ada orang mengecam, menyaingi, pokoknya mengancam reputasi Paman Gober sebagai orang kaya, justru orang itu tidak mendapat simpati. Paman Gober bisa menangis tersedu-sedu meski hanya kehilangan uang satu sen. Ia sama sekalli bukan tokoh teladan, tapi mengapa ia bisa begitu dicintai?

“Dunia sudah jungkir balik,” ujar Nenek Bebek kepada Gus Angsa, yang meski suka makan banyak, sangat malas bekerja. Namun Gus Angsa sudah tertidur sembari bermimpi makan roti apel.

“Suatu hari dia pasti mati,” ujar Kwik.

“Memang pasti, tapi kapan?” Kwak menyahut.

“Kwek!” Hanya itulah yang bisa dikatakan Kwek. Dasar bebek.

Begitulah, setiap hari, Lubas, anjing dirumah Donal, membawa Koran itu dari depan pintu ke ruang tengah.

“Belum mati juga!”

Donal segera membuang lagi Koran itu dengan kesal. Karena memang tiada lagi berita yang bisa dibaca di Koran. Banyak kabar, tapi bukan berita. Banyak kalimat, tapi bukan informasi. Banyak huruf, tapi bukan pengetahuan. Koran-koran telah menjadi kertas, bukan media.

Semua bebek memang menunggu kematian Paman Gober. Itulah kabar terbaik yang mereka harapkan terbaca. Paman Gober sendiri sebenarnya sudah siap untuk mati. Maklumlah, sebagai generasi tua di Kota Bebek, umurnya cukup uzur. Untuk kuburannya sendiri, ia telah membeli sebuah bukit, dan membangun mausoleum di tempat itu. Jadi, bukannya Paman Gober tidak mau mati. Ia sudah siap untuk mati.

“Mestinya, bebek seumur saya ini, biasanya ya sudah tahu diri, siap masuk ke liang kubur. Makanya, ketika saya diminta menjadi Ketua Perkumpulan Unggas Kaya, saya merasakan kegetiran dalam hati saya, sampai beberapa lama saya bisa bertahan? Apa tidak ada bebek lain yang mampu menjadi ketua?”

Kalimat semacam itu masuk ke dalam buku otobiografinya, Pergulatan Batin Gober Bebek, yang menjadi bacaan wajib bebek-bebek yang ingin sukses. Hampir setiap bab dalam buku itu mengisahkan bagaimana Paman Gober memburu kekayaan. Mulai dari harta karun bajak laut, pulau emas, sampai sayuran yang membuat bebek-bebek giat bekerja, meski tidak diberi upah tambahan. Bab terakhir diberi judul Sampai Kapan Saya Berkuasa?. Memang, Paman Gober adalah ketua terlama Perkumpulan Unggas Kaya. Entah kenapa, ia selalu terpilih kembali, meski pemilihan selalu berlangsung seolah-olah demokratis. Begitu seringnya ia terpilih, sampai-sampai seperti tidak ada calon yang lain lagi.

“Terlalu, masak tidak ada bebek lain?”

Paman Gober selalu berbasa-basi. Namun, entah kenapa, kini bebek-bebek menjadi takut. Paman Gober, memang, terlalu berkuasa dan terlalu kaya. Setiap hari yang dilakukannya adalah mandi uang. Ketika Donal Bebek bertanya dengan kritis, mengapa Paman Gober tidak pernah peduli kepada tetangga, bantuan keuangannya kepada Donal segera dihentikan.

“Kamu bebek tidak tahu diri, sudah dibantu, masih meleter pula.”

“Apakah saya tidak punya hak bicara?”

“Bisa, tapi jangan asal meleter, nanti kamu aku sembelih.”

“Aduh, kejam sekali, menyembelih bebek hanya dilakukan manusia.”

“Ah, siapa bilang bebek tidak kalah kejam dari manusia.”

“Lho, manusia makan bebek, apakah bebek makan manusia?”

“Yang jelas manusia bisa makan manusia.”
“Tapi Paman mau menyembelih sesama bebek, apakah sudah mau meniru sifat manusia?”

Paman Gober mempunyai banyak musuh, namun Paman Gober suka memelihara musuh-musuh yang tidak pernah bisa mengalahkannya itu, justru untuk menunjukkan kebesarannya. Paman Gober sering muncul di televisi. Kalau Paman Gober sudah bicara, kamera tidak berani putus, meskipun kalimat-kalimatnya membuat bebek tertidur. Paman Gober selalu menganjurkan bebek bekerja keras, seperti dirinya, dan Paman Gober juga semakin sering menceritakan ulang jasa-jasanya kepada warga Kota Bebek.

“Coba, kalau aku tidak membangun jalan, air mancur, dan monumen, apa jadinya Kota Bebek?”

Tidak ada yang berani melawan. Tidak ada yang berani bicara.

“Paman Gober,” kata Donal suatu hari, kenapa Paman tidak mengundurkan diri saja, pergi ke pertanian seperti Nenek, menyepi, dan merenungkan arti hidup? Sudah waktunya Paman tidak terlibat lagi dengan urusan duniawi.”

“Lho, aku mau saja Donal. Aku mau hidup jauh dari Kota Bebek ini. Memancing, main golf, makan sayur asem, dan membaca butir-butir falsafah hidup bangsa bebek. Tapi, apa mungkin aku menolak untuk dicalonkan? Apa mungkin aku menolak kehormatan yang segenap unggas? Terus terang, sebenarnya sih aku lebih suka mengurus peternakan.”

Maka hari-hari pun berlalu tanpa penggantian pimpinan. Demokrasi berjalan, tapi tidak memikirkan pimpinan, karena memang hanya ada atu pemimpin. Segenap pengurus bisa dipilih berganti-ganti, namun kedudukan Paman Gober tidak pernah dipertanyakan. Para pelajar seperti Kwik, Kwek, dan Kwak menjadi bingung bila membandingkannya dengan sejarah kepemimpinan kota lain. Kota Bebek seolah-olah memiliki pemimpin abadi. Generasi muda yang lahir setelah Paman Gober berkuasa bahkan sudah tidak mengerti lagi, apakah pemimpin itu memang bisa diganti. Mereka pikir keabadian Paman Gober sudah semestinya.

Dan itulah celakanya kanak-kanak mencintai Paman Gober. Riwayat hidup Paman Gober dibikin komik dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Bebek terkaya yang sangat pelit dan rakus ini menjadi teladan baru. Nenek Bebek tidak habis pikir, mengapa pendidikan, yang mestinya semakin canggih, membolehkan budi pekerti seperti itu. Generasi muda ingin meniru Paman Gober, menjadi bebek yang sekaya-kayanya, kalau bisa paling kaya di dunia.

“Paling kaya di dunia?” Kwak bertanya.

“ Iya, paling kaya di dunia,” jawab Nenek Bebek.

“Apakah itu hakikat hidup bebek?”

“Bukan, itu hakikat hidup Paman Gober.”

Sementara itu, nun di gudang uangnya yang sunyi, Paman Gober masih terus menghitung uangnya dari sen ke sen, tidak ditemani siapa-siapa. Matanya telah rabun. Bulunya sudah rontok. Sebetulnya ia sudah pikun, tapi ia bagai tak tergantikan.

Semua bebek menunggu kematian Paman Gober. Tiada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang ingin meraka ketahui hanya satu : apakah hari ini Paman Gober sudah mati. Setiap pagi mereka berharap akan membaca berita Kematian Paman Gober, di halaman pertama.

ISBN: 978-602-8224-80-2
Penerbit: Ufuk Press
Penerjemah Indonesia: Melody Violin
Terbit: 15 Maret 2010
Ukuran: 14 x 20.5 cm
Halaman: 664 halaman
Harga: Rp. 89900

Pernahkah kau melihat sesuatu yang tidak tampak di mata orang lain?

Itulah yang dialami Clary Fray, ketika mengunjungi sebuah diskotik bersama sahabatnya, Simon. Sejak itu dunia Clary berubah drastis. Dimulai dari hilangnya Jocelyn, ibu Clary dan serangan iblis di rumahnya sendiri yang membuat nyawanya nyaris melayang, Clary memasuki dunia baru yang penuh petualangan, namun gelap dan berbahaya. Disana pula, Clary mempelajari kenyataan bahwa dunia ini cukup luas untuk dihuni berbagai macam makhluk selain manusia. Salah satunya adalah Nephilim, manusia berdarah malaikat yang diciptakan Piala Mortal untuk menjadi Pemburu Bayangan, dimana Jace adalah salah satunya.

Bersama dengan pemuda berambut keemasan itu, Clary menghadapi petualangan berbahayanya yang seakan tiada henti, demi menyibak tabir misteri yang menyelubungi segala hal yang terjadi. Mengapa gadis biasa seperti Clary  tiba-tiba mendapatkan “pengelihatan” baru? Mengapa Jocelyn menghilang? Siapakah Valentine yang disebut-sebut sebagai penculik ibunya? Apa hubungannya dengan Piala Mortal? Ketika satu per satu tabir itu disibak, sanggupkah Clary menanggung segala kenyataan yang datang bertubi-tubi? Bagaimana bila kenyataan yang selama ini dipercayainya ternyata adalah kebohongan belaka?

Buku ini adalah buku pertama dari trilogi The Mortal Instrument karangan Cassandra Clare. Bisa dibilang merupakan pembuka dari sebuah kisah fantasi yang panjang. Pada awal membaca, mungkin pembaca akan sedikit bosan dengan banyaknya informasi mengenai dunia yang dibangun Clare ini dan jalan cerita yang nampaknya sederhana dan sudah umum. Namun bila diikuti terus, maka pembaca tidak akan kecewa dengan alur yang disuguhkan Clare. Apalagi deskripsi dunia ini dituliskan cukup detail namun ringkas mampu merangsang pikiran pembaca untuk berimajinasi. Ungkapan “Makin dilihat makin menarik” sangat tepat untuk kisah ini.

Hampir setiap tokoh dalam kisah ini dibahas cukup mendalam mengenai perasaan dan masa lalunya masing-masing, serta memiliki peran yang cukup penting untuk jalan cerita alias tidak akan lewat begitu saja dengan sia-sia, sehingga pembaca akan merasakan penokohan yang cukup kuat untuk masing-masing karakter. Hubungan cinta yang rumit dan menghanyutkan di antara para tokohnya, berhasil diselipkan Clare di sela-sela jalan cerita sebagai penyegar. Selain itu, tema fanatisme yang merupakan salah satu tema utama dalam kisah ini dan mampu membuat pembacanya merenung bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk tidak bersatu. Perbedaan justru membuat hidup ini menjadi lebih berwarna.

Akhir kata, Cassandra Clare benar-benar piawai membuat jalan cerita dengan sedemikian rupa sehingga memukau pembacanya dengan kejutan-kejutan yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya. Ending yang manis dan jalan cerita yang unik inilah yang membuat cukup alasan bagi saya untuk menantikan buku selanjutnya. Bila anda menyukai kisah-kisah fantasi berlatar ghotic seperti Twilight (Stephenie Meyer), Underworld, Blade, Vampire Diaries, maka hampir pasti anda akan menyukai kisah yang satu ini.

Debur ombak tepi pantai menerpa kakiku, yang menjejak di atas pasir putih penghuni abadi daratan penyambut lautan. Suaranya bersatu dengan keceriaan perlahan berkurang oleh turunnya sang mentari siang. Kulihat dari kejauhan sepasang muda mudi bercengkerama mesra di bawah teduhnya pohon kelapa.

Mirip dengan kita tempo dulu

Lagi-lagi aku teringat padamu. Mungkin karena sekelilingku penuh dengan kenangan akan dirimu.

Ah, tidak juga.

Hati yang sudah lama tidak menjadi milikku ini akan selalu mengingat pemiliknya yang mungkin kini sudah berada jauh di seberang pulau. Pagi tadi, burung besi telah membawanya pergi dari Bandara Ngurah Rai.

Masih kuingat jelas semalam

“Apa kau yakin?” tanyamu. “Kau ingin aku tetap bersama dengannya?”

Aku ingat dengan anggukanku. “Aku tidak bisa berbahagia di atas kesedihan wanita lain.”

Kita pun membisu. Hanya terdengar deru ombak di sekeliling kita. Dan dirimu yang disinari cahaya temaram lampu jalan mempesona di mataku.

“Oh, maaf,” ucapku ketika tanpa sengaja menubruk seorang anak yang tengah bermain. Anak itu membalasku dengan senyuman lalu berlari menghampiri ibu dan ayahnya. Pemandangan indah yang membuyarkan lamunanku, sekaligus membuatku tersenyum turut terlarut kebahagiaan mereka namun juga ragu.

Akankah ada kutemukan orang lain selain dirimu membangun keluarga bersamaku?

Sementara itu kakiku terus melangkah membawaku kepada gubuk kecil yang lagi-lagi penuh dengan kenangan akanmu.

Apa kau ingat?

Kita sering duduk di sini menikmati pantai ini. Menanti terbenamnya mentari dan datangnya malam. Lembayung senja selalu mempesona kita.

Lembut suara alam pantai tanpa sadar menenangkan jiwaku. Samar-samar di dalam hatiku, dapat kudengar suaramu bersajak untukku. Sajak yang payah itu.

Ribuan kali kutatap langit senja itu
Warna oranye yang membuat sakit mata
Suara camar memekakkan telinga
Tanda bergegas pulang sebelum terkejar malam

Namun
Datang bidadari bumi
Dan matamu nan indah menyihirku

Cicipi aura misterius pergantian alam
Biarkan lembayung senja menerpa wajahmu

Suara camar alunan musik kita
Bersaksi di batas dua dunia
Terkesima dengan kebesaran Sang Kuasa

Senja ini tak sama lagi
Ini senja kita…

Aku terbangun dan mendapati sekali lagi diriku berada di pergantian dua dunia. Tak ada yang berbeda. Senja tetap berwarna merah keemasan. Dengan pulangnya matahari ke batas cakrawala, warna kelamnya malam bersiap menggatikan. Peristiwa alam ini adalah abadi selamanya. Aku pun sudah terbiasa dengan ketidakhadiranmu.

“Tiara.”

Aku tersentak.

Aku pasti bermimpi.

“Tiara, ini aku.”

Dan aku menemukanmu duduk di sebelahku. Menantiku terbangun dari lelapku dan menikmati senja bersamaku. Kau pun tersenyum padaku, menatapku dengan bola matamu yang kelam itu.

“Ini senja kita,” katamu.

Tak perlu kata
Tak perlu sentuhan raga
Aku tahu kau nyata